Connect with us

OASE

Al-Qur’an Sebut Orang yang Mengingkari Kitab Allah Tersesat

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: Meta AI

AKTUALITAS.ID – Iman kepada kitab-kitab Allah SWT bukan sekadar bagian dari pelajaran agama, melainkan salah satu fondasi utama akidah Islam. Al-Qur’an secara tegas memerintahkan setiap Muslim untuk mengimani seluruh kitab yang diturunkan Allah kepada para rasul-Nya. Bahkan, orang yang mengingkari kitab-kitab Allah diperingatkan berada dalam kesesatan yang sangat jauh.

Penegasan tersebut terdapat dalam Surah An-Nisa ayat 136, yang menjadi salah satu dasar rukun iman ketiga.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta kepada Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh.” (QS. An-Nisa: 136)

Ayat tersebut menegaskan bahwa keimanan tidak hanya terbatas pada Al-Qur’an, tetapi juga mencakup kitab-kitab suci yang Allah turunkan sebelum Al-Qur’an, yaitu Taurat, Zabur, dan Injil, sesuai dengan ajaran Islam.

Al-Qur’an Menjadi Penyempurna

Selain memerintahkan untuk beriman kepada kitab-kitab sebelumnya, Al-Qur’an juga menjelaskan kedudukannya sebagai kitab terakhir yang membenarkan sekaligus menjaga kebenaran wahyu terdahulu.

Hal itu ditegaskan dalam Surah Al-Ma’idah ayat 48, yang menyebut bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan membawa kebenaran sebagai pembenar kitab-kitab sebelumnya dan menjadi pedoman dalam menetapkan hukum.

Ayat tersebut juga mengingatkan agar manusia mengikuti petunjuk Allah, bukan hawa nafsu, serta berlomba-lomba dalam kebaikan.

Tafsir Ibnu Katsir

Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa perintah dalam Surah An-Nisa ayat 136 merupakan seruan agar orang-orang beriman terus mengokohkan keimanan mereka dengan menjalankan seluruh syariat, rukun iman, dan konsekuensi dari keimanan tersebut.

Menurut Ibnu Katsir, yang dimaksud dengan kitab Allah mencakup Al-Qur’an maupun seluruh kitab yang pernah diturunkan kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW.

Makna Iman kepada Kitab Allah

Mengacu pada buku Pendidikan Agama Islam karya Sarinah, iman kepada kitab Allah berarti meyakini sepenuh hati bahwa Allah SWT benar-benar menurunkan wahyu kepada para rasul sebagai petunjuk hidup bagi manusia. Keyakinan tersebut tidak berhenti pada lisan, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Sementara itu, buku Aqidah Akhlak Kelas VIII karya Taofik Yusmansyah menjelaskan bahwa iman kepada kitab Allah mencakup beberapa hal, di antaranya:

Meyakini seluruh kitab dan suhuf berasal dari wahyu Allah SWT.

Mengimani semua kitab Allah, baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui namanya.

Membenarkan seluruh berita dalam kitab-kitab Allah yang selaras dengan Al-Qur’an.

Mengamalkan hukum-hukum yang masih berlaku dan tidak bertentangan dengan syariat yang dibawa Al-Qur’an.

Empat Kitab yang Wajib Diimani

Dalam ajaran Islam, terdapat empat kitab yang disebut secara jelas dalam Al-Qur’an:

Taurat, diturunkan kepada Nabi Musa AS sebagai petunjuk bagi Bani Israil.

Zabur, diturunkan kepada Nabi Daud AS sebagai pedoman bagi kaumnya.

Injil, diturunkan kepada Nabi Isa AS sebagai petunjuk dan pembenar Taurat.

Al-Qur’an, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai wahyu terakhir, penyempurna, sekaligus pedoman bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman.

Keimanan kepada kitab-kitab Allah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rukun iman. Karena itu, seorang Muslim tidak hanya dituntut mengetahui nama-nama kitab tersebut, tetapi juga meyakini asal-usulnya sebagai wahyu Allah SWT serta menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam menjalani kehidupan. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version