Connect with us

RAGAM

Ilmuwan Ungkap Ancaman Baru Kebakaran Hutan Global

Aktualitas.id -

Ilustrasi kebakaran hutan, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Meski luas kebakaran hutan global pada 2025 tercatat menurun ke level terendah kedua dalam lebih dari dua dekade terakhir, para ilmuwan justru mengeluarkan peringatan keras. Di balik angka yang tampak menggembirakan itu, kebakaran hutan kini berubah menjadi bencana yang jauh lebih mematikan dan merusak.

Studi terbaru mengungkap total area yang terbakar sepanjang 2025 mencapai sekitar 335 juta hektare. Namun penurunan tersebut ternyata tidak berbanding lurus dengan dampak yang ditimbulkan. Sejumlah kebakaran ekstrem di berbagai belahan dunia justru menciptakan kerusakan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Amerika Serikat menjadi salah satu contohnya. Kebakaran Palisades dan Eaton di Los Angeles tercatat sebagai salah satu yang paling destruktif dalam sejarah negara tersebut. Sementara Inggris mengalami rekor kebakaran lahan terburuk setelah api melahap lebih dari 100 ribu hektare wilayah Skotlandia.

Tak kalah mengerikan, Portugal dan Spanyol kehilangan lebih dari setengah juta hektare lahan akibat kebakaran besar. Di Asia, Korea Selatan mencatat musim kebakaran hutan paling mematikan sepanjang sejarah negara itu.

Kebakaran Sedikit, Kerugian Meledak

Para peneliti menemukan kebakaran menyumbang lebih dari 38 persen total kerugian asuransi akibat bencana cuaca sepanjang 2025.

Ilmuwan iklim dari Universitas East Anglia, Matthew Jones, menyebut tahun 2025 membuktikan bahwa musim kebakaran yang terlihat “tenang” secara statistik ternyata tetap bisa menimbulkan kehancuran luar biasa.

Menurutnya, kini terjadi kesenjangan yang semakin besar antara luas area yang terbakar dengan dampak nyata yang dirasakan masyarakat.

Perubahan Iklim Jadi Tersangka Utama

Para ahli menilai perubahan iklim menjadi faktor utama yang membuat kebakaran semakin berbahaya. Gelombang panas ekstrem, kekeringan berkepanjangan, serta angin kencang menciptakan kondisi ideal bagi api untuk menyebar dengan sangat cepat.

Di California Selatan dan Korea Selatan, kombinasi vegetasi kering dan hembusan angin ekstrem membuat kobaran api dengan mudah menjalar ke kawasan permukiman, menghancurkan rumah, infrastruktur, dan merenggut korban jiwa.

Di kawasan Mediterania, mulai dari Portugal hingga Turki, suhu panas yang semakin ekstrem memperparah risiko kebakaran berskala besar.

Para peneliti bahkan menemukan kondisi cuaca yang memicu kebakaran besar di Portugal dan Spanyol pada 2025 menjadi 39 kali lebih mungkin terjadi akibat dampak perubahan iklim.

Asap Lebih Mematikan daripada Api

Ancaman kebakaran ternyata tidak berhenti ketika api padam. Para ilmuwan memperingatkan bahwa asap kebakaran kini menjadi pembunuh senyap yang dampaknya melintasi batas negara.

Penelitian sebelumnya menunjukkan asap dari kebakaran hutan Kanada menyebar hingga Amerika Serikat, Eropa, bahkan Afrika. Paparan partikel beracun dari asap tersebut diperkirakan berkontribusi terhadap sekitar 82 ribu kematian akibat pencemaran udara.

Fakta ini menunjukkan bahwa dampak kebakaran tidak lagi bersifat lokal, melainkan telah berkembang menjadi ancaman kesehatan global.

Dunia Masuki Era Kebakaran Ekstrem

Para pakar memperingatkan dunia sedang memasuki era baru kebakaran hutan ekstrem. Meskipun jumlah kebakaran atau luas area yang terbakar bisa berfluktuasi dari tahun ke tahun, perubahan iklim membuat setiap kejadian berpotensi menjadi jauh lebih merusak.

Pesan para ilmuwan pun tegas: tantangan dunia saat ini bukan sekadar mengurangi jumlah kebakaran, melainkan mempersiapkan masyarakat dan lingkungan agar mampu bertahan menghadapi kebakaran ekstrem yang diperkirakan akan semakin sering terjadi seiring pemanasan global yang terus berlanjut. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version