Berita
AS Berencana Jual Paket Senjata Berat ke Taiwan
Amerika Serikat disebut akan segera menjual sejumlah paket persenjataan dalam jumlah besar kepada Taiwan, yang jika disetujui diperkirakan akan memicu reaksi negatif dari China. Salah satu persenjataan yang akan dilego kepada Taiwan adalah adalah pesawat nirawak (drone). Melansir CNN, Jumat (18/9), anggota Kongres dan pemerintahan Trump diharapkan segera bersepakat menjual drone dan alat utama sistem […]
Amerika Serikat disebut akan segera menjual sejumlah paket persenjataan dalam jumlah besar kepada Taiwan, yang jika disetujui diperkirakan akan memicu reaksi negatif dari China.
Salah satu persenjataan yang akan dilego kepada Taiwan adalah adalah pesawat nirawak (drone).
Melansir CNN, Jumat (18/9), anggota Kongres dan pemerintahan Trump diharapkan segera bersepakat menjual drone dan alat utama sistem persenjataan lainnya ke Taiwan.
Seorang ajudan Kongres mengungkapkan bahwa AS sedang bersiap menjual tujuh paket sistem senjata ke Taiwan. Namun, belum jelas kapan Kongres akan diberitahu oleh pemerintah secara resmi terkait kabar tersebut.
Nilai drone dan peralatan terkait serta dukungan program diperkirakan mencapai USD600 juta atau Rp8,8 triliun. Dua sumber tersebut kemudian mengungkapkan bahwa penjualan senjata ke Taiwan juga termasuk rudal anti kapal.
Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri AS belum mau mengonfirmasi atau menyanggah kabar tersebut. Dia hanya mengatakan akan berkomentar jika sudah ada pemberitahuan resmi.
“Sesuai kebijakan yang ada, kami tidak mengomentari atau mengkonfirmasi penjualan atau transfer pertahanan yang diusulkan sampai mereka secara resmi diberitahukan kepada Kongres,” ucapnya.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) menolak memberi tanggapan soal kabar tersebut hingga saat ini.
AS diketahui telah lama menjalin kerjasama dengan Taiwan itu di bawah ketentuan Undang-Undang Hubungan antar kedua negara yang telah berlangsung selama 40 tahun.
Melihat kemesraan AS-Taiwan belakangan, China sebagai negara yang hingga saat ini mengklaim Taiwan adalah bagian dari negaranya meradang. China menyebut tindakan AS ke Taiwan sebagai pelanggaran kedaulatan.
Pemerintah China memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, meskipun keduanya telah memiliki pemerintahan masing-masing, sejak berakhirnya perang saudara pada 1949.
AS memang acapkali menjual senjata ke Taiwan. Sebelumnya, pemerintahan Trump telah menyetujui beberapa penjualan senjata besar ke Taiwan senilai total lebih dari USD13 miliar atau sekitar Rp191 triliun.
Di dalam kesepakatan itu jual beli senjata termasuk puluhan jet tempur F-16, tank M1A2T Abrams, rudal anti-pesawat Stinger, dan torpedo MK-48 Mod6.
Baru-baru ini China marah karena ada pejabat AS yang akan kembali berkunjung ke Taiwan. Sang pejabat AS itu adalah Wakil Menteri Luar Negeri, Keitch Krach.
“China dengan tegas menentang pertemuan delegasi AS dan Taiwan. Saya ingin menekankan sekali lagi bahwa pertanyaan Taiwan berkaitan dengan kedaulatan dan integritas teritorial China dan menyangkut kepentingan inti China,” ucap Jubir Kemlu China, Wang Wenbin, dalam konferensi pers Senin (14/9) lalu.
Wang mengatakan peringatan itu benar-benar serius dan meminta AS untuk mematuhi prinsip satu China, dengan mengakui Taiwan bagian dari China.
“Kami mendesak AS untuk mematuhi prinsip Satu China dan tiga komunike bersama China-AS, dan untuk menghentikan semua bentuk hubungan resmi antara AS dan Taiwan,” katanya.
-
JABODETABEK17/08/2026 23:00 WIBTak Lihat Motor, Sopir Wing Box Lindas Pasutri Hingga Tewas di Tempat
-
NUSANTARA17/08/2026 20:00 WIBBNPB Pastikan 54 Korban Jiwa Gempa NTT
-
EKBIS18/08/2026 10:30 WIBRupiah Melemah ke Rp17.840 per Dolar AS
-
RAGAM18/08/2026 11:15 WIBPolda Riau Bongkar Mata Rantai Emas PETI, Dua Orang Tersangka dan Rp972 Juta Disita
-
EKBIS18/08/2026 09:30 WIBUsai Libur HUT ke-81 RI, IHSG Tancap Gas Tembus Level 6.466
-
POLITIK18/08/2026 11:00 WIBGeger Pengupas Bawang, Iwan Sumule: Ada yang Sengaja Menjerumuskan Presiden
-
EKBIS18/08/2026 07:30 WIBBank-Bank Besar AS Dikepung Risiko AI
-
DUNIA17/08/2026 21:00 WIBTelegram Jadi Radar Serangan Rusia di Ukraina

















