Connect with us

NUSANTARA

Kasus Leptospirosis di Yogyakarta Tembus 19, Enam Orang Meninggal Dunia

Aktualitas.id -

Konferensi pers terkait lonjakan kasus leptospirosis di Kota Yogyakarta di Balai Kota Yogyakarta, Kamis (10/7/2025). (ANTARA)

AKTUALITAS.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mencatat lonjakan kasus leptospirosis pada semester pertama 2025. Hingga 8 Juli, total ada 19 kasus yang terkonfirmasi, dengan enam di antaranya meninggal dunia.

“Angka kematian ini cukup mengkhawatirkan, mencapai 31 persen dari total kasus,” ungkap Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Dinkes Kota Yogyakarta, Lana Unwanah, dalam konferensi pers di Balai Kota Yogyakarta, Kamis (10/7/2025).

Leptospirosis merupakan infeksi bakteri Leptospira yang ditularkan melalui air atau tanah yang terkontaminasi urin tikus. Penyakit ini kerap muncul usai hujan lebat atau banjir, dan dapat menyerang siapa saja tanpa memandang profesi.

Jumlah kasus tahun ini meningkat drastis dibanding periode yang sama pada 2024 yang hanya mencatat 10 kasus dan dua kematian. Temuan kasus tersebar di 11 dari 14 kemantren (kecamatan) di Kota Yogyakarta. Jetis dan Tegalrejo menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, masing-masing tiga kasus. Sementara, kasus kematian terjadi di lima kemantren: Pakualaman, Gedongtengen, Wirobrajan, Jetis, dan dua di Ngampilan.

Tiga kemantren yang masih bebas kasus adalah Kraton, Danurejan, dan Gondomanan.

Gejala Tak Khas, Banyak Pasien Terlambat Berobat

Lana menuturkan, tingginya angka kematian disebabkan oleh keterlambatan pemeriksaan, karena gejala leptospirosis yang tidak spesifik. “Gejalanya mirip penyakit ringan seperti masuk angin atau kelelahan—demam, pegal, nyeri kepala. Karena itu, banyak pasien tidak menyadari mereka terkena leptospirosis,” jelasnya.

Sebagian besar pasien baru mengakses layanan medis setelah kondisi memburuk. Salah satu kasus terbaru bahkan baru dirawat setelah seminggu sakit dan akhirnya meninggal dunia sehari setelah dirawat. Pasien tersebut sempat dirujuk dari rumah sakit tipe D ke fasilitas lebih besar, namun meninggal sebelum sempat menjalani cuci darah.

Dari enam pasien yang meninggal, korban termuda berusia 17 tahun, masih berstatus pelajar, sementara korban tertua berusia sekitar 50 tahun.

“Kerusakan ginjal akibat leptospirosis ini akut, bukan seperti gagal ginjal kronis. Kalau ditangani cepat, termasuk cuci darah bila perlu, pasien bisa sembuh total,” ujar Lana.

Tidak Hanya Pekerja Lapangan, Siapa Saja Bisa Terinfeksi

Faktor risiko penularan leptospirosis tidak selalu berkaitan dengan pekerjaan kotor atau lingkungan kumuh. Dari 19 kasus, beberapa pasien diketahui bekerja di lingkungan bersih seperti swalayan, atau masih berstatus pelajar.

“Ada yang hobi memancing atau habis camping. Artinya, siapa pun yang berkontak dengan air atau tanah tercemar tetap berisiko,” tegas Lana.

Imbauan Dinkes: Waspadai Lingkungan dan Segera Periksa Bila Demam

Dinkes Kota Yogyakarta mengimbau masyarakat lebih waspada, terutama setelah beraktivitas di tempat basah, becek, atau dekat saluran air. Warga diminta tidak mengabaikan gejala seperti demam, lemas, dan nyeri otot, apalagi jika habis terkena air banjir atau berkegiatan di alam.

“Segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul gejala. Jangan tunggu parah,” pungkas Lana. (ARI WIBOWO/DIN) 

Continue Reading

TRENDING

Exit mobile version