Connect with us

DUNIA

Boncos Lawan Iran! Israel Habiskan Rp108 Triliun dalam 20 Hari Pertama

Aktualitas.id -

Boncos Lawan Iran! Israel Habiskan Rp108 Triliun dalam 20 Hari Pertama, ilustrasi foto: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Militer Israel dilaporkan mulai menggunakan amunisi lawas dalam konflik melawan Iran, di tengah meningkatnya biaya perang sejak pecah pada 28 Februari 2026.

Laporan ini pertama kali diungkap oleh lembaga penyiaran publik Israel, KAN, yang menyebut bahwa militer kini menggunakan amunisi non-presisi yang telah disimpan selama puluhan tahun, bahkan mencapai usia sekitar setengah abad.

Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari strategi efisiensi untuk menekan pengeluaran perang sekaligus mengosongkan gudang penyimpanan senjata. Hingga saat ini, pihak Kementerian Pertahanan Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut.

Sementara itu, Anadolu Agency melaporkan bahwa kekhawatiran publik Israel meningkat seiring melonjaknya biaya perang dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Media Israel, Haaretz, sebelumnya mengungkap bahwa biaya militer dalam 20 hari pertama perang telah mencapai sekitar 6,4 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp100 triliun.

Untuk menutupi kebutuhan tersebut, pemerintah Israel dilaporkan telah mengalokasikan dana tambahan miliaran dolar guna membeli perlengkapan militer mendesak, termasuk sistem pertahanan, di tengah laporan berkurangnya stok rudal pencegat.

Selain itu, angkatan darat Israel disebut tengah bersiap mengajukan tambahan anggaran kepada parlemen, di luar total anggaran perang yang telah mencapai lebih dari 12 miliar dolar AS.

Konflik yang terus memanas ini juga meluas ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, dengan target serangan tidak hanya terbatas pada instalasi militer, tetapi juga fasilitas energi strategis.

Sejumlah pengamat menilai bahwa Iran tengah menerapkan strategi “attrition” atau perang pengurasan, yakni taktik untuk melemahkan lawan melalui tekanan ekonomi dan psikologis dalam jangka panjang.

Strategi tersebut mengandalkan perang berkepanjangan dengan memanfaatkan taktik asimetris dan dukungan kelompok proksi, tanpa harus terlibat langsung dalam pertempuran konvensional skala besar.

Dengan eskalasi yang terus meningkat, konflik ini diperkirakan akan memberikan dampak luas tidak hanya pada stabilitas kawasan, tetapi juga ekonomi global. (Mun)

Continue Reading

TRENDING

Exit mobile version