Connect with us

EKBIS

IHSG Menguat di Tengah Bursa Asia Memerah

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Ketegangan geopolitik global yang kembali memanas tak selamanya menjadi sentimen mematikan bagi pasar modal. Di saat bursa saham Asia bertumbangan dan terperosok ke zona merah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru tampil bernyali. Pada pembukaan perdagangan Kamis (10/9/2026), IHSG melenggang gagah ke zona hijau, bertengger di level 6.688,175.

Ketangguhan pasar domestik ini terjadi tepat di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang sukses mengerek harga minyak mentah Brent tertahan di atas US$ 100 per barel. Ancaman gangguan pada rute transit energi global ini justru direspons dengan manuver agresif oleh investor di lantai bursa Jakarta.

IHSG tercatat dibuka menguat 0,15 persen. Kelompok saham elit LQ45 tak mau ketinggalan momentum, ikut naik 0,30 persen ke posisi 666,21. Hingga pukul 09.20 WIB, perputaran uang di bursa terbilang fantastis. Total transaksi melesat hingga Rp4,284 triliun dengan 7,522 miliar lembar saham berpindah tangan, mengangkat nilai kapitalisasi pasar ke angka raksasa Rp11.712,169 triliun.

Perang di Timur Tengah dan lonjakan harga komoditas jelas menjadi berkah terselubung bagi sektor spesifik. Dari delapan sektor yang menopang bursa, IDX Energy (naik 1,03%) dan IDX Basic Materials (naik 0,59%) ikut berpesta. Menariknya, IDX Technology justru menjadi pahlawan tak terduga yang memimpin reli dengan lonjakan tertinggi 1,30%.

Di jajaran top gainers LQ45, saham-saham berbasis energi dan logam mulia melesat bak roket. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) benar-benar memberikan ‘cuan’ bagi investornya dengan meroket 6,91% ke Rp 1.005 per saham.

Tren memburu energi dan aset aman (safe haven) imbas gejolak global juga mengerek naik raksasa batu bara PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sebesar 2,61% ke Rp 12.775, serta saham emas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang tumbuh 2,19% ke level Rp 3.270.

Meski demikian, pesta ini tidak dinikmati semua pihak. Beberapa saham justru harus menahan napas di zona merah. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) anjlok 1,49% ke Rp 990, diikuti PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang terkoreksi 0,91% ke Rp 545. Bahkan, saham ‘sejuta umat’ PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) harus rela tergelincir 0,72% ke posisi Rp 690.

Pergerakan anomali hari ini membuktikan satu hal: di tengah kepanikan dan sentimen perang global, pasar modal Indonesia masih menyimpan kantong-kantong keuntungan bagi mereka yang jeli membaca arah angin geopolitik dunia. (Firman/Mun)

TRENDING

Exit mobile version