EKBIS
Rupiah Tumbang Lagi
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Rabu (3/6/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah 39 poin atau 0,22 persen ke level Rp17.878 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.839 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, rupiah menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan paling tajam di kawasan Asia. Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah dinamika pasar global yang masih berfluktuasi dan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar.
Pelemahan rupiah kali ini bahkan menjadi yang terdalam di antara mata uang utama Asia. Setelah rupiah, pelemahan terbesar dialami ringgit Malaysia yang turun 0,25 persen, disusul baht Thailand sebesar 0,09 persen, yuan China 0,05 persen, dan peso Filipina 0,02 persen.
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia masih mampu mencatatkan penguatan terhadap dolar AS. Dollar Taiwan memimpin kenaikan dengan menguat 0,12 persen, diikuti won Korea Selatan 0,07 persen, yen Jepang 0,04 persen, dollar Singapura 0,02 persen, dan dollar Hong Kong 0,01 persen.
Meski demikian, indeks dolar AS (DXY) justru tercatat melemah tipis 0,01 persen ke level 99,21. Posisi tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level 99,22.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan kurs rupiah berada di level Rp17.858 per dolar AS pada waktu yang hampir bersamaan. Angka tersebut masih menunjukkan tekanan terhadap mata uang domestik meski terdapat perbedaan tipis antarplatform penyedia data pasar.
Pelemahan rupiah juga terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat bergerak di zona merah pada awal perdagangan. Hingga pukul 09.58 WIB, IHSG terkoreksi 72,281 poin atau 1,17 persen ke level 6.123,145.
Kondisi ini menunjukkan sentimen pasar yang masih cenderung negatif. Investor terlihat melakukan aksi jual di sejumlah instrumen keuangan seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan pergerakan modal asing yang masih fluktuatif.
Pelaku pasar kini menantikan berbagai data ekonomi global dan kebijakan moneter yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan nilai tukar rupiah serta pasar keuangan Indonesia dalam beberapa waktu ke depan. (Firman/Mun)
-
NASIONAL16/10/2026 11:00 WIBPengamat SDI: Karhutla Membakar Masa Depan Anak
-
NUSANTARA16/10/2026 08:30 WIBBMKG Bunyikan Alarm ‘AWAS’ Kekeringan di 22 Provinsi
-
JABODETABEK16/10/2026 17:30 WIBBMKG: Jakarta Mulai Terpapar Asap Karhutla Kalimantan
-
EKBIS16/10/2026 09:30 WIBIHSG AMBRUK 11%
-
DUNIA16/10/2026 15:00 WIBAsap Karhutla Mengerikan! Langit Indonesia Jadi Sorotan Dunia
-
EKBIS16/10/2026 13:00 WIBPengamat Ekonomi: Pariwisata Bali Terancam Gara-Gara Antrean BBM
-
EKBIS16/10/2026 09:00 WIBEddy Soeparno: RI Bisa Jadi Raja Energi Bersih Dunia
-
NASIONAL16/10/2026 10:00 WIBRUU Perampasan Aset Bidik Kripto dan Saham

















