DUNIA
Trump Kirim Armada Perang ke Teluk, Garda Revolusi: Pangkalan AS Target Sah
AKTUALITAS.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Washington telah mengerahkan armada besar Angkatan Laut Amerika Serikat ke kawasan Teluk Persia, menyusul meningkatnya ketegangan dengan Iran. Langkah ini disebut sebagai upaya antisipatif untuk menjaga stabilitas kawasan, meski Trump mengaku berharap kekuatan militer tersebut tidak perlu digunakan.
“Kami memiliki banyak kapal yang bergerak ke arah itu, untuk berjaga-jaga. Saya lebih suka tidak terjadi apa pun, tetapi kami mengawasi mereka dengan sangat cermat,” ujar Trump kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan Air Force One dalam perjalanan pulang dari Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Kamis waktu setempat, seperti dikutip media Asharq al Awsath.
Sejumlah media internasional melaporkan, kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln (CVN-72) beserta kapal perusak berpeluru kendali dijadwalkan tiba di kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan. Kehadiran armada ini menambah eskalasi ketegangan antara Washington dan Teheran yang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
USS Abraham Lincoln merupakan kapal induk kelima kelas Nimitz milik Angkatan Laut AS. Kapal raksasa sepanjang sekitar 332,8 meter dengan bobot benam lebih dari 100.000 ton ini ditenagai dua reaktor nuklir Westinghouse A4W, menjadikannya salah satu pangkalan udara terapung paling mematikan di dunia.
Memasuki awal 2026, kapal yang bermarkas di San Diego ini tetap menjadi tulang punggung proyeksi kekuatan militer Amerika Serikat. Sebelumnya, USS Abraham Lincoln tercatat melakukan patroli di Laut China Selatan dan transit di Selat Malaka pada Januari 2026.
Kapal induk ini mampu mengangkut hingga 90 unit pesawat dan helikopter. Sayap udaranya, Carrier Air Wing 9, terdiri dari jet tempur F/A-18E/F Super Hornet, jet tempur siluman F-35C Lightning II, pesawat peringatan dini E-2C/D Hawkeye, pesawat peperangan elektronik EA-18G Growler, serta helikopter Seahawk untuk misi anti-kapal selam dan penyelamatan.
Selain pengerahan armada laut, Washington juga mempertimbangkan penempatan sistem pertahanan udara tambahan guna melindungi pangkalan-pangkalan AS di kawasan dari potensi serangan Iran. Langkah ini memperluas opsi militer Trump, baik untuk pertahanan maupun tekanan politik terhadap Teheran, menyusul serangan AS ke sejumlah fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu.
Trump kembali melontarkan peringatan keras terkait program nuklir Iran.
“Jika mereka mencoba melakukannya lagi, mereka harus pergi ke tempat lain. Kami akan menyerang mereka di sana juga, sesederhana itu,” tegasnya.
Iran sendiri diwajibkan melaporkan kondisi fasilitas nuklirnya kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Berdasarkan tolok ukur IAEA, Iran disebut memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen—jumlah yang, jika diperkaya lebih lanjut, cukup untuk memproduksi sekitar 10 bom nuklir. Namun, IAEA mengakui belum dapat memverifikasi stok uranium Iran dalam setidaknya tujuh bulan terakhir.
Pengerahan armada AS memicu reaksi keras dari Teheran. Komandan Korps Garda Revolusi Iran, Jenderal Mohammad Pakpour, memperingatkan Amerika Serikat dan Israel agar tidak melakukan kesalahan perhitungan.
“Korps Garda Revolusi dan Iran tercinta siap siaga, lebih siap dari sebelumnya, untuk melaksanakan perintah pemimpin tertinggi,” ujarnya dalam pernyataan resmi yang disiarkan televisi pemerintah Iran.
Nada serupa disampaikan Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi. Ia menegaskan seluruh kepentingan, pangkalan militer, dan pusat pengaruh Amerika Serikat akan menjadi “target yang sah” jika Washington melancarkan serangan.
Ketegangan geopolitik ini terjadi di tengah gelombang protes besar di Iran sejak akhir Desember. Demonstrasi yang awalnya dipicu krisis ekonomi berkembang menjadi tantangan serius terhadap kepemimpinan ulama di bawah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Kelompok hak asasi manusia menuding aparat keamanan Iran melakukan penindakan brutal. Human Rights Activists News Agency (HRANA) mengklaim telah memverifikasi sedikitnya 4.519 kematian, mayoritas demonstran. Pemerintah Iran, sebaliknya, menyebut korban tewas mencapai lebih dari 5.000 orang, termasuk sekitar 500 personel keamanan.
Trump mengklaim tekanan Amerika Serikat ikut menahan eskalasi kekerasan. Ia menyebut Iran membatalkan hampir 840 eksekusi gantung setelah ancaman Washington, meski klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik gelombang protes sebagai bentuk “balas dendam pengecut” atas kekalahan dalam perang 12 hari pada Juni lalu. Meski begitu, ia mengakui demonstrasi merupakan hak warga negara, sembari menegaskan pemerintah akan menindak pihak-pihak yang dianggap melakukan kekerasan.
Meski retorika keras masih mendominasi, analis menilai kemungkinan aksi militer langsung AS terhadap Iran untuk sementara mereda. Kedua pihak menyatakan masih membuka jalur diplomasi. Namun, pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln menjadi sinyal kuat bahwa Washington tetap menyiapkan skenario terburuk jika ketegangan kembali meningkat. (Mun)
-
DUNIA27/01/2026 15:00 WIBKapal Induk AS Tiba di Timur Tengah, Kemlu Iran: Agresi Washington Akan Berakhir Menyakitkan
-
DUNIA27/01/2026 12:00 WIBArmada Perang Merapat, Jenderal AS Sebut Rencana Serangan ke Iran Bakal ‘Singkat dan Cepat’
-
POLITIK27/01/2026 13:00 WIBUtut Sebut Ada Pimpinan Komisi I DPR Bakal Masuk Kabinet Prabowo, Siapakah Dia?
-
JABODETABEK27/01/2026 16:00 WIBSoal Penangkapan Pedagang Es Gabus, Anggota TNI-Polri Beri Klarifikasi
-
RAGAM27/01/2026 14:30 WIBWaspada! 14 Wilayah di Indonesia Terancam Gempa Megathrust
-
POLITIK27/01/2026 17:30 WIB9 Nama Disetujui Jadi Anggota Ombudsman 2026-2031, Dalam Rapat Paripurna DPR RI
-
NUSANTARA27/01/2026 11:30 WIBKecanduan Judol, Camat Medan Maimun Tega Kuras Kartu Kredit Pemda
-
NUSANTARA27/01/2026 18:30 WIBPenyeludupan 70 Ton Daging Beku dari Singapura Berhasil Digagalkan