Connect with us

EKBIS

AstraZeneca Tegaskan Kembali Kepercayaan pada China

Aktualitas.id -

Arsip Foto: Menunjukkan basis produksi dan pasokan aerosol inhalasi AstraZeneca yang terletak di Qingdao, Provinsi Shandong, China timur. (Xinhua/Li Ziheng).

AKTUALITAS.ID – China merupakan pasar terbesar kedua AstraZeneca sekaligus pusat strategis untuk inovasi global, memasok obat-obatannya ke lebih dari 70 pasar. Sejak memasuki China pada 1993, perusahaan tersebut telah memperkenalkan lebih dari 40 obat inovatif, yang mencakup berbagai bidang terapi termasuk onkologi, penyakit pernapasan, penyakit langka, serta vaksin dan imunologi.

China menjadi kontributor penting bagi inovasi ilmiah dan manufaktur canggih serta kekuatan pendorong bagi kemakmuran bersama di seluruh dunia, demikian disampaikan oleh CEO AstraZeneca Pascal Soriot, raksasa farmasi Inggris kepada Xinhua pada Jumat (30/1/2026).

Soriot menyampaikan pernyataan itu dalam sebuah wawancara di Beijing, sehari setelah perusahaan tersebut berjanji menginvestasikan 15 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp16.786) di China hingga 2030 untuk memperluas fasilitas produksi serta fasilitas penelitian dan pengembangan (litbang) obat-obatan.

Menurut Soriot, pencapaian ilmiah China yang terus berkembang, optimalisasi kebijakan keterbukaan, dan dukungan teguh terhadap kerja sama internasional telah mendorong kepercayaan dan investasi berkelanjutan perusahaan tersebut dalam perekonomian China.

“Dalam lima hingga enam tahun terakhir, China menjadi bagian fundamental dari inovasi di bidang farmasi global,” tutur Soriot, seraya menambahkan bahwa investasi itu menandai babak baru bagi AstraZeneca di China dan akan memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan berkualitas tinggi di China.

Selain pusat litbang strategis AstraZeneca di Beijing dan Shanghai, investasi tersebut akan semakin memperluas fasilitas produksi yang ada di Beijing dan di Wuxi, Taizhou, dan Qingdao di China timur, bersamaan dengan pendirian dua pabrik baru yang berfokus pada terapi sel dan radioconjugate. Terapi radioconjugate merupakan metode baru untuk pengobatan kanker.

Investasi-investasi itu akan meningkatkan jumlah tenaga kerja terampil AstraZeneca di China menjadi lebih dari 20.000 orang dan menciptakan ribuan lapangan kerja tambahan di seluruh ekosistem perawatan kesehatan, ungkap perusahaan tersebut.

Pada 2024, perusahaan AstraZeneca mengumumkan akan menginvestasikan 475 juta dolar AS di pabriknya yang berada di Wuxi, diikuti oleh investasi sebesar 2,5 miliar dolar AS di Beijing berdasarkan perjanjian yang ditandatangani pada 2025, yang berlangsung selama lima tahun ke depan.

China mendorong para pemimpin bisnis global untuk datang ke China, berinvestasi di China serta mendukung agenda kemakmuran bersama. Soriot menyampaikan bahwa AstraZeneca merasa terhormat untuk menanggapi seruan ini dengan berkontribusi pada pengembangan ilmu hayati global.

“Berinvestasi untuk pasien di China juga berarti berinvestasi dalam inovasi, produksi, dan ekspor obat-obatan tersebut ke seluruh dunia,” ujarnya.

Sebagai anggota delegasi kunjungan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer ke China, Soriot menegaskan kembali optimismenya tentang perkembangan masa depan China dan prospek kerja sama bilateral antara kedua negara.

Di luar sektor ilmu hayati, Soriot menyampaikan terdapat juga potensi kolaborasi yang sangat besar di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), energi hijau, dan banyak bidang lainnya.

“Kami ingin berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan China, dan kami juga menyambut persaingan, karena hal itu menghasilkan lebih banyak produk yang bermanfaat bagi pasien di seluruh dunia,” tuturnya.

(Yan Kusuma/goeh)

TRENDING

Exit mobile version