NASIONAL
Atalia Praratya: Kasus Aqib Jadi Alarm Nasional soal Kekerasan Anak
AKTUALITAS.ID – Tragedi kelam kembali mencoreng dunia pendidikan Tanah Air. Seorang bocah berusia 7 tahun, Muhammad Hasbi Al Aqib, siswa kelas II SDN 1 Kebondalem, Pemalang, Jawa Tengah, meregang nyawa usai menjadi korban perundungan (bullying) brutal di lingkungan sekolahnya.
Kematian tragis Aqib pada Rabu (30/9/2026) lalu memantik reaksi keras dari Senayan. Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi Partai Golkar, Atalia Praratya, menyoroti tajam kasus ini dan memperingatkan keras semua pihak agar berhenti mewajarkan atau bahkan menutupi tindak kekerasan pada anak.
“Ketika ada sebuah kasus yang ternyata kemudian dengan sengaja disembunyikan, ini harus menjadi awareness bagi kita semua, baik bagi orang tua maupun guru sebagai lingkungan terdekat,” tegas Atalia kepada wartawan, Rabu (7/10/2026).
Atalia mengaku sangat miris dan tak habis pikir bagaimana anak di bawah umur bisa melakukan kekerasan sebrutal itu hingga mencabut nyawa temannya sendiri. Menurutnya, bibit kekerasan ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan cerminan dari rusaknya lingkungan sekitar.
“Kita turut sedih, anak seusia begini kok bisa melakukan kekerasan brutal sampai menimbulkan kehilangan jiwa? Anak-anak belajar dari lingkungan, mencontoh dari apa yang mereka tonton atau melihat orang dewasa di sekitarnya,” sorot istri Ridwan Kamil tersebut.
Lebih tajam lagi, Atalia mengkritik keras fenomena ‘bystander’ atau kebiasaan anak-anak yang hanya menonton, menyemangati, atau membiarkan temannya disiksa tanpa berani melapor. Budaya abai ini, tegasnya, harus segera diputus.
Meski Indonesia sudah punya segudang regulasi perlindungan anak, Atalia menilai aturan di atas kertas tidak ada artinya tanpa kolaborasi nyata di lapangan. Ia mendesak pemerintah dan sekolah tidak saling lempar tanggung jawab.
“Anaknya masih sangat kecil, kadang mereka memendam dulu dan baru melapor saat rasa sakitnya sudah luar biasa parah,” ungkap Atalia prihatin.
Sebagai solusi mendesak, Atalia mendorong pembentukan dan penguatan Satuan Tugas (Satgas) anti-perundungan di setiap sekolah, baik madrasah maupun sekolah umum. Keberadaan satgas ini krusial agar anak-anak berani bersuara dan lingkungan sekolah tidak lagi menjadi ‘ladang pembantaian’ senyap bagi tunas bangsa.
“Anak itu harus diedukasi untuk berani menjadi pelapor dan pelopor. Jangan sampai ada Aqib-Aqib lain yang jadi korban!” pungkasnya. (Mun)
-
POLITIK08/10/2026 09:00 WIBKPU Angkat Bicara soal Syarat Pendidikan Gibran
-
FOTO07/10/2026 18:38 WIBFOTO: Presiden Prabowo Beri Taklimat kepada 800 Perwira Tinggi TNI-Polri se-Indonesia
-
RIAU07/10/2026 17:30 WIBTanam Matoa, Polsek Bengkalis Ingatkan Bahaya Membakar Hutan
-
POLITIK08/10/2026 09:15 WIBWawan Leak Desak Wapres Gibran Ditangkap dan Diadili
-
PAPUA TENGAH08/10/2026 06:00 WIBLolos Diskualifikasi Tapi Cacat Bukti, KPU Siapkan Aturan Baru
-
NASIONAL07/10/2026 16:00 WIBDPR Ingatkan Operator Seluler Lindungi Hak Pelanggan soal Sisa Kuota
-
RIAU07/10/2026 16:30 WIBCerita Warga Pekanbaru di Tengah Kepungan Kabut Asap
-
POLITIK07/10/2026 19:00 WIBAlmas: Ijazah Gibran Bisa Jadi Bom Waktu