Connect with us

OASE

Surat Fushshilat: Pengakuan Orang Musyrik di Zaman Nabi Muhammad SAW

Aktualitas.id -

Surat Fushshilat, Foto: Ist

AKTUALITAS.ID – Al-Qur’an secara abadi merekam momen bersejarah ketika kaum musyrik Makkah menolak mentah-mentah dakwah Nabi Muhammad SAW. Penolakan ini bukan sekadar ketidaksetujuan, melainkan sebuah pengakuan keras kepala bahwa hati dan pendengaran mereka telah tertutup total dari cahaya kebenaran.

Kondisi spiritual yang gelap ini diabadikan Allah SWT dalam Surat Fussilat Ayat 5. Ayat ini menggambarkan bagaimana mereka membentengi diri dari hidayah dengan tiga lapis penolakan.

Bunyi dan Arti Surat Fussilat Ayat 5

Dalam ayat tersebut, kaum musyrik Makkah menyatakan secara langsung kepada Rasulullah SAW:

“Hati kami sudah tertutup dari apa yang engkau serukan kepada kami. Dalam telinga kami ada penyumbat dan di antara kami dan engkau ada tabir. Oleh sebab itu, lakukanlah apa yang kamu sukai; sesungguhnya kami pun akan melakukan apa yang kami sukai.” (QS. Fussilat: 5)

Tiga Bentuk Penolakan Kaum Musyrik

1 – Berdasarkan Tafsir Kementerian Agama (Kemenag), ayat ini menjelaskan tiga penyebab utama mengapa kaum musyrik mendustakan Al-Qur’an dan menjauh dari Islam:

2 – Hati yang Tertutup (Akinnah): Mereka mengakui hati dan pikiran mereka berada dalam wadah tertutup, sehingga hidayah dan ajakan iman tidak bisa menembus masuk ke dalam sanubari.

3 – Telinga yang Tersumbat (Waqrun): Pendengaran mereka seolah-olah tersumbat oleh penyakit tuli spiritual. Mereka menolak mendengarkan lantunan ayat suci maupun nasihat bijak dari Nabi Muhammad SAW.

Dinding Pemisah (Hijab): Mereka menciptakan jarak batin atau “tembok tebal” antara diri mereka dan Nabi. Ini adalah simbol permusuhan dan keengganan untuk berinteraksi dengan kebenaran.

Perumpamaan Jiwa yang Gelap

Para ahli tafsir memberikan perumpamaan mendalam mengenai kondisi jiwa orang-orang yang digambarkan dalam ayat ini. Hati mereka diibaratkan seperti benda yang terkurung dalam ruang gelap tanpa celah cahaya. Telinga mereka seperti orang tuli yang kehilangan fungsi pendengaran akan kebaikan.

Sikap mereka diserupakan dengan orang yang berdiri di balik dinding tebal dan tinggi, sehingga tidak mampu melihat petunjuk jalan yang lurus. Keadaan ini menegaskan bahwa seruan dakwah selembut apa pun tidak akan memberi manfaat selama mereka mempertahankan kesombongan tersebut.

Allah Menjaga Kaum Beriman

Meskipun kaum musyrik melontarkan tantangan dengan berkata, “Lakukanlah apa yang kamu sukai,” ayat ini juga menyiratkan pesan optimisme bagi umat Islam.

Sikap keras kepala dan tipu daya musuh-musuh Islam tidak akan mampu menggagalkan misi dakwah Nabi Muhammad SAW. Allah SWT menegaskan bahwa Dia senantiasa menjaga kaum Muslimin, sementara hati yang menolak kebenaran akan semakin terkunci dalam kegelapan.

Ayat ini menjadi pengingat abadi bahwa hidayah adalah hal yang mahal, yang hanya akan turun kepada mereka yang mau membuka hati dan akalnya. (Mun)

Continue Reading

TRENDING

Exit mobile version