Connect with us

RAGAM

Puluhan Ilmuwan Peringatkan Bumi Menuju Titik Kritis

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: meta - ai

AKTUALITAS.ID – Puluhan ilmuwan dunia kembali membunyikan alarm bahaya terkait krisis iklim. Mereka memperingatkan bahwa laju pemanasan global akibat aktivitas manusia terus meningkat dan berpotensi mendorong suhu Bumi melampaui ambang kritis 1,5 derajat Celsius hanya dalam beberapa tahun ke depan.

Temuan tersebut disampaikan oleh kelompok Indikator Perubahan Iklim Global (IGCC), yang terdiri dari sekitar 70 ilmuwan dari berbagai negara. Berdasarkan analisis terbaru mereka, suhu rata-rata global saat ini telah mencapai sekitar 1,37 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri dan terus menunjukkan tren kenaikan.

Para peneliti menilai kondisi ini bukan sekadar fluktuasi cuaca biasa. Aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil dan tingginya emisi gas rumah kaca, disebut sebagai faktor utama yang mempercepat perubahan iklim.

Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah ketidakseimbangan energi Bumi. Kondisi ini menggambarkan semakin banyak panas yang terperangkap dalam sistem iklim dibandingkan yang dilepaskan kembali ke luar angkasa.

“Tanpa pengaruh manusia, indikator ini seharusnya mendekati nol. Namun sejak 1970-an terus meningkat dan kini berada pada tingkat tertinggi yang pernah tercatat,” ujar ilmuwan iklim Piers Forster.

Laporan tersebut juga menunjukkan emisi gas rumah kaca global mencapai rekor baru pada 2024, yakni sekitar 56,8 miliar ton setara karbon dioksida. Angka ini memperlihatkan bahwa upaya pengurangan emisi secara global masih menghadapi tantangan besar.

Tak hanya itu, para ilmuwan mencatat bahwa beberapa tahun terakhir termasuk dalam periode terpanas sepanjang sejarah pengamatan modern. Kondisi ini sejalan dengan tren pemanasan global jangka panjang yang terus berlangsung.

Dampak perubahan iklim juga terlihat dari kenaikan permukaan laut yang semakin cepat. Pemanasan suhu laut dan mencairnya lapisan es di berbagai wilayah kutub menjadi faktor utama yang mendorong fenomena tersebut.

Data terbaru menunjukkan permukaan laut global telah naik sekitar 23 sentimeter sejak awal abad ke-20. Meski terlihat kecil, para ahli menegaskan bahwa kenaikan tersebut meningkatkan risiko banjir pesisir, abrasi, serta ancaman terhadap masyarakat yang tinggal di wilayah rendah.

Para ilmuwan menekankan bahwa istilah “kiamat iklim” bukan berarti dunia akan berakhir dalam waktu dekat. Namun, tanpa upaya serius mengurangi emisi dan memperkuat adaptasi terhadap perubahan iklim, berbagai dampak seperti gelombang panas ekstrem, kekeringan, banjir, dan kenaikan muka laut diperkirakan akan semakin sering terjadi.

Peringatan ini menjadi pengingat bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan tantangan yang sudah dirasakan saat ini oleh banyak negara di berbagai belahan dunia. (Kusuma/Mun)

TRENDING

Exit mobile version