Deretan Perintis TNI AU yang Meninggal Dunia Secara Tragis


AKTUALITAS.ID – Dalam catatan sejarah, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AU) pertama kali dibangun oleh KSAU pertama yang bernama Komodor Udara Suryadi Suryadharma. Ia juga merekrut bebera[a perwira alumnus ML KNIL (Militaire Luchtvaart Koninklijke Nederlandsch Indisch Leger) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda Angkatan Udara.

Dalam perjalanannya membangun TNI AU, sejumlah perintis yang cukup berpengaruh juga mengalami kisah tragis dengan meninggal secara tragis yang disebabkan oleh beberapa hal seperti ditembak jatuh pesawat Belanda hingga karena kecelakaan teknis pesawat.

Berikut deretan Perintis TNI AU yang meninggal secara tragis, seperti yang dikutip dari laman Historia.

1. Iswahyudi

Marsekal Muda (Anumerta) Iswahyudi lahir di Surabaya, Jawa Timur pada 15 Juli 1918. Jebolan ML KNIL itu lulus dari pendidikan Aspirant Onder Officier Kortverband Vlieger. Bersama Adisucipto, Abdulrachman Saleh, dan Husein Sastranegara merupakan perintis TNI AU. Pada 1947, dia diangkat menjadi komandan Lanud Maospati, Madiun, kemudian komandan Lanud Gadut, Bukittinggi.

Iswahyudi dan Halim Perdanakusuma meninggal dalam kecelakaan pesawat Avro Anson di Perak, Malaya (kini Malaysia) pada 14 Desember 1947. Dalam misi membeli pesawat itu ke Thailand, dia bertindak sebagai pilot dan Halim sebagai navigator. Jenazah Iswahyudi tidak ditemukan. Iswahyudi diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 1975. Namanya diabadikan untuk bandara di Madiun menggantikan Lanud Maospati. 

2. Abdul Halim Perdanakusuma

Komodor Halim Perdanakusuma bisa dibilang merupakan perintis TNI AU yang paling berpengalaman dalam kancah pertempuran. Keluarga besar TNI AU berduka ketika mendengar kabar Halim dan Iswahyudi mengalami kecelakaan pesawat pada 14 Desember 1947.

Halim yang sebelumnya menjabat Wakil KSAU II tewas setelah pesawat Avro Anson yang diawakinya bersama Iswahyudi jatuh di Perak, Malaya (kini Malaysia). Mereka tengah dalam perjalanan pulang dari Penang menuju Lanud Gadut, Bukittinggi via Singapura. Misteri penyebab kecelakaannya masih menimbulkan tanda tanya besar. Jasad Halim sempat dikuburkan di Perak, kemudian dibawa pulang ke Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan.

Lahir di Sampang, Madura, Halim mengenyam sekolah pamong praja di Magelang, Jawa Tengah. Tidak lama kemudian, dia ikut wajib militer di Koninklijke Marine atau Angkatan Laut Hindia Belanda sebagai operator torpedo di kapal perang Belanda.

Perang Dunia II di front Pasifik nyaris merenggut nyawanya. Dalam pertempuran laut dekat Cilacap, Halim selamat setelah terombang-ambing di lautan. Kariernya melejit setelah mengikuti pendidikan militer RCAF (AU Kanada), kemudian RAF (AU Inggris).

Lulus dari pendidikan militer tersebut, Halim yang berpangkat kapten ikut puluhan misi RAF di Perang Dunia II front Eropa. Dia menjadi navigator di pesawat-pesawat pembom Sekutu seperti Avro Lancaster dan B-24 Liberator. Menurut Sedjarah Pertumbuhan AURI, selepas pulang ke Indonesia pasca Republik lahir, Halim diangkat Suryadi Suryadharma sebagai Perwira Operasi.

Halim diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 1975. Namanya juga diabadikan menjadi Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan kapal perang kelas fregat yaitu KRI Abdul Halim Perdanakusuma.

3. Adisumarmo Wiryokusumo

Opsir Muda Udara II Adisumarmo Wiryokusumo. Disebutkan dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950, Adisumarmo diketahui sudah meninggal sebelum pesawat menghantam tanah. Hasil pemeriksaan jenazahnya mendapati sejumlah lubang bekas peluru senapan mesin di punggung dan perut.

Adisumarmo merupakan perintis Sekolah Radio Telegrafis Udara. Dalam pesawat nahas Dakota VT-CLA, dia bertugas sebagai operator radio selama penerbangan dari Yogyakarta-India-Singapura-Yogyakarta.

Ads Aktualitas

Lahir di Blora, Jawa Tengah pada 1921, Adisumarmo dikebumikan di Semaki. Selain diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 1974, namanya diabadikan sebagai Bandara Internasional Adisumarmo, Boyolali, menggantikan Bandara Panasan.

4. Abdulrachman Saleh

Komodor Muda Udara Abdulrachman Saleh satu dari tiga perintis TNI AU yang meninggal dalam kecelakaan pesawat Dakota VT-CLA di Desa Ngoto, Bantul, Yogyakarta pada 29 Juli 1947. Pesawat milik Kalinga Airlines itu mengangkut obat-obatan sumbangan dari Palang Merah Malaya. Pesawatnya pun memakai tanda Palang Merah. Pesawat itu bertolak dari India dan transit di Singapura. Ketika hendak mendarat di Maguwo, dua pesawat pemburu P-40 Kitty Hawk Belanda menembak jatuh pesawat itu. Dari sembilan awak dan penumpang, hanya seorang yang selamat, yaitu Abdul Gani Handonotjokro dari GKBI Tegal yang duduk di ekor pesawat.

Pesawat P-40 Kitty Hawk juga melancarkan serangan balasan ke Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta, setelah dini hari sebelumnya tangsi-tangsi Belanda di Semarang, Ambarawa dan Salatiga dihantam serangan udara.

Abdulrachman Saleh lahir pada 1 Juli 1909. Setelah mengenyam pendidikan Sekolah Tinggi Kedokteran Bumiputra (Stovia), dia mengalihkan ketertarikannya pada radio dengan memimpin perkumpulan pemuda radio (VORO).

Pada 1946, setelah bergabung dengan Tentara Republik Indonesia Oedara (TRI Oedara, cikal-bakal TNI AU), Abdulrachman Saleh yang dijuluki Karbol diangkat menjadi Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Maospati, Madiun. Ketika tewas dalam tragedi Dakota VT-CLA, dia merangkap jabatan Danlanud Bugis Malang dan Deputi II KSAU.

Jenazah Abdulrachman Saleh dimakamkan di pemakaman Kuncen. Pada 14 Juli 2000, dipindahkan ke Kompleks Monumen Perjuangan TNI AU di Ngoto, Bantul. Pangkatnya dinaikkan secara anumerta jadi marsekal muda dan diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 1974. Pendiri Sekolah Teknik Udara dan Radio Udara di Malang itu juga diabadikan jadi nama bandara di Malang menggantikan Lanud Bugis.

5. Agustinus Adisucipto

Bersama Abdulrahman Saleh, Komodor Muda Udara Agustinus Adisucipto turut jadi korban jatuhnya Dakota VT-CLA. Lahir di Salatiga, Jawa Tengah pada 3 Juli 1916, Adisucipto mengenyam pendidikan ML KNIL di Kalijati seperti Suryadi Suryadharma dan Husein Sastranegara. Biografi Suryadi Suryadharma, Bapak Angkatan Udara, menyebut bahwa Adisucipto lulus dengan ijazah Groet Militair Brevet atau Brevet Penerbang Tingkat Atas.

Di masa revolusi, Adisucipto jadi salah satu figur kepercayaan Suryadi Suryadharma. Kala TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Djawatan Oedara diresmikan Presiden Sukarno pada 9 April 1946, Adisucipto diangkat jadi Wakil KSAU II dengan pangkat komodor muda udara. Dia mendirikan Sekolah Penerbang Darurat di Maguwo, Yogyakarta.

Awalnya, jasad Adisucipto dimakamkan di Kuncen, kemudian dipindahkan ke Desa Ngoto, Bantul, Yogyakarta. Pangkatnya dinaikan menjadi marsekal muda udara serta diangkat jadi Pahlawan Nasional pada 1974. Namanya diabadikan jadi Bandara Internasional Adisucipto Yogyakarta menggantikan Bandara Maguwo.

6. Husein Sastranegara

Opsir Udara I Husein Sastranegara lahir di Cianjur, 20 Januari 1919. Dia mengikuti pendidikan ML KNIL dan lulus dengan ijazah Kleine Militair Brevet atau Brevet Penerbang Tingkat Pertama dalam pendidikan Aspirant Officier Kortverband Leerling Vlieger.

Husein salah satu penerbang terbaik pada awal perkembangan TNI AU di masa revolusi. Nahas, dia meninggal saat berlatih bersama Sersan Mayor Rukidi. Pesawat Ki-55 Cukiu yang diterbangkannya jatuh di Gowongan Lor, Yogyakarta pada 26 September 1946, karena mesin pesawat macet.

Buku Sedjarah Pertumbuhan AURI mencatat, sedianya setelah latihan, Husein dijadwalkan mengantar Perdana Menteri Sutan Sjahrir dari Pangkalan Udara Maguwo ke Malang, Jawa Timur. Sjahrir tetap terbang ke Malang dengan pilot pengganti, Kadet Wim Prayitno, menggunakan pesawat Yokosuka K5Y Cureng. Pada 1952, namanya diabadikan jadi Bandara Husein Sastranegara di Bandung menggantikan Pangkalan Udara Andir.

Ads Aktualitas