Connect with us

DUNIA

Indonesia Muncul dalam 902 Dokumen Baru Kasus Jeffrey Epstein, Ini Isi dan Faktanya

Aktualitas.id -

Ilustrasi, Dok: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Nama Indonesia tercatat dalam ratusan dokumen baru terkait kasus predator seksual Jeffrey Epstein yang dirilis Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (Department of Justice/DOJ) pada pekan lalu. Total terdapat 902 dokumen yang memuat kata “Indonesia” dari jutaan arsip yang kini dibuka untuk publik.

Dokumen-dokumen tersebut diunggah langsung ke situs resmi Kementerian Kehakiman AS dan dapat diakses secara terbuka. Namun, kemunculan nama Indonesia tidak serta-merta berkaitan langsung dengan kejahatan seksual Epstein.

Berdasarkan penelusuran, mayoritas dokumen yang menyebut Indonesia berisi catatan administratif, seperti pengiriman barang, invoice, serta berbagai lampiran transaksi dan korespondensi yang menuju atau berasal dari Amerika Serikat.

Selain itu, sejumlah file mencantumkan Indonesia sebagai rujukan berita atau bahan briefing, bukan sebagai bagian dari jaringan kejahatan Epstein. Salah satunya adalah laporan JP Morgan tahun 2014 yang digunakan sebagai materi analisis ekonomi dan politik global.

Dalam dokumen bertajuk “The J.P. Morgan View: Risks and Timing”, Indonesia disebut dalam konteks pemilihan presiden 2014.

“Di pasar negara berkembang, peristiwa politik penting adalah pemilihan presiden di Indonesia. Pekan ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyatakan Widodo sebagai pemenang dengan selisih suara yang cukup besar,” tulis laporan tersebut.

JP Morgan juga menyinggung potensi gugatan hasil pemilu oleh Prabowo Subianto, serta optimisme terhadap perbaikan tata kelola pemerintahan dan reformasi struktural Indonesia pasca pembentukan pemerintahan baru.

Selain laporan ekonomi, terdapat pula dokumen yang melampirkan artikel media internasional yang menyinggung situasi keamanan di Indonesia. Salah satunya adalah artikel Channel NewsAsia berjudul “Terror cells in Indonesia continue to recruit and plot attacks amid COVID-19” tertanggal Januari 2021.

Di dokumen lain, nama Indonesia muncul dalam daily briefing serta buletin analisis geopolitik seperti The Shimon Post. Buletin tersebut menyinggung Indonesia dalam konteks sejarah politik, termasuk peristiwa krisis 1998 dan posisi Presiden kedua RI, Soeharto, dalam tulisan Theodore Friend tentang Arab Spring 2011.

Menariknya, salah satu dokumen FBI berlabel unclassified (tidak rahasia) juga mencantumkan nama pengusaha Indonesia Hary Tanoesoedibjo. Dokumen tersebut merupakan laporan Federal Bureau of Investigation CHS Reporting pada Oktober 2020.

CHS Reporting adalah dokumen resmi FBI yang memuat informasi dari confidential human sources (sumber rahasia). Laporan ini berkaitan dengan penyelidikan dugaan pengaruh domestik dan asing terhadap proses pemilu Amerika Serikat pada 2019, serta relasi politik sejumlah tokoh AS yang memiliki keterkaitan dengan Jeffrey Epstein.

Dalam laporan tersebut, Hary Tanoesoedibjo disebut sebagai miliarder yang terlibat dalam pengembangan hotel Trump dan pernah membeli properti milik Donald Trump di Beverly Hills. Namun, dokumen itu tidak memuat tuduhan pidana terhadap Hary maupun mengaitkannya dengan kejahatan seksual Epstein.

Selain itu, terdapat pula korespondensi manajer hotel di Bali dengan pihak-pihak yang disebut terafiliasi dengan Epstein. Namun lagi-lagi, dokumen tersebut bersifat administratif dan belum menunjukkan adanya keterlibatan hukum atau pidana di Indonesia.

Secara keseluruhan, meski nama Indonesia muncul dalam ratusan dokumen kasus Jeffrey Epstein, tidak ditemukan indikasi bahwa Indonesia atau tokoh-tokohnya terlibat langsung dalam jaringan kejahatan seksual Epstein. Mayoritas penyebutan bersifat kontekstual, administratif, atau rujukan informasi global. (Mun)

Continue Reading

TRENDING