Berita
Tak Kooperatif dalam Sidang, Jaksa Minta Hakim Tolak Justice Collaborator Wahyu Setiawan
AKTUALITAS.ID – Jaksa Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta majelis hakim menolak permohonan Justice Collaborator (JC) yang diajukan oleh terdakwa Wahyu Setiawan selaku mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU). Alasannya, Wahyu merupakan pelaku utama dan bertindak tidak terlalu kooperatif dalam persidangan. “Kami selaku penuntut umum menilai bahwa Terdakwa I tidak layak untuk dapat […]
AKTUALITAS.ID – Jaksa Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta majelis hakim menolak permohonan Justice Collaborator (JC) yang diajukan oleh terdakwa Wahyu Setiawan selaku mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Alasannya, Wahyu merupakan pelaku utama dan bertindak tidak terlalu kooperatif dalam persidangan.
“Kami selaku penuntut umum menilai bahwa Terdakwa I tidak layak untuk dapat ditetapkan sebagai JC karena yang bersangkutan tidak memenuhi persyaratan sebagaimana yang ditentukan dalam SEMA Nomor 04 tahun 2011,” ujar Jaksa Sigit Waseso, Senin (3/8/2020).
Berdasarkan fakta hukum persidangan, jaksa mengungkapkan Wahyu sebagai pelaku utama terlihat dari peranannya yang menerima uang dari berbagai sumber.
Yakni dari kader PDIP Saeful Bahri sejumlah Rp600 juta terkait permohonan penggantian caleg DPR RI Riezky Aprilia kepada Harun Masiku di KPU.
Kemudian, Rp500 juta dari Sekretaris KPU Provinsi Papua Barat Rosa Muhammad Thamrin Payapo terkait pemilihan Calon Anggota KPU Daerah Provinsi Papua Barat periode 2020-2025.
Selain itu, jaksa memandang Wahyu telah memberikan keterangan berbelit-belit dengan sejumlah bantahan saat sidang berlangsung.
“Seperti bantahan ‘hanya bercanda’ menuliskan ucapan ‘1000’, bantahan mengenai uang yang diterima dari Saeful Bahri tidak terkait dengan surat permohonan penggantian caleg Harun Masiku di KPU RI, bantahan mengenai uang yang ditransfer Rosa Muhammad Thamrin Payapo adalah untuk bisnis properti,” tutur Jaksa.
“Di mana bantahan-bantahan tersebut sama sekali tidak beralasan karena bertentangan dengan keterangan saksi-saksi maupun alat bukti lainnya,” lanjutnya.
Sebagai informasi, JC merupakan saksi pelaku yang bersedia membantu aparat penegak hukum untuk mengungkap suatu tindak pidana dengan memberikan informasi kepada penegak hukum dan memberikan kesaksian di dalam proses peradilan. JC dapat menjadi faktor meringankan hukuman.
Syarat menjadi JC sendiri diatur dalam Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2011.
Syarat itu di antaranya, bukan pelaku utama, mengakui kejahatan yang dilakukan, memberikan keterangan sebagai saksi dan memberikan bukti-bukti yang sangat signifikan untuk mengungkap pelaku lain yang memiliki peran lebih besar, dan mengembalikan aset atau hasil suatu tindak pidana.
-
Berita21/07/2026 20:50 WIBPekerja Pertamina Balongan Gelar Aksi Melawan ‘Sunat’ Upah akibat Pergantian Vendor
-
RIAU22/07/2026 10:52 WIBDiikuti 15.080 Pelari, Riau Bhayangkara Run 2026 Ciptakan Ekonomi Daerah Rp58,9 Miliar
-
NASIONAL22/07/2026 07:00 WIBBaru Sebulan Menjabat, Kepala BGN Pilih Mundur
-
NASIONAL21/07/2026 20:30 WIBKPK Sita Barang Bukti Rp9,06 Miliar dalam OTT Korupsi Pemkab Lombok Barat
-
POLITIK22/07/2026 11:00 WIBSaan Tegaskan RUU Pemilu Tak Ganggu Agenda Pemilu
-
NASIONAL21/07/2026 17:00 WIBGERTAK: Presiden Prabowo Tak Pernah Intervensi Penegakan Hukum Kasus Febrie
-
JABODETABEK22/07/2026 05:30 WIBBMKG: Jakarta Didominasi Cuaca Berawan
-
NASIONAL21/07/2026 17:35 WIBDPR Minta Penanganan Kasus Febrie Transparan

















