RAGAM
Gangguan Bicara pada Anak Bisa Jadi Penanda Masalah Pendengaran
AKTUALITAS.ID – Gangguan pendengaran memiliki kaitan yang erat dengan fungsi bicara seorang anak, hal itu dikarenakan pendengaran mendukung kemampuan anak berbicara dalam hal tumbuh kembangnya.
Gangguan bicara sejak dini dapat menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai oleh orang tua sebagai penanda kemungkinan masalah pendengaran pada anak terutama untuk yang belum pernah menjalani skrining pendengaran.
Hal ini disampaikan oleh dokter spesialis THT dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr.Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana dr. Fikry Hamdan Yasin, SP.THTBKL, Subsp.K.(K) dalam siaran langsung di media sosial melalui akun Instagram @rscm.kencana, Rabu.(4/3/2026).
“Biasanya pada anak-anak yang mengalami tuli atau gangguan telinga sejak lahir itu, dia perkembangan bicaranya terganggu juga ya. Misalkan pada usia 6-8 bulan itu dia belum bisa babbling atau ngoceh-ngoceh. Atau dia belum bisa berkata kata-kata yang mengulang seperti mama, papa gitu ya,” kata dokter Fikry.
Meski begitu, tidak semua gangguan bicara menjadi penanda pasti bahwa seorang anak mengalami gangguan pendengaran dan mungkin ternyata anak memiliki pendengaran yang normal.
Hal itu dikarenakan ada banyak faktor lain yang menyebabkan anak mengalami gangguan bicara contohnya seperti screentime yang tidak tepat serta penggunaan bahasa yang tidak konsisten di rumah.
Maka dari itu, orang tua juga harus melihat faktor-faktor lain yang mungkin menjadi penyebab anak mengalami gangguan berbicara sebelum akhirnya mencurigai bahwa hal itu mengindikasikan masalah gangguan pendengaran.
Apabila nantinya terbukti anak mengalami gangguan pendengaran berdasarkan kecurigaan gangguan bicara, dokter Fikry mengatakan salah satu rehabilitasi yang dapat dilakukan ialah terapi pendengaran atau Auditory Verbal Therapy (AVT).
Terapi ini merupakan intervensi dini yang disiapkan khusus membantu anak-anak dengan gangguan pendengaran dengan cara mengembangkan kemampuan mendengar dan berbicara bahasa lisan.
Secara global berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lebih dari 95 juta anak dan remaja dengan rentang usia 5 hingga 19 tahun mengalami gangguan pendengaran yang tidak ditangani dan tidak mendapat akses ke layanan yang dibutuhkan.
WHO juga menyatakan sebenarnya hampir 60 persen masalah telinga dan pendengaran dapat dicegah atau diobati asalkan tersedia pengobatan dari tenaga kesehatan terlatih didukung dengan ketersediaan peralatan dan obat-obatan.
Namun sayangnya, 80 persen penderita gangguan telinga dan pendengaran saat ini belum menerima perawatan yang seharusnya sehingga berdampak pada kualitas hidup penderita.
(Purnomo/goeh)
-
FOTO20/04/2026 11:08 WIBFOTO: KWP Award 2026 Beri Apresiasi Tokoh Nasional Serta Korporasi Mitra DPR
-
NASIONAL20/04/2026 21:00 WIBPanglima TNI Sinergikan TNI dan Pemda untuk Percepatan Pembangunan di Daerah
-
PAPUA TENGAH20/04/2026 16:30 WIBWapres Gibran di Mimika, Warga Tumpah Ruah di Depan Toko Meriah
-
POLITIK20/04/2026 07:00 WIBPDI Perjuangan Dorong DPR Kebut Pembahasan RUU Pemilu
-
RIAU20/04/2026 16:00 WIBKecelakaan di Tol Permai, Polisi Sebut Satu Korban Meninggal Dunia
-
POLITIK20/04/2026 09:00 WIBSekjen Golkar Minta Kader Waspada Usai Nus Kei Tewas Ditusuk
-
NASIONAL20/04/2026 10:00 WIBCak Imin Minta Pengawasan Ketat Vape di Indonesia
-
NASIONAL20/04/2026 06:00 WIBEddy Soeparno Borong KWP Award 2026 Berkat Energi Hijau