Connect with us

EKBIS

Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp16.851 di Tengah Konflik Global

Aktualitas.id -

Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp16.851 di Tengah Konflik Global, Dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada awal perdagangan Rabu, (11/3/2026). Di pasar spot, rupiah berada di level Rp16.851 per dolar AS, menguat dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Penguatan ini membuat rupiah naik sekitar 12 poin atau 0,07 persen dari posisi penutupan Selasa (10/3/2026) yang berada di level Rp16.863 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.07 WIB, rupiah tercatat bergerak di zona hijau dengan penguatan tipis, sementara indeks dolar AS terlihat relatif stabil di kisaran 98,83.

Sementara itu, data Refinitiv menunjukkan rupiah bahkan sempat menguat lebih tinggi, yakni 0,21 persen ke posisi Rp16.820 per dolar AS pada awal perdagangan.

Penguatan rupiah hari ini melanjutkan tren positif dari perdagangan sebelumnya. Pada penutupan Selasa (10/3/2026), rupiah berhasil menguat cukup signifikan sebesar 0,47 persen dan ditutup di level Rp16.855 per dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia terpantau menguat tipis 0,01 persen ke level 98,836 pada pukul 09.00 WIB.

Pergerakan mata uang di kawasan Asia pada pagi ini cenderung bervariasi. Dolar Singapura menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah naik 0,08 persen terhadap dolar AS.

Selanjutnya dolar Taiwan menguat 0,07 persen, sementara yuan China naik tipis 0,02 persen terhadap mata uang Amerika Serikat tersebut.

Sebaliknya, beberapa mata uang Asia justru melemah. Won Korea Selatan tercatat menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah terkoreksi 0,17 persen.

Kemudian yen Jepang melemah 0,13 persen, baht Thailand turun 0,12 persen, serta ringgit Malaysia terkoreksi 0,09 persen.

Selain itu, peso Filipina turun 0,03 persen dan dolar Hong Kong melemah tipis 0,004 persen pada perdagangan pagi ini.

Pergerakan rupiah ke depan masih sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik di Timur Tengah, yang turut memengaruhi arah pergerakan dolar AS.

Saat ini dolar AS cenderung bergerak stabil karena pelaku pasar memilih menahan posisi sambil menunggu perkembangan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Pasar sebelumnya sempat berharap Presiden AS Donald Trump akan mendorong upaya penghentian konflik. Namun di sisi lain, Trump juga beberapa kali melontarkan ancaman keras kepada Iran, terutama jika negara tersebut mencoba mengganggu jalur pasokan energi di Selat Hormuz.

Dolar AS yang sebelumnya sempat menguat akibat lonjakan harga minyak kini mulai kehilangan sebagian momentumnya. Hal ini dipicu oleh harapan bahwa konflik dapat mereda lebih cepat, meskipun banyak pelaku pasar masih meragukan perang akan segera berakhir.

Situasi semakin memanas setelah AS dan Israel kembali melancarkan serangan udara ke Iran pada Selasa (10/3/2026) waktu setempat. Pentagon menyebut serangan tersebut sebagai salah satu yang paling intens sejak konflik dimulai.

Di sisi lain, Garda Revolusi Iran memperingatkan akan memblokir pengiriman minyak dari kawasan Teluk jika serangan tidak dihentikan. Ancaman ini meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.

Perkembangan yang cepat dan dinamis di Timur Tengah membuat investor global cenderung berhati-hati. Banyak pelaku pasar memilih menunggu kepastian arah konflik sebelum mengambil langkah investasi lebih lanjut.

Dalam kondisi tersebut, setiap perubahan pada indeks dolar AS diperkirakan akan langsung memengaruhi pergerakan berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah. (Firmansyah/Mun)

TRENDING

Exit mobile version