Connect with us

RAGAM

BRIN Ungkap Potensi Gempa 7 Magnitudo di Bandung

Aktualitas.id -

Ilustrasi foto: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Warga Jawa Barat, khususnya yang berdomisili di wilayah Bandung Raya dan sekitarnya, diimbau untuk tidak mengabaikan ancaman Sesar Lembang. Patahan bumi sepanjang kurang lebih 29 kilometer yang membentang dari Padalarang hingga kawasan Cimenyan ini bukanlah sekadar garis fiktif di atas peta, melainkan sistem geologi aktif yang siap melepaskan energi gempa besar kapan saja.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali membunyikan alarm peringatan terkait aktivitas Sesar Lembang yang posisinya berada sangat dekat dengan pusat Kota Bandung, tepatnya di kawasan kaki Gunung Tangkuban Parahu.

Peneliti Geologi Gempa BRIN, Mudrik R. Daryono, membeberkan bahwa pergerakan patahan ini didominasi oleh geseran mendatar ke arah kiri (left-lateral). Meskipun perlahan, pergerakan ini menyimpan akumulasi energi yang bisa memicu gempa bumi mematikan.

“Bukti nyata bisa dilihat dari pergeseran Sungai Cimeta yang telah bergeser sejauh 120 meter, bahkan di beberapa lokasi mencapai 460 meter,” ungkap Mudrik dalam keterangan resminya, dikutip Senin (6/4/2026).

Lebih lanjut, Mudrik menjelaskan bahwa secara keseluruhan, 80 hingga 100 persen pergerakan Sesar Lembang bersifat mendatar, sementara pergerakan naik-turun hanya sekitar 0 sampai 20 persen. Proses pergeseran yang berlangsung selama ratusan ribu tahun inilah yang melahirkan gempa bumi tektonik.

Penelitian paling mutakhir mencatat, Sesar Lembang bergerak merayap dengan kecepatan sekitar 1,9 hingga 3,4 milimeter per tahun. Jika diakumulasikan, pergerakan kecil ini sanggup memicu gempa dengan kekuatan destruktif.

Fakta mengerikan ini dibuktikan dari hasil penggalian parit paleoseismologi di titik kilometer 11,5. Di lokasi tersebut, peneliti menemukan jejak pergeseran vertikal setinggi 40 sentimeter dari masa lalu.

“Pergeseran sebesar itu menjadi bukti nyata bahwa di masa lalu pernah terjadi gempa dengan kekuatan sekitar magnitudo 6,5 hingga 7. Perkiraan ini juga sejalan dengan panjang Sesar Lembang yang mencapai 29 kilometer,” tegasnya.

Berdasarkan kajian jejak gempa purba, Sesar Lembang memiliki riwayat memicu gempa-gempa besar. Peristiwa gempa termuda diperkirakan terjadi pada abad ke-15. Jauh sebelumnya, tercatat gempa besar pada 60 tahun sebelum Masehi dan sekitar 19 ribu tahun yang lalu.

Dari rekam jejak tersebut, para ilmuwan menyimpulkan bahwa siklus berulangnya gempa besar di Sesar Lembang berada dalam rentang waktu antara 170 hingga 670 tahun.

“Jika mengacu pada siklus ulang gempa besar yang telah diperkirakan, maka secara teoritis gempa besar berikutnya dapat terjadi paling lambat sekitar tahun 2170. Artinya, secara waktu, siklus ini sudah relatif dekat dengan masa sekarang,” sebut Mudrik memperingatkan.

Meski demikian, Mudrik menekankan bahwa rentang waktu tersebut adalah proyeksi ilmiah, bukan ramalan pasti kapan hari ‘H’ bencana itu akan datang.

Oleh karena itu, pemahaman mitigasi bencana mutlak diperlukan. Sesar Lembang terbukti secara sains sebagai ancaman nyata yang jejak pergerakannya bisa dilihat langsung di lapangan. “Pemahaman ilmiah ini sangat penting agar masyarakat lebih siap dan senantiasa waspada dalam menghadapi potensi bencana,” tutupnya. (Kusuma/Mun)

TRENDING

Exit mobile version