Connect with us

DUNIA

Indonesia Sumbang Rp17 T untuk Rekonstruksi Gaza, Serangan Udara Israel Kembali Tewaskan 32 Orang

Aktualitas.id -

Warga Palestina mencari korban di lokasi saerangan Israel terhadap rumah-rumah di kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara. REUTERS/Anas al-Shareef

AKTUALITAS.ID – Upaya perdamaian di Timur Tengah kembali diuji oleh realitas pahit di lapangan. Di saat Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto berkomitmen menyumbang dana fantastis sebesar Rp17 triliun untuk inisiatif Board of Peace (Dewan Perdamaian), Israel justru meluncurkan gelombang serangan udara mematikan ke Gaza.

Pada Sabtu (31/1/2026), serangan udara Israel menewaskan sedikitnya 32 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak. Insiden ini terjadi di tengah fase kedua gencatan senjata yang digagas Presiden AS Donald Trump.

Keputusan Indonesia bergabung dengan Board of Peace dan menyetor iuran sukarela senilai Rp17 triliun dipromosikan sebagai wujud kontribusi aktif dalam rekonstruksi Gaza pasca-perang. Namun, langkah diplomasi ini dibayangi oleh aksi militer Israel yang terus berlanjut, termasuk pemboman warga sipil dan perampasan tanah di Tepi Barat.

Kenyataan di lapangan sangat kontras. Helikopter tempur Israel dilaporkan menghantam tenda pengungsi di Khan Younis, Gaza Selatan, serta meratakan apartemen di Kota Gaza.

“Kami menemukan tiga keponakan kecil saya di jalan. Mereka mengatakan ‘gencatan senjata’. Apa yang dilakukan anak-anak itu?” teriak Samer al-Atbash, paman dari tiga anak yang tewas, kepada Reuters.

Militer Israel (IDF) berdalih serangan tersebut adalah respons atas pelanggaran perjanjian oleh Hamas pada Jumat (30/1). IDF mengklaim telah menargetkan infrastruktur teror bawah tanah di Rafah timur dan lokasi peluncuran roket di Gaza tengah.

Sebaliknya, Hamas mengutuk keras serangan tersebut dan mendesak AS bertindak. Kelompok tersebut menyebut Israel terus melanjutkan “perang genosida brutal” meski fase kedua kesepakatan damai—yang mencakup demiliterisasi dan pembentukan pemerintahan teknokratis – baru saja dimulai awal Januari 2026.

Kementerian Luar Negeri Mesir dan Qatar, sebagai mediator utama, mengecam pelanggaran berulang yang dilakukan Israel. Mereka mendesak pengekangan diri agar kesepakatan damai yang rapuh ini tidak hancur total.

Meski demikian, angka korban jiwa terus bertambah. Sejak Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 71.660 warga Gaza. Tragisnya, 509 di antaranya tewas justru setelah periode gencatan senjata dimulai pada Oktober 2025 lalu.

Kini, publik menanti apakah dana Rp17 triliun yang digelontorkan Indonesia melalui Board of Peace dapat efektif menghentikan pertumpahan darah, atau hanya menjadi angka di atas kertas di tengah reruntuhan Gaza yang terus bertambah. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version