NUSANTARA
Karhutla Sumsel Naik Gila-Gilaan Dibanding Tahun Lalu
AKTUALITAS.ID – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui Sumatera Selatan. Bahkan sebelum musim kemarau mencapai puncaknya, ratusan hektare hutan dan lahan sudah lebih dulu dilalap api.
Data terbaru menunjukkan luas karhutla di Sumsel selama Januari hingga April 2026 mencapai 182,54 hektare. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu dan menjadi sinyal serius bahwa risiko kebakaran kembali meningkat.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatera, Ferdian Kristanto, mengungkapkan luasan tersebut diperoleh dari analisis citra satelit yang dilakukan bersama Kementerian Kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Kementerian Lingkungan Hidup.
“Luas karhutla pada Januari-April 2026 di Sumsel berdasarkan hasil analisis citra satelit mencapai 182,54 hektare,” ujarnya.
Kebakaran tercatat terjadi di delapan kabupaten. Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) menjadi wilayah dengan area terbakar paling luas, mencapai 53,2 hektare.
Di belakangnya terdapat Kabupaten Musi Banyuasin dengan 33,1 hektare lahan terbakar, disusul Muara Enim 31,9 hektare, Ogan Ilir 27,5 hektare, Ogan Komering Ilir (OKI) 20 hektare, Banyuasin 9,4 hektare, serta OKU Selatan 1,4 hektare.
Yang mengkhawatirkan, lonjakan karhutla tahun ini jauh melampaui capaian periode yang sama pada 2025 yang hanya sekitar 5 hektare. Dibandingkan Januari-April 2024 yang mencapai 144,2 hektare, angka tahun ini juga masih lebih tinggi.
Fakta tersebut menunjukkan tren peningkatan yang patut diwaspadai, terutama ketika musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
Sebagian besar area yang terbakar merupakan lahan mineral dengan luas mencapai 181,4 hektare. Sementara kebakaran di lahan gambut tercatat sekitar 1,1 hektare dan seluruhnya terjadi di wilayah Musi Banyuasin.
Meski belum menyamai bencana karhutla besar yang pernah terjadi pada 2022 dan 2023, peningkatan luas kebakaran pada awal tahun ini menjadi peringatan dini bagi pemerintah daerah dan masyarakat.
Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa karhutla di Sumsel dapat berkembang sangat cepat ketika musim kemarau semakin kering, memicu kabut asap yang berdampak pada kesehatan, aktivitas ekonomi, hingga transportasi.
Karena itu, pemerintah bersama berbagai instansi terkait kini meningkatkan patroli, pemantauan titik panas, dan langkah pencegahan di wilayah-wilayah rawan kebakaran.
Dengan kemarau yang belum mencapai puncak, lonjakan karhutla pada awal 2026 menjadi alarm keras bahwa ancaman kebakaran besar belum sepenuhnya berlalu dari Sumatera Selatan. (Irawan/Mun)
-
PAPUA TENGAH31/05/2026 17:00 WIBFreeport Lepas 11.000 Bibit Baramundi dan Kepiting di Pesisir Mimika
-
PAPUA TENGAH31/05/2026 21:32 WIBCuaca Laut Mimika Memburuk, BPBD Minta Nelayan Tunda Melaut
-
OTOTEK01/06/2026 08:30 WIBPassword Warga Indonesia Disebut Rawan Diretas dalam Hitungan Detik
-
NASIONAL01/06/2026 13:00 WIBJet PT Jhonlin Bawa Mama Sinta ke Jakarta?
-
JABODETABEK31/05/2026 19:00 WIBGudang Limbah Dilalap si Jago Merah, 12 Armada Dikerahkan
-
NASIONAL01/06/2026 09:00 WIBSoekarno Guncang PBB dengan Pancasila
-
RAGAM01/06/2026 06:00 WIBRahmat Bagja: PAW Rentan Disusupi Kepentingan Politik
-
PAPUA TENGAH01/06/2026 13:15 WIBDisdukcapil Mimika Targetkan 100 Pasangan Ikut Nikah Massal Gratis