OASE
Pelajaran Tauhid dan Sains dalam Surat Al-Anbiya Ayat 1-30 yang Wajib Diketahui Muslim
AKTUALITAS.ID – Al-Qur’an senantiasa menjadi sumber mata air ilmu yang tak pernah kering. Salah satu surat yang sarat akan peringatan teologis dan fakta ilmiah adalah Surat Al-Anbiya, khususnya pada ayat 1 hingga 30.
Dalam rentetan ayat ini, Allah SWT menyoroti tema-tema fundamental mulai dari kedekatan hari kiamat yang sering diabaikan manusia, penegasan tauhid, hingga hakikat penciptaan alam semesta yang menakjubkan.
Merujuk pada Tafsir Ibnu Katsir dan sumber terpercaya lainnya, berikut adalah 5 kandungan utama Surat Al-Anbiya ayat 1-30 yang menjadi panduan memperkuat iman dan ketakwaan.
1. Keajaiban Penciptaan Langit dan Bumi (Ayat 30)
Salah satu ayat paling fenomenal dalam surat ini adalah ayat ke-30, yang sering dikaitkan dengan fakta sains modern. Allah SWT berfirman mengenai asal-usul alam semesta.
Ayat ini menggambarkan bahwa langit dan bumi dulunya adalah satu kesatuan yang padu, kemudian Allah memisahkan keduanya. Dalam tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa pemisahan ini memungkinkan terciptanya udara/atmosfer di antara keduanya, sehingga langit dapat menurunkan hujan dan bumi dapat menumbuhkan tanaman.
Lebih lanjut, ayat ini menegaskan bahwa air adalah sumber kehidupan: “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” Ini adalah bukti nyata kekuasaan Allah yang menciptakan makhluk hidup secara bertahap, membantah anggapan bahwa alam semesta terjadi secara kebetulan.
2. Peringatan Keras: Kiamat Kian Dekat, Manusia Kian Lalai (Ayat 1-2)
Pembuka surat ini (Ayat 1-2) memberikan “tamparan” keras bagi spiritualitas manusia. Allah mengingatkan bahwa hari perhitungan (hisab) semakin dekat, namun mayoritas manusia justru tenggelam dalam kelalaian dan permainan duniawi.
Ibnu Katsir menafsirkan bahwa setiap kali peringatan atau wahyu baru turun, manusia sering meresponsnya dengan keragu-raguan, hati yang terlena, bahkan menganggapnya sebagai bahan olok-olokan.
Ayat ini juga merekam bantahan Allah terhadap orang-orang zalim yang meragukan kenabian Muhammad SAW dengan menuduhnya sebagai penyihir. Padahal, Allah Maha Mendengar dan Mengetahui segala konspirasi yang mereka bisikkan.
3. Rasul Adalah Manusia Biasa, Bukan Malaikat (Ayat 7-9)
Salah satu alasan kaum kafir menolak dakwah adalah karena Rasulullah SAW hanyalah manusia biasa yang makan dan minum. Namun, dalam ayat 7-9, Allah SWT menegaskan bahwa seluruh Rasul yang diutus sebelumnya pun adalah lelaki (manusia), bukan malaikat.
“Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelumnya kepada kamu (Muhammad) kecuali sebagai lelaki-lelaki yang Kami wahyukan kepada mereka.” (QS. Al-Anbiya: 7).
Ini justru merupakan bentuk kasih sayang Allah. Dengan mengutus Rasul dari kalangan manusia, umat dapat lebih mudah memahami dan meneladani ajaran-Nya. Allah juga menegaskan bahwa para Rasul memiliki sifat kemanusiaan (butuh makan dan minum), yang membedakan mereka dengan sifat Tuhan yang tidak butuh apa pun.
4. Al-Qur’an: Sumber Kemuliaan Umat (Ayat 10-15)
Pada ayat 10-15, Allah SWT menekankan posisi Al-Qur’an sebagai Zikrukum. Ibnu Abbas menafsirkan kata ini sebagai “sebab kemuliaan kalian”. Sementara ulama lain seperti Al-Hasan menyebutnya sebagai identitas agama.
Artinya, kemuliaan, kehormatan, dan kebangkitan umat Islam sangat bergantung pada seberapa dekat mereka berpegang teguh pada Al-Qur’an. Jika umat ingin mulia dan dikenal, maka kuncinya ada pada kitab suci yang telah diturunkan ini sebagai petunjuk hidup (pedoman).
5. Dunia Diciptakan Bukan untuk Main-Main (Ayat 16-17)
Ayat 16-17 membantah pandangan nihilisme yang menganggap dunia ini tercipta tanpa tujuan. Allah menegaskan bahwa penciptaan langit dan bumi memiliki hikmah yang besar, bukan sekadar permainan atau kesia-siaan.
Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan, anggapan bahwa dunia ini sia-sia adalah pandangan orang kafir yang kelak akan membawa mereka ke neraka. Jika Allah menghendaki permainan, Dia bisa membuatnya dari sisi-Nya sendiri tanpa perlu menciptakan alam semesta yang rumit dan teratur ini.
Segala sesuatu di dunia ini diciptakan dengan tujuan yang serius: sebagai tempat ujian bagi manusia untuk menyembah Allah sebelum kembali ke akhirat.
Surat Al-Anbiya ayat 1-30 mengajarkan kita untuk tidak terlena dengan kehidupan dunia yang sementara. Di balik megahnya penciptaan alam semesta dari air dan terpisahnya langit-bumi, terdapat Allah Yang Maha Kuasa yang kelak akan menghisab amal kita. Semoga kita termasuk golongan yang mengambil hikmah dari ayat-ayat-Nya. (Mun)
-
NUSANTARA01/02/2026 11:30 WIBKuta Selatan Bali Diguncang Gempa M 4,6, Pusat di Laut
-
DUNIA01/02/2026 15:00 WIBIndonesia Sumbang Rp17 T untuk Rekonstruksi Gaza, Serangan Udara Israel Kembali Tewaskan 32 Orang
-
DUNIA01/02/2026 12:00 WIBIran Siaga Perang! Panglima Militer Ancam Keamanan Israel Jika AS Nekat Menyerang
-
JABODETABEK01/02/2026 07:30 WIBBanjir Rendam Tegal Alur dan Marunda Pagi Ini, Cek Data Wilayah Terdampak
-
POLITIK01/02/2026 10:00 WIBRakernas PSI Berakhir, Misteri Mr J Belum Terpecahkan
-
NUSANTARA01/02/2026 09:30 WIBAsap Kuning Menyebar, Puluhan Warga Cilegon Jadi Korban Kebocoran Gas PT Vopak
-
POLITIK01/02/2026 07:00 WIBMensesneg: Pertemuan Prabowo dengan Tokoh Masyarakat Bahas Penegakan Hukum hingga Pemilu
-
NUSANTARA01/02/2026 15:30 WIBPantai Ujung Batu Padang Berduka, 3 Bocah Tewas Terseret Ombak