OASE
Ternyata Ini Alasan Alam Gaib Disembunyikan dari Manusia
AKTUALITAS.ID – Pemahaman masyarakat mengenai alam imateri kerap kali keliru. Banyak yang menganggap hal gaib sebagai sesuatu yang ‘tidak ada’ (‘adam). Padahal, dalam kosmologi Islam, gaib bukanlah lawan kata dari wujud (keberadaan), melainkan lawan kata dari syahid (hadir atau terjangkau indera). Segala yang gaib sejatinya nyata dan wujud, hanya saja tersembunyi dari jangkauan fisik manusia.
Melalui penafsiran tajam terhadap awal Surah Al-Baqarah dan Surah Al-Jin, pakar tafsir klasik seperti Imam Fakhruddin al-Razi dan Syekh al-Thahir bin ‘Asyur menegaskan bahwa meyakini alam imateri adalah benteng utama penangkal paham materialisme (al-madiyun atau al-dahriyun) yang mengagungkan objek fisik semata.
Namun, fakta paling mengejutkan terungkap dalam Surah Al-Jin ayat 7–10 terkait dinamika alam gaib. Sebelum perutusan Rasulullah SAW, kelompok jin memiliki akses terobosan untuk terbang ke batas langit dan mencuri informasi takdir atau “berita langit”. Praktik penyadapan gaib inilah yang di masa lalu kerap dibocorkan kepada para dukun di bumi.
Kondisi tersebut berubah total ketika risalah kenabian diturunkan. Pintu-pintu langit mendadak di penjarakan dengan sistem pengamanan kosmik super ketat. Setiap jin yang nekat mendekat untuk mendengarkan rahasia langit langsung dihantam panah-panah api (syihab) yang mengintai. Langkah “lockdown” langit ini sengaja diberlakukan guna menutup celah manipulasi informasi yang dilakukan dukun dan peramal.
Penegasan ini sekaligus meruntuhkan mitos masyarakat yang menganggap jin mengetahui segala perkara gaib mutlak. Sama seperti manusia, jin terikat dalam kategori gaib nisbi—mereka hanya tahu apa yang berada di balik tembok atau tempat tersembunyi, namun buta total terhadap takdir gaib mutlak seperti masa depan, hari kiamat, hingga momen kematian seseorang.
Korelasinya dengan sains pun tak terelakkan. Ilmu pengetahuan manusia sejatinya merupakan bagian kecil dari ilmu Allah yang gaib dan diturunkan secara bertahap. Tradisi astronomi klasik (rubu’) membuktikan bahwa riset dan sains adalah media manusia untuk mentafakuri semesta, mengubah hal yang semula dianggap gaib dan mustahil menjadi realitas sains yang terukur.
Pada akhirnya, Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan tidak berakhir di liang kubur. Baik jin maupun manusia yang mengira mati adalah akhir perjalanan (lan yab’atsallahu ahada) ditegaskan keliru besar. Hari kebangkitan adalah kepastian gaib yang pada waktunya akan menjadi nyata di hadapan semua makhluk. (Mun)
-
DUNIA03/11/2026 18:00 WIBBayi 2 Bulan Tewas dalam Ledakan Bom Truk Kolombia
-
POLITIK03/11/2026 20:00 WIB4 RUU Prioritas DPR Masa Persidangan II 2026, Ada RUU Perampasan Aset
-
POLITIK03/11/2026 19:00 WIBPemuda LIRA Desak DPR Segera Proses Pemakzulan Gibran
-
NASIONAL03/11/2026 15:30 WIBMabes Polri Diguncang Isu Penangkapan Jenderal
-
POLITIK03/11/2026 16:00 WIBDoli: Putusan MA Tak Bisa Dianggap Persoalan Biasa
-
NUSANTARA03/11/2026 14:30 WIBBMKG: Jawa Barat Diguncang 129 Kali Gempa dalam Sebulan
-
JABODETABEK04/11/2026 05:30 WIBBMKG: Sebagian Besar Jakarta Berpotensi Hujan Ringan Rabu
-
POLITIK03/11/2026 17:00 WIBTanpa Ampun! Gerindra Pecat Kader Pesta Narkoba