Connect with us

DUNIA

Media Israel Akui Hamas Tetap Kuat Meski Gaza Hancur

Aktualitas.id -

Pasukan khusus Hamas Brigade Al Qassam yang berhasil menembus Israel. (AFP PHOTO / SAID KHATIB)

AKTUALITAS.ID – Media Israel mengungkap alasan mengapa Hamas tetap menjadi kekuatan dominan di Gaza, meskipun hampir dua tahun genosida dan blokade ketat dilakukan oleh Israel.

Dilansir Ynet pada Sabtu (9/8/2025), para analis menilai ketahanan Hamas bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari organisasi yang mengakar dalam masyarakat Gaza, memiliki adaptasi militer yang fleksibel, serta strategi keuangan yang mampu bertahan di tengah perang berkepanjangan.

“Hamas bukan sekadar sayap militer atau partai politik. Selama 20 tahun terakhir mereka membangun hubungan melalui pendidikan, amal, masjid, hingga klub pemuda,” kata Michael Milshtein, Ketua Forum Studi Palestina Moshe Dayan Center.

Menurutnya, meskipun diperkirakan kehilangan 25.000–27.000 anggota, Hamas tetap memiliki ribuan kader yang siap menggantikan. Struktur sosial yang kuat membuat kelompok ini terus mendapatkan dukungan masyarakat.

Ihsan Ataya, pejabat senior Jihad Islam Palestina, menyebut Hamas mampu mempertahankan kendali politik meski dihadang perang dan kelaparan. “Mereka memiliki organisasi yang terstruktur dan aparat keamanan yang menjaga ketertiban internal,” ujarnya.

Secara militer, Hamas mengubah taktik dari formasi besar menjadi unit kecil berisi 3–7 pejuang yang melakukan perang gerilya di reruntuhan Gaza. Jaringan terowongan bawah tanah juga menjadi kunci pergerakan pasukan, senjata, dan pimpinan.

Di bidang keuangan, Hamas disebut tetap membayar anggotanya meski gaji berkurang. Pembayaran dilakukan tidak hanya dalam bentuk uang tunai, tetapi juga paket makanan dan bantuan kemanusiaan. BBC melaporkan Hamas menimbun lebih dari 700 juta dolar AS sebelum perang, yang kini didistribusikan secara rahasia.

Milshtein menegaskan, kepemimpinan Hamas di Gaza dan luar negeri tetap solid, dengan tokoh seperti Zaher Jabarin di Istanbul dan Mohammad Darwish di Doha yang mengatur pendanaan dari negara pendukung seperti Turki, Qatar, dan Iran.

Kedua analis sepakat, tujuan Hamas kini bukan lagi meraih kemenangan militer cepat, tetapi melemahkan stamina dan legitimasi Israel di mata dunia. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version