Berita
Akhiri Perang Korea, Korut Beri AS-Korsel Syarat
Korea Utara membeberkan sejumlah syarat bagi Amerika Serikat dan Korea Selatan sebelum Pyongyang mau berunding untuk mengakhiri Perang Korea 1950-1953. Melalui media resmi pemerintah KCNA, pemerintahan pimpinan Kim Jong-un itu menuntut AS-Korsel menghentikan “kebijakan bermusuhan” dan standar ganda terhadap Korut. Sebelumnya, Korut menuturkan seruan Korsel untuk mengakhiri Perang Korea yang berlangsung pada 1950-1953 itu terburu-buru. Pyongyang mengatakan sampai saat ini […]
Korea Utara membeberkan sejumlah syarat bagi Amerika Serikat dan Korea Selatan sebelum Pyongyang mau berunding untuk mengakhiri Perang Korea 1950-1953.
Melalui media resmi pemerintah KCNA, pemerintahan pimpinan Kim Jong-un itu menuntut AS-Korsel menghentikan “kebijakan bermusuhan” dan standar ganda terhadap Korut.
Sebelumnya, Korut menuturkan seruan Korsel untuk mengakhiri Perang Korea yang berlangsung pada 1950-1953 itu terburu-buru.
Pyongyang mengatakan sampai saat ini tidak ada jaminan dari Seoul maupun Washington untuk menghentikan sederet “kebijakan bermusuhan” tersebut.
“Tidak ada yang berubah selama ini keadaan politik di sekitar DPRK (Korea Utara) tetap tidak berubah, dan kebijakan permusuhan Amerika Serikat tidak diubah, meskipun seruan menghentikan perang telah dinyatakan ratusan kali,” kata Menteri Luar Negeri Korut, Ri Thae Song, seperti dikutip dilansir Reuters, Jumat (24/9).
“Upaya AS menghentikan standar ganda dan kebijakan bermusuhan adalah prioritas utama dalam menstabilkan situasi semenanjung Korea dan memastikan perdamaian di atasnya,” lanjut Ri.
Kedua Korea memang secara teknis masih berperang. Sebab perang yang terjadi pada 1950-1953 hanya berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Sebelum pernyataan Ri keluar, Presiden Korea Selatan Moon Jae in mengulangi seruannya untuk mengakhiri Perang Korea secara resmi dalam pidatonya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (21/9).
Moon yakin bahwa Pyongyang akan menyadari kepentingannya untuk berdialog dengan Washington. Namun, ia juga pesimistis momen itu akan tiba di masa kepemimpinannya yang akan berakhir pada 2022.
“Tampaknya Korea Utara masih mempertimbangkan pilihan sembari membuka pintu untuk berdialog, karena itu hanya meningkatkan ketegangan pada tingkat rendah, cukup bagi AS untuk tak memutus semua kontak,” kata Moon.
Sementara itu, AS mengatakan ingin diplomasi berkelanjutan untuk menyelesaikan krisis seputar program rudal nuklir dan balistik Korea Utara.
Namun, Korea Utara menolak tawaran AS untuk terlibat dalam dialog.
Uji coba rudal balistik Korea Utara dan Korea Selatan pekan lalu juga semakin memperuncing perlombaan senjata antar keduanya di tengah upaya pembicaraan damai yang tampaknya terus berjalan di tempat.
-
POLITIK17/02/2026 06:00 WIBBamsoet Desak Penataan Ulang Sistem Politik untuk Cegah Korup
-
RIAU17/02/2026 16:00 WIBJelang Imlek dan Ramadan, Dishub Bengkalis Siagakan Lima Armada Roro untuk Layani Lonjakan Arus
-
JABODETABEK17/02/2026 13:30 WIBTiga Pencuri Batik Tulis Rp1,3 Miliar di JCC Senayan Ditangkap Polisi
-
NASIONAL17/02/2026 14:00 WIBKPK Minta Lapor Dewas soal Dugaan Penyidik Minta Rp 10 M Kasus RPTKA
-
NASIONAL17/02/2026 13:00 WIBPDIP Tolak Pengiriman Pasukan ke Gaza tanpa PBB
-
NUSANTARA17/02/2026 08:30 WIBPaman dan Bibi di Surabaya Diduga Aniaya Balita
-
NASIONAL17/02/2026 09:00 WIBSekjen Golkar: Revisi UU KPK Bukan Hanya Inisiatif DPR
-
PAPUA TENGAH17/02/2026 19:15 WIBPatroli Humanis Operasi Damai Cartenz 2026 Perkuat Rasa Aman Warga Sinak