RILEKS
Swafoto di Lokasi Bencana: Empati atau Pamer?
Antara solidaritas dan kebutuhan eksistensi di lokasi bencana.
Di TENGAH puing bangunan, jerit tangis korban, dan relawan yang nyaris tumbang karena lelah, ada satu hal yang tetap tegak berdiri, kamera ponsel. Lensa menghadap wajah sendiri, senyum tipis dipoles secukupnya, lalu cekrek. Bencana pun resmi berubah fungsi dari tragedi kemanusiaan menjadi latar eksistensi.
Menyedihkan? Jelas. Mengganggu? Pasti. Tapi rupanya, di zaman ini, empati belum sah kalau belum diunggah. Kepedulian dianggap belum terjadi kalau belum lewat story. Ironisnya, penderitaan orang lain cukup dijadikan properti visual, asal diri sendiri tetap terlihat “peduli”.
Jean Baudrillard sudah lama mengingatkan ketika representasi mengambil alih realitas, yang tersisa hanya simulasi. Dan begitulah bencana hari ini disulap jadi konten. Tangis korban cukup jadi latar, puing-puing jadi dekor, sementara sorotan utama tetap wajah sendiri. Tragedi direduksi jadi tontonan singkat, cukup untuk satu kali scroll.
Lalu kita patut bertanya, meski rasanya jawaban sudah telanjang, konten itu dibuat untuk siapa? Korban jelas bukan. Publik mungkin sekadar bonus. Yang paling diuntungkan adalah ego dan algoritma. Martabat manusia? Maaf, sering kali tak masuk frame.
Sosiolog asal Kanada, Erving Goffman, dalam bukunya yang berjudul The Presentation of Self in Everyday Life (1956/1959), menyebut manusia gemar bermain peran di ruang publik. Media sosial membuat panggung itu tak berbatas. Bahkan duka pun bisa dijadikan kostum. Bahkan nestapa bisa jadi properti. Di situlah empati dan narsisme berdempetan, tapi yang satu sering tersingkir oleh kebutuhan eksistensi.
Bencana sejatinya bukan panggung moral dadakan. Ia bukan tempat unjuk kepedulian instan. Ia adalah ruang sunyi yang menuntut sikap, bukan pose. Solidaritas, bukan sudut kamera. Tapi apa daya, bagi sebagian orang, kamera depan lebih penting daripada cermin nurani.
Marshall McLuhan, teoretikus komunikasi asal Kanada yang terkenal dalam studi media dan budaya, dalam karyanya Understanding Media: The Extensions of Man (1964), pernah berkata the medium is the message.
Media membentuk cara kita memandang dunia. Dan hari ini, media sosial ikut membentuk cara kita memandang bencana cepat, dangkal, dan mudah dilupakan. Di sanalah tanggung jawab moral seharusnya berdiri, meski sering ditinggal sendirian.
Jika penderitaan saja masih bisa dijadikan latar swafoto, mungkin yang paling parah terdampak bukan hanya korban bencana. Bisa jadi, rasa kemanusiaan kita sendiri yang sedang runtuh perlahan, tapi pasti.
Semoga saja saya salah dalam menerka dan rasa kemanusiaan tetap ada sebagaimana sejatinya tanpa ada frame yang tercipta. (KBH)
-
POLITIK15/01/2026 11:00 WIBKPU Akan Bahas Putusan KIP soal Ijazah Jokowi dalam Rapat
-
EKBIS15/01/2026 08:10 WIBCari Bengkel AC Mobil Terdekat? Wijaya AC Mobil Solusinya
-
POLITIK15/01/2026 06:00 WIBMasuk Prolegnas Prioritas 2026, Revisi UU Pemilu Mulai Dikebut Komisi II DPR
-
POLITIK15/01/2026 07:00 WIBKetua DPD: Pilkada Gubernur Lewat DPRD Bisa Jadi Pilihan
-
NASIONAL15/01/2026 14:00 WIBPLTA Mentarang Induk: Proyek Raksasa yang Mengancam Lingkungan dan Masyarakat Adat
-
NASIONAL15/01/2026 10:00 WIBKPK Endus Aliran Uang Suap Kasus ‘Diskon’ Pajak Mengalir ke Oknum Ditjen Pajak Kemenkeu
-
OASE15/01/2026 05:00 WIB
Tafsir Surat Al-Zalzalah: Peringatan Guncangan Hari Akhir dan Keadilan Allah SWT
-
EKBIS15/01/2026 10:30 WIBNilai Tukar Rupiah Menguat terhadap Dolar AS pada Pembukaan Perdagangan Kamis
















