Connect with us

DUNIA

IRGC Klaim Serangan Rudal Hantam Target Ukraina di Dubai

Aktualitas.id -

IRGC Klaim Serangan Rudal Hantam Target Ukraina di Dubai, ilustrasi foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah Iran mengklaim telah menghancurkan gudang penyimpanan sistem anti-drone milik Ukraina di Dubai, Uni Emirat Arab, pada Sabtu (28/3/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan oleh juru bicara Markas Besar Khatam Al Anbia yang menyebut serangan dilakukan menggunakan rudal oleh Pasukan Luar Angkasa dan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran.

Menurut klaim Teheran, serangan tersebut menargetkan fasilitas yang digunakan untuk mendukung operasi Amerika Serikat dan Israel, serta diduga turut menghantam lokasi persembunyian personel militer Amerika Serikat.

Iran juga menyebut kemungkinan terdapat korban dari warga Ukraina dalam serangan tersebut, meskipun belum ada konfirmasi resmi terkait jumlah dan kondisi korban.

Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh pemerintah Ukraina. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina, Georgiy Tykhy, menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar.

“Ini adalah kebohongan. Kami secara resmi membantah informasi ini,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Iran kerap melakukan operasi disinformasi.

Selain itu, IRGC juga mengklaim telah menyerang sejumlah aset militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk menghancurkan kapal taktis di pelabuhan Kuwait dan UEA dalam rangkaian Operasi True Promise 4.

Menurut pernyataan resmi, serangan tersebut menggunakan rudal balistik dan rudal jelajah untuk menargetkan kapal pendaratan militer AS, dengan beberapa di antaranya diklaim tenggelam dan terbakar.

Hingga saat ini, belum ada konfirmasi independen terkait klaim-klaim tersebut, baik dari pihak Amerika Serikat maupun otoritas Uni Emirat Arab.

Situasi ini menambah kompleksitas konflik global yang tengah berlangsung, sekaligus memicu perang informasi antara pihak-pihak yang terlibat.

Pengamat menilai, meningkatnya klaim sepihak tanpa verifikasi dapat memperkeruh situasi dan meningkatkan risiko eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version