Connect with us

EKBIS

Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.880 per Dolar AS Pagi Ini

Aktualitas.id -

Ilustrasi, Dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah di pasar spot menguat tipis pada awal perdagangan Kamis (5/3/2026). Mata uang Garuda tercatat berada di kisaran Rp16.880 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat sekitar 12 poin dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.892 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.13 WIB, rupiah menguat sekitar 0,06 persen terhadap dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) justru tercatat naik tipis di level 98,78.

Di kawasan Asia, mayoritas mata uang juga mengalami penguatan terhadap dolar AS. Peso Filipina mencatat kenaikan terbesar sekitar 0,26 persen, disusul yen Jepang yang menguat 0,19 persen. Ringgit Malaysia dan yuan China masing-masing naik sekitar 0,14 persen, sedangkan dolar Taiwan menguat 0,10 persen dan baht Thailand naik sekitar 0,05 persen.

Meski demikian, beberapa mata uang Asia lainnya masih melemah terhadap dolar AS. Won Korea tercatat turun 0,03 persen, dolar Singapura melemah 0,02 persen, dan dolar Hong Kong turun tipis sekitar 0,004 persen.

Di pasar global, pergerakan mata uang juga cenderung beragam. Euro dan pound sterling tercatat menguat tipis masing-masing sekitar 0,06 persen dan 0,07 persen. Sementara franc Swiss melemah sekitar 0,04 persen, serta krona Swedia dan krona Denmark yang juga mengalami pelemahan.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih akan bergerak fluktuatif. Ia memperkirakan rupiah berpotensi ditutup melemah di akhir sesi dengan kisaran Rp16.890 hingga Rp16.940 per dolar AS, bahkan berpeluang menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, dinamika dolar AS masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah. Dolar saat ini mulai tertahan setelah sebelumnya menguat kuat, seiring asumsi pelaku pasar bahwa konflik di Timur Tengah tidak akan berlangsung selama yang dikhawatirkan.

Sentimen pasar juga sempat dipengaruhi oleh kabar kemungkinan pembicaraan untuk mengakhiri konflik. Namun kabar tersebut kemudian dibantah oleh pihak Teheran, sehingga menimbulkan ketidakpastian baru di pasar keuangan global.

Di sisi lain, konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus menambah risiko geopolitik global. Ketegangan meningkat setelah serangan militer yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, serta meningkatnya aktivitas militer di kawasan Teluk.

Iran bahkan mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur penting yang menangani sekitar seperlima pengiriman minyak dunia. Ancaman tersebut memicu kekhawatiran pasar terkait gangguan pasokan energi global.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan bank sentral siap melakukan intervensi di pasar jika diperlukan.

Intervensi tersebut dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga stabilitas rupiah di tengah meningkatnya tekanan global akibat konflik geopolitik dan dinamika pasar keuangan internasional. (Firmansyah/Mun)

TRENDING

Exit mobile version