JABODETABEK
Masjid Jami Al Anwar: Saksi Bisu Sejarah Kelam ‘Rawabangke’ di Jatinegara
AKTUALITAS.ID – Kawasan Rawabunga, Jatinegara, Jakarta Timur, menyimpan sejarah panjang yang erat kaitannya dengan Masjid Jami Al Anwar, masjid tertua di wilayah tersebut. Nama Rawabunga sendiri ternyata berasal dari sebutan lama, yaitu Rawabangke, yang memiliki cerita kelam dari masa penjajahan Belanda.
Muhammad Rasyid, pencerita sejarah Masjid Jami Al Anwar, mengungkapkan bahwa nama Rawabangke muncul karena banyaknya korban kerja paksa (rodi) yang berguguran saat membangun rel kereta api dan jalan di sekitar rawa-rawa pada masa kolonial Belanda. “Banyak mayat bergelimpangan, sehingga daerah ini disebut Rawabangke. Itu terjadi sekitar tahun 1812-1840-an,” jelas Rasyid.
Di tengah kisah kelam tersebut, Masjid Jami Al Anwar hadir sebagai tempat ibadah satu-satunya di Jatinegara pada masa itu. Masjid ini didirikan oleh Datuk Umar, yang juga dikenal sebagai Datuk Biru, dan menjadi saksi bisu perjuangan masyarakat melawan penjajahan.
Sejarah Panjang Masjid Jami Al Anwar
Masjid Jami Al Anwar diperkirakan telah berdiri sebelum tahun 1700-an. Pondasi, pintu, dan mimbar masjid ini masih asli dan berusia ratusan tahun. Meski telah mengalami beberapa kali pemugaran, masjid ini tetap mempertahankan keasliannya.
“Renovasi terakhir yang tercatat adalah pada tahun 1930-1934, zaman Belanda. Tapi masjid ini sudah ada sejak tahun 1700-an, bahkan mungkin lebih awal,” kata Rasyid.
Masjid ini dibangun dengan gotong royong oleh 12 desa di sekitarnya. Setiap desa menyumbangkan satu tiang kayu jati asli dari Jawa Timur, sehingga masjid ini memiliki 12 tiang utama yang masih kokoh hingga kini. “Ini bukti kebersamaan masyarakat saat itu,” tambah Rasyid.
Selain tiang, enam pintu kayu di samping masjid dan mimbar untuk khutbah juga merupakan bagian asli yang masih bertahan. Mimbar tersebut bahkan telah berusia ratusan tahun dan menjadi saksi sejarah dakwah Islam di Jakarta Timur.
Pusat Dakwah dan Perjuangan
Masjid Jami Al Anwar tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat dakwah dan strategi perjuangan melawan penjajahan Belanda. Banyak ulama dan pejuang yang berkumpul di masjid ini untuk menyusun rencana perlawanan.
“Masjid ini menjadi sentral dakwah pertama di Jakarta Timur. Banyak ulama datang silih berganti untuk mensyiarkan Islam,” ujar Rasyid.
Makam Datuk Umar dan anaknya, Datuk Ali, juga berada di dalam kompleks masjid, menandakan betapa pentingnya peran mereka dalam sejarah masjid ini.
Warisan Budaya yang Tetap Lestari
Hingga kini, Masjid Jami Al Anwar tetap menjadi simbol kebanggaan warga Jatinegara. Keberadaannya tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai warisan budaya dan sejarah yang terus dijaga kelestariannya.
“Masjid ini adalah bukti nyata perjuangan dan kebersamaan masyarakat Jatinegara. Kami berharap generasi muda bisa terus merawat dan menghargai sejarah ini,” pungkas Rasyid.
Dengan sejarah panjangnya, Masjid Jami Al Anwar tidak hanya menjadi tempat suci, tetapi juga monumen hidup yang mengingatkan kita akan perjuangan dan persatuan masyarakat di masa lalu. (Mun/Yan Kusuma)
-
NASIONAL13/03/2026 21:43 WIBWakil Koordinator KontraS Disiram Air Keras di Jakarta Pusat
-
FOTO13/03/2026 15:20 WIBFOTO: Media Gathering dan Buka Puasa Dewan Nasional KEK
-
NASIONAL13/03/2026 22:30 WIBKontraS Ungkap Kronologi Penyiraman Air Keras ke Aktivis Andrie Yunus
-
JABODETABEK13/03/2026 13:30 WIBPelaku Pembacokan Pria di Cilincing Berhasil Ditangkap
-
DUNIA13/03/2026 12:00 WIBDK PBB Minta Iran Stop Serangan ke Negara-negara Teluk
-
NASIONAL13/03/2026 14:30 WIBSidang Kabinet Paripurna Soal Lebaran Digelar Presiden Prabowo Sore ini
-
OLAHRAGA13/03/2026 13:00 WIBGT World Challenge Asia Digelar di Mandalika
-
RAGAM13/03/2026 14:00 WIBFenomena Lonjakan Paket Jelang Lebaran