DUNIA
Pemimpin Baru Iran Mojtaba Khamenei Disebut Terluka
AKTUALITAS.ID – Pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, dikabarkan mengalami luka akibat serangan dalam konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang masih berlangsung.
Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa Mojtaba Khamenei mengalami luka dalam konflik yang oleh media Iran disebut sebagai “Perang Ramadan.” Dalam siaran tersebut, ia disebut sebagai janbaz, istilah yang merujuk pada seseorang yang terluka akibat serangan musuh.
Meski demikian, media pemerintah Iran tidak memberikan penjelasan rinci mengenai kondisi kesehatan Mojtaba Khamenei maupun lokasi luka yang dialaminya.
Pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran diumumkan setelah Ali Khamenei, pemimpin sebelumnya sekaligus ayahnya, dilaporkan tewas dalam serangan udara di Teheran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut terjadi pada awal eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Majelis Pakar Iran kemudian menggelar sidang untuk memilih pemimpin tertinggi baru sekitar sembilan hari setelah kampanye serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Dalam pernyataan resminya, Majelis Pakar yang beranggotakan 88 ulama menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei dipilih sebagai pemimpin ketiga Republik Islam Iran setelah memperoleh dukungan suara mayoritas dari para anggota dewan tersebut.
“Beliau ditunjuk dan diperkenalkan sebagai pemimpin ketiga dari sistem Republik Islam Iran berdasarkan suara tegas Majelis Pakar,” demikian pernyataan lembaga tersebut.
Selain kabar luka yang dialaminya, sejumlah laporan juga menyebut bahwa beberapa anggota keluarga Mojtaba Khamenei, termasuk ibu, istri, dan anaknya, turut menjadi korban dalam serangan udara yang terjadi pada awal konflik.
Setelah pengangkatannya diumumkan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan kesetiaannya kepada pemimpin baru Iran dan menegaskan siap menjalankan perintahnya dalam menghadapi situasi konflik yang sedang berlangsung.
Mojtaba Khamenei yang berusia 56 tahun dikenal memiliki hubungan dekat dengan IRGC serta memiliki pengaruh besar dalam struktur politik dan keamanan Iran.
Pengangkatannya dinilai menandakan bahwa kelompok garis keras di Iran tetap mempertahankan kekuasaan di tengah tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel.
Namun, situasi tersebut juga berpotensi memicu ketegangan di dalam negeri, mengingat sebagian masyarakat Iran sebelumnya kerap melakukan aksi protes yang menuntut reformasi politik dan kebebasan yang lebih luas.
Konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sendiri masih terus berlangsung dan memicu ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. (Mun)
-
NASIONAL20/09/2026 11:00 WIBHabiburokhman: Jangan Sampai RUU Jadi Alat Kekuasaan
-
POLITIK20/09/2026 10:00 WIBMenteri ATR/BPN Ternyata Sudah Lama Cabut dari Pengurus Golkar
-
NUSANTARA20/09/2026 14:00 WIBApi Liar Lahap 10 Hektare di Ampana Kota
-
POLITIK20/09/2026 07:00 WIBPrabowo Buka Pintu Reshuffle, PDIP: Kami Tetap di Luar
-
DUNIA20/09/2026 08:00 WIBPBB: Serangan Brutal AS ke Iran Murni Kejahatan Perang
-
OASE20/09/2026 05:00 WIB8 Ayat Al-Qur’an Ini Bongkar Kunci Hidup Sehat Bebas Penyakit
-
POLITIK20/09/2026 06:00 WIBPKB Buka Pintu PT 5 Persen untuk Pemilu 2029
-
NASIONAL20/09/2026 16:00 WIBPengamat SDI: Prabowo Pertegas Dukungan Palestina dari Gontor