Berita
Sepanjang Kudeta Myanmar, 700 Warga Sipil Tewas
Warga sipil yang tewas akibat kerusuhan kudeta militer Myanmar dilaporkan mencapai lebih dari 700 orang per akhir pekan ini. Terlebih terjadi ledakan bom dekat sebuah bank milik militer Myanmar yang melukai seorang petugas keamanan pada Minggu (11/4). Bank Myawaddy di kota Mandalay menjadi sasaran empuk militer Myanmar pada Minggu pagi, menurut AFP. Bank tersebut adalah […]
Warga sipil yang tewas akibat kerusuhan kudeta militer Myanmar dilaporkan mencapai lebih dari 700 orang per akhir pekan ini.
Terlebih terjadi ledakan bom dekat sebuah bank milik militer Myanmar yang melukai seorang petugas keamanan pada Minggu (11/4).
Bank Myawaddy di kota Mandalay menjadi sasaran empuk militer Myanmar pada Minggu pagi, menurut AFP.
Bank tersebut adalah salah satu dari sejumlah bisnis yang dikendalikan militer untuk menghadapi tekanan boikot sejak kudeta. Alhasil, banyak nasabah Bank Myawaddy menuntut untuk menarik tabungan mereka.
Sehari sebelumnya, pasukan keamanan menembak mati dan menewaskan 82 pengunjuk rasa anti-kudeta di kota Bago, 65 kilometer timur laut Yangon.
Berdasarkan rekaman video yang diterima AFP, pada Jumat (9/4) pagi menunjukkan pengunjuk rasa bersembunyi di balik barikade karung pasir dengan senapan rakitan.
Secara keseluruhan, Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (The Assistance Association for Political Prisoners) telah memverifikasi 701 kematian warga sipil sejak kudeta militer 1 Februari 2021 lalu. Sementara junta militer yang tewas berjumlah 248 orang.
Meskipun terjadi pertumpahan darah, pengunjuk rasa terus melakukan aksinya di beberapa wilayah di Myanmar.
Aksi demonstrasi kembali terjadi pada Minggu pagi ini, sejumlah mahasiswa dan dosen berbaris melalui jalan-jalan di Mandalay dan kota Meiktila.
Beberapa dari mereka membawa tangkai bunga Eugenia yang melambangkan kemenangan.
Di Yangon, pengunjuk rasa membawa spanduk bertuliskan, “Kami akan mendapatkan kemenangan, kami akan menang.”
Sementara itu para pengunjuk rasa di kota Monywa menulis pesan bertuliskan, “kita harus menang” dan menyerukan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk ikut andil mencegah pertumpahan darah lebih lanjut.
Seperti diketahui, junta militer Myanmar telah melakukan tindakan keras terhadap pengunjuk rasa di seluruh negeri yang menentang kekuasaan militer. Angkatan bersenjata Myanmar merebut kekuasaan dalam kudeta pada 1 Februari.
-
DUNIA21/03/2026 00:00 WIBIran Izinkan Tiga Negara ini Melintasi Selat Hormuz
-
FOTO21/03/2026 11:11 WIBFOTO: Warga Gunakan Jalan Kawasan Jatinegara untuk Salat Idulfitri
-
NASIONAL21/03/2026 06:00 WIBDasco dan Pejabat Lain Tahan Open House Lebaran
-
JABODETABEK21/03/2026 06:30 WIBKebakaran Pabrik Plastik Jakarta Barat Dipicu Petasan
-
POLITIK21/03/2026 09:00 WIBKPU Komitmen Wujudkan Pemilu Ramah Disabilitas
-
NUSANTARA21/03/2026 09:30 WIBBuruan! Diskon Tiket Feri ASDP Masih Tersedia untuk Arus Balik 2026
-
OASE21/03/2026 05:00 WIBSejarah Idul Fitri dan Amalan Penting Rasulullah
-
POLITIK21/03/2026 10:00 WIBPertemuan Prabowo dan Megawati Bawa Angin Segar Politik RI