Connect with us

EKBIS

IHSG Anjlok Nyaris 2% di Awal Perdagangan

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Pasar modal Indonesia mengawali pekan penutupan yang kelam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) digulung gelombang jual masif pada perdagangan pagi ini, Jumat (11/9/2026), hingga terpelanting dan ambruk mendekati level psikologis 6.500.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) dan RTI, IHSG sebenarnya dibuka melemah 36,55 poin atau 0,55% ke level 6.552,79. Namun, tak berselang lama setelah bel pembukaan berbunyi, tekanan jual kian beringas hingga menyeret indeks saham Garuda anjlok nyaris 2%, menyentuh level terendah harian di kisaran 6.466,60.

Sentimen negatif langsung mendominasi lantai bursa secara brutal. Tercatat sebanyak 531 emiten mengalami pelemahan, sementara yang mampu bertahan di zona hijau hanya mengekor di angka 83 saham, dan 111 saham lainnya stagnan.

Aksi pembantaian harga ini merata di seluruh lini sektor perdagangan. Berdasarkan data Refinitiv, seluruh sektor kompak memerah dengan sektor energi tercatat sebagai pencatat penurunan paling dalam, mengekor di belakang sektor barang baku, konsumer non primer, hingga finansial.

Deretan saham berkapitalisasi besar (big caps) yang selama ini menjadi sokoguru indeks tak kuasa menahan hantaman dan berguguran menjadi pemberat utama IHSG:

Bayan Resources (BYAN): menyumbang pelemahan terbesar hingga 12,37 poin

Bank Central Asia (BBCA): minus 11,73 poin

Bank Rakyat Indonesia (BBRI): minus 6,31 poin

Amman Mineral (AMMN): minus 5,83 poin

Bank Mandiri (BMRI): minus 4,34 poin

Bumi Resources (BUMI): minus 3,96 poin

Anjloknya pasar saham domestik ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Pelaku pasar di ambang kepanikan menyusul kepungan dua hantu sentimen global sekaligus: kembali meroketnya harga minyak mentah akibat eskalasi panas konflik Iran-Amerika Serikat, serta lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury yang memicu capital outflow secara masif dari pasar berkembang.

Hingga sesi perdagangan pagi berjalan, total transaksi yang dibukukan telah menembus angka Rp 4,31 triliun dengan melibatkan hampir 9,73 miliar saham berpindah tangan. Para investor kini dihadapkan pada situasi siaga tinggi menanti intervensi pasar lebih lanjut. (Firman/Mun)

TRENDING

Exit mobile version