POLITIK
Guru Besar UB: “Londo Ireng” Prabowo Kritik Mentalitas Kolonial, Bukan Ras
AKTUALITAS.ID – Guru Besar Bidang Ilmu Kebijakan Publik Universitas Brawijaya Andy Fefta Wijaya, menilai istilah “Londo Ireng” yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto merujuk pada mentalitas kolonial, bukan identitas ras atau kelompok etnis tertentu. Penjelasan itu disampaikan Andy untuk meluruskan polemik atas pernyataan Prabowo yang memunculkan beragam tafsir di ruang publik.
“Yang dimaksud Presiden bukanlah individu tertentu, melainkan siapa pun yang berpikir dan bertindak demi kepentingan asing di atas kepentingan nasional. Kritik tersebut menyasar mentalitas, bukan identitas seseorang,” ujar Andy dalam keterangan pers yang diterima Aktualitas.id, Selasa (28/7/2026)
Andy menjelaskan, istilah “Londo Ireng” dalam konteks pidato Prabowo digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan pola pikir yang lebih mengutamakan kepentingan asing daripada kepentingan bangsa sendiri.
Penggunaan metafora semacam itu, kata Andy, bukan hal baru dalam tradisi politik Indonesia. Istilah tersebut kerap digunakan untuk mengkritik sikap elite yang dinilai masih membawa cara pandang kolonial dalam menentukan arah kebijakan atau mengambil keputusan.
“Presiden mengkritik mentalitas elite yang mengutamakan kepentingan asing dibanding bangsa sendiri. Itu bukan serangan terhadap ras ataupun warna kulit tertentu,” jelasnya.
Dirinya menegaskan, konteks pidato menjadi bagian penting dalam memahami pernyataan Presiden. Potongan istilah tanpa melihat keseluruhan pesan dapat memunculkan tafsir berbeda, termasuk anggapan adanya muatan rasial.
Dalam pandangannya, pesan utama Prabowo berkaitan dengan pentingnya keberpihakan terhadap kepentingan nasional di tengah persaingan dan tantangan global. Kritik tersebut diarahkan kepada pola pikir yang menempatkan kepentingan eksternal di atas kepentingan Indonesia.
Andy juga menyebut istilah “Londo Ireng” telah lama dikenal sebagai metafora untuk menggambarkan mentalitas kolonial. Maknanya tidak berkaitan dengan warna kulit atau identitas biologis seseorang, tetapi dengan sikap dan cara pandang yang dianggap masih mencerminkan mentalitas terjajah.
Pemaknaan serupa, lanjut Andy, pernah disampaikan pengamat politik Rocky Gerung. Rocky menyebut istilah tersebut sebagai kritik terhadap mentalitas kolonial, bukan serangan terhadap identitas ras tertentu.
Andy menambahkan, polemik mengenai istilah tersebut semestinya dikembalikan pada substansi pesan yang hendak disampaikan Presiden. Perdebatan publik perlu diarahkan pada gagasan mengenai kepentingan nasional dan kemandirian bangsa.
“Makna istilah itu perlu dikembalikan pada konteks kritik terhadap mentalitas kolonial, bukan dimaknai sebagai ungkapan rasial. Cara pandang seperti ini juga sejalan dengan semangat para pendiri bangsa, terutama Bung Karno, yang sejak awal mengkritik segala bentuk mentalitas terjajah dan menyerukan kemandirian bangsa,” ungkapnya.
Ia berharap masyarakat dapat memahami pernyataan politik secara utuh dengan memperhatikan konteks dan tujuan pesan yang disampaikan. Dengan begitu, perdebatan tidak berhenti pada satu istilah yang berpotensi menimbulkan multitafsir.
Bagi Andy, kritik terhadap mentalitas kolonial merupakan bagian dari pembahasan yang lebih luas mengenai keberpihakan elite terhadap kepentingan nasional. Karena itu, istilah “Londo Ireng” dalam konteks pernyataan Prabowo lebih tepat dipahami sebagai kritik terhadap pola pikir, bukan sebagai penyebutan terhadap kelompok ras tertentu.
-
NASIONAL27/07/2026 18:31 WIBTiga Kali Ganti Pimpinan BGN, Namun Tak Satupun yang Punya Latar Belakang Ahli Gizi
-
POLITIK27/07/2026 21:00 WIBNarasi Prabowo soal “Londo Ireng” Ciptakan Permusuhan dan Anti Demokrasi
-
EKBIS27/07/2026 17:31 WIBProfil Destry Damayanti: Dari Ekonom hingga Pejabat Gubernur Sementara BI
-
OLAHRAGA27/07/2026 16:29 WIBPrediksi Indonesia vs Kamboja: John Herdman Incar Tiga Poin pada Laga Pembuka Grup A
-
RIAU27/07/2026 20:00 WIBNapi Kasus Narkoba Kabur Saat Berobat di Pekanbaru, Tiga Petugas Diperiksa
-
FOTO27/07/2026 21:30 WIBFOTO: Megawati Resmikan Monumen Kudatuli
-
PAPUA TENGAH27/07/2026 18:00 WIBKorupsi Dana Hibah KPU Mimika Rp28 Miliar, Kapolda Papua Tengah Pastikan Tetap Jalan
-
NASIONAL27/07/2026 17:00 WIBKOSMAK Desak Prabowo Bentuk Tim Independen Usut Dugaan Korupsi Febrie Adriansyah