EKBIS
Bitcoin Gagal Bertahan di USD65 Ribu
AKTUALITAS.ID – Harga Bitcoin kembali bergerak di zona merah setelah gagal mempertahankan momentum reli di atas level psikologis USD65.000. Mata uang kripto terbesar di dunia itu terkoreksi di tengah meningkatnya kewaspadaan investor terhadap sinyal kebijakan moneter Amerika Serikat yang lebih ketat serta memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Mengacu pada data Investing.com, Jumat (17/7/2026), Bitcoin diperdagangkan di level USD64.216,3, turun 0,9% dibandingkan penutupan sebelumnya. Koreksi tersebut mencerminkan berkurangnya minat investor terhadap aset berisiko setelah pasar dihadapkan pada kombinasi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Tekanan terhadap pasar kripto muncul ketika pelaku pasar kembali menghitung peluang arah suku bunga Federal Reserve (The Fed). Sejumlah data ekonomi Amerika Serikat memang menunjukkan inflasi konsumen (CPI) dan inflasi produsen (PPI) Juni lebih rendah dari perkiraan, yang sempat memunculkan harapan bahwa bank sentral AS tidak akan terburu-buru memperketat kebijakan moneternya.
Namun optimisme tersebut mereda setelah data ekonomi lainnya menunjukkan aktivitas ekonomi dan pasar tenaga kerja masih cukup solid. Biro Sensus AS melaporkan penjualan ritel Juni naik 0,2% menjadi USD768,6 miliar, sementara klaim awal tunjangan pengangguran turun menjadi 208 ribu, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 216 ribu. Data tersebut dinilai mencerminkan daya tahan ekonomi AS yang masih kuat.
Sentimen pasar semakin berubah setelah Presiden Federal Reserve Dallas, Lorie Logan, menyampaikan pandangan yang lebih hawkish mengenai arah kebijakan suku bunga.
“Saat ini saya percaya suku bunga yang sedikit lebih tinggi akan lebih menyeimbangkan prospek dan risiko bagi tujuan mandat ganda Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC),” ujar Logan.
Ia juga menilai bahwa meski inflasi mulai menunjukkan perbaikan, proses menuju target bank sentral masih belum sepenuhnya aman.
“Data CPI bulan Juni menunjukkan kemungkinan inflasi kembali menuju target. Namun, jalur tersebut masih rapuh dan saat ini lebih merupakan harapan daripada kemungkinan,” katanya.
Pernyataan tersebut kembali memicu spekulasi bahwa suku bunga acuan AS dapat bertahan pada level tinggi lebih lama. Dalam kondisi seperti itu, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin dan aset kripto lainnya, karena imbal hasil instrumen berbasis dolar menjadi relatif lebih menarik.
Di saat yang sama, pasar global juga dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran yang berlanjut hingga malam kelima berturut-turut mendorong kenaikan harga minyak Brent lebih dari 11% sepanjang pekan.
Lonjakan harga energi meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi tekanan inflasi baru yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed. Kombinasi sentimen suku bunga yang ketat dan meningkatnya risiko geopolitik membuat pelaku pasar memilih bersikap lebih defensif, sehingga menekan pergerakan Bitcoin dan aset kripto lainnya.
Meski terkoreksi, pergerakan Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan data ekonomi Amerika Serikat, komunikasi lanjutan dari pejabat Federal Reserve, serta dinamika konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi sentimen investor global. (Firman/Mun)
-
POLITIK16/07/2026 14:00 WIBAria Bima: Kuota 30 Persen Perempuan Jadi PR Besar Parpol
-
POLITIK16/07/2026 13:38 WIBKritik Standar Ganda DKPP, JPPR Desak Tio Aliansyah Dinonaktifkan Sementara
-
EKBIS16/07/2026 20:00 WIBDari Aset Jiwasraya ke IPO COIN, Ekonom Pertanyakan Tata Kelola dan Transparansi Pemilik Manfaat
-
OTOTEK16/07/2026 13:30 WIBGoogle Terancam Masalah Hukum soal Android
-
RIAU16/07/2026 18:35 WIBPemuda Kampar Diduga Tenggelam Usai Standing di Jembatan Rantau Berangin
-
NASIONAL16/07/2026 21:00 WIBAkhir Juli, Pemerintah Umumkan Kebijakan Baru Pajak JHT dan Outsourcing
-
EKBIS16/07/2026 23:35 WIBIndodax Langgar Aturan OJK dan Bappebti, Polri: Bisa di Pidana
-
NASIONAL16/07/2026 15:00 WIBMandat Komnas Perempuan Diperluas, Rieke: Perlindungan Korban Masih Belum Optimal