Berita
Ayat Iqra bukan Wahyu Pertama yang Turun kepada Nabi SAW
Nabi Muhammad SAW mengikuti syariat yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, sebelum Alquran diturunkan kepada beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa contoh syariat itu ialah ritual-ritual, seperti haji, khitan, mandi jinabat dan sebagainya. Surah al-‘Alaq ayat 1-3 merupakan wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. Surah itu disebut juga sebagai ayat Iqra […]
Nabi Muhammad SAW mengikuti syariat yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, sebelum Alquran diturunkan kepada beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa contoh syariat itu ialah ritual-ritual, seperti haji, khitan, mandi jinabat dan sebagainya.
Surah al-‘Alaq ayat 1-3 merupakan wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. Surah itu disebut juga sebagai ayat Iqra karena mengandung perintah untuk membaca (‘Bacalah dengan [menyebut] nama Tuhanmu Yang menciptakan’).
Akan tetapi, menurut sejumlah ulama, ayat tersebut bukanlah wahyu yang pertama kali sampai kepada Muhammad SAW. Seperti diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, Aisyah RA menuturkan, wahyu yang pertama kali diturunkan kepada beliau adalah mimpi yang baik (al-ru’ya al-shalihah) ketika beliau tidur.
Selain itu, Rasulullah SAW juga diberikan oleh Allah kecenderungan untuk melakukan perenungan atau menyendiri (tahannuts), termasuk saat di Gua Hira. Demikianlah keadaan beliau sampai akhirnya Malaikat Jibril turun dengan membawa tiga ayat yang merupakan awal surah al-‘Alaq itu.
Imam al-Syaukani dalam Fath al-Qadir memberikan definisi yang lebih perinci.
Ia menjelaskan, seorang nabi adalah pria yang diberikan wahyu oleh Allah SWT melalui mimpi atau ilham. Sementara itu, seorang rasul adalah pria yang diberikan wahyu oleh Allah SWT melalui perantaraan Malaikat Jibril.
Maka dari itu, ia menyimpulkan, Rasulullah Muhammad SAW ketika menerima surah al-‘Alaq di Gua Hira itu sesungguhnya sudah berstatus sebagai seorang nabi.
Dan, sejak turunnya ayat Iqra` itu, beliau otomatis berstatus sebagai rasul.
Pendapat tersebut diperkuat Imam al-Baihaqi. Menurutnya, Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi seorang nabi pada bulan Rabiul Awal berdasarkan wahyu yang diperolehnya melalui mimpi. Enam bulan kemudian, beliau menerima wahyu dalam keadaan terjaga di Gua Hira.
Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani menuturkan, wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW berupa mimpi-mimpi berfungsi sebagai persiapan mental bagi beliau dalam menerima wahyu-wahyu berikutnya, yakni yang melalui Malaikat Jibril yang datang kepadanya dalam keadaan terjaga.
-
POLITIK08/10/2026 20:00 WIBPengamat SDI: Putusan MK Gibran Buka Kotak Pandora Baru
-
DUNIA08/10/2026 21:00 WIBTrump Klaim Kerusuhan Prancis Terkait Singgung Migrasi dan Islam
-
NUSANTARA08/10/2026 23:00 WIBSopir Ojol Tewas Ditikam Anak Kekasihnya di Kamar Kos
-
NASIONAL08/10/2026 22:00 WIBIni Kriteria yang Berhak Dapat Subsidi Haji Rp 3 Juta
-
DUNIA08/10/2026 18:00 WIBCIA Peringatkan Potensi Konflik Internal di Israel
-
NASIONAL08/10/2026 16:00 WIBEddy Soeparno: Blue Carbon RI Bisa Jadi Magnet Investasi
-
NASIONAL08/10/2026 17:00 WIBGus Ipul Ungkap Ribuan Pegawai Kemensos Terpapar Judi Online
-
NASIONAL08/10/2026 19:00 WIBPuadi : Demokrasi Bisa Kalah oleh Algoritma