EKBIS
Rupiah Kembali Tersungkur
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali membuka perdagangan di zona negatif. Pada awal sesi Rabu (29/7/2026), mata uang Garuda melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang menunggu hasil rapat kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp18.099 per dolar AS, turun 16 poin atau sekitar 0,09 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp18.083 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance pada waktu yang sama menunjukkan rupiah bergerak di kisaran Rp18.083 per dolar AS, sedangkan pasar spot mencatat pembukaan di level Rp18.096 per dolar AS, atau melemah sekitar 0,07 persen dari perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terjadi meski pergerakan dolar AS secara global cenderung terbatas. Investor memilih menahan posisi sambil menanti keputusan bank sentral Amerika Serikat terkait arah suku bunga yang diperkirakan akan memengaruhi arus modal dan pergerakan mata uang di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang berlangsung bervariasi. Dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah turun sekitar 0,26 persen terhadap dolar AS.
Tekanan juga dialami won Korea Selatan, dolar Singapura, yuan China, dan dolar Hong Kong, yang seluruhnya bergerak di zona negatif pada awal perdagangan.
Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia berhasil menguat. Ringgit Malaysia menjadi yang berkinerja terbaik dengan kenaikan sekitar 0,08 persen, disusul yen Jepang, peso Filipina, dan baht Thailand yang juga mencatat penguatan tipis.
Pergerakan rupiah dalam beberapa waktu terakhir masih dibayangi ketidakpastian global, terutama menjelang keputusan suku bunga The Fed. Selain itu, pelaku pasar juga mencermati perkembangan inflasi, arah kebijakan moneter global, serta dinamika ekonomi internasional yang berpotensi memengaruhi nilai tukar dan aliran investasi ke pasar negara berkembang.
Analis menilai volatilitas rupiah diperkirakan masih akan berlanjut hingga terdapat kejelasan mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan respons pasar terhadap keputusan tersebut. (Firman/Mun)
-
POLITIK28/07/2026 13:00 WIBBawaslu Catat 409 Tim Mahasiswa Siap Bongkar Masalah Pemilu
-
RAGAM28/07/2026 16:30 WIBNama Bung Hatta Diabadikan untuk Spesies Baru Jadi Begonia hattae
-
RIAU29/07/2026 00:01 WIBPolisi Tahan Tengku Fauzi dalam Dugaan Kasus Korupsi Anggaran Satpol PP
-
OLAHRAGA28/07/2026 17:00 WIBTimnas Indonesia Menang 5-1, Herdman Tetap Tetap akan Evaluasi Pemain
-
EKBIS28/07/2026 16:00 WIBIndonesia-Australia Kembangkan Dadahup Jadi Model Pertanian Rawa Modern
-
POLITIK28/07/2026 13:31 WIBGuru Besar UB: “Londo Ireng” Prabowo Kritik Mentalitas Kolonial, Bukan Ras
-
RIAU28/07/2026 23:00 WIBBupati Kasmarni Raih Penghargaan pada Milad ke-51 MUI Bengkalis
-
OTOTEK28/07/2026 21:00 WIBHarga Terjangkau, MacBook Neo 2 Dipastikan Bakal Lebih Ngebut