Connect with us

DUNIA

Konflik Iran, Kurdi Tak Mau Jadi Pion AS

Aktualitas.id -

Kurdi Ogah Jadi Pion AS dalam Konflik Iran, Ilustrasi, Dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Di tengah memanasnya suhu geopolitik di Timur Tengah akibat konfrontasi Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran, suara penolakan keras muncul dari jantung komunitas Kurdi. Ibu Negara Irak, Shanaz Ibrahim Ahmed, dengan tegas menyatakan bahwa Suku Kurdi menolak untuk kembali dijadikan “pion” atau tentara bayaran dalam ambisi perang negara adidaya.

Pernyataan ini muncul menyusul spekulasi mengenai rencana Presiden AS, Donald Trump, yang berniat mempersenjatai faksi-faksi Kurdi untuk melakukan serangan darat ke wilayah Iran guna menggulingkan pemerintahan di Teheran.

Bagi Shanaz Ibrahim Ahmed, ajakan kerja sama militer dari Washington bukanlah hal baru, melainkan pengulangan sejarah yang kelam. Ia mengingatkan kembali tragedi tahun 1991, saat rakyat Kurdi didesak melawan Saddam Hussein namun kemudian ditinggalkan sendirian saat prioritas AS berubah.

“Kami tidak melupakan apa yang telah diajarkan sejarah kepada kami. Tidak ada yang membela kami ketika rezim (Saddam) mengerahkan helikopter dan tank untuk menumpas kami,” ujar Shanaz melalui pernyataan resminya, Jumat (6/3/2026).

Kenangan akan pembantaian tersebut, yang dikenal dengan sebutan ‘Raparin’, masih terukir jelas dalam ingatan kolektif rakyat Kurdi. Begitu pula dengan tragedi di Rojava, Suriah, di mana pejuang Kurdi berdiri di garis depan melawan ISIS namun merasa dikhianati setelah tujuan politik negara-negara tertentu tercapai.

Shanaz, yang juga politisi senior Partai Patriotik Kurdi (PUK), menekankan bahwa saat ini rakyat Kurdi di Irak telah merasakan stabilitas dan perdamaian yang selama ini diperjuangkan. Baginya, menyeret kembali pemuda Kurdi ke palagan perang hanya akan merusak martabat dan kehidupan yang baru saja membaik.

“Biarkan Kurdi sendiri. Kami bukan tentara bayaran. Terlalu sering Kurdi hanya diingat ketika pengorbanan mereka dibutuhkan,” tegas istri Presiden Irak Abdul Latif Jamal Rashid tersebut.

Penegasan ini menjadi sangat krusial mengingat laporan intelijen menyebutkan adanya proposal dari CIA kepada faksi-faksi Kurdi terbesar untuk masuk ke wilayah Iran. Strategi ini diduga diambil AS untuk menghindari jatuhnya korban jiwa dari tentara resmi Amerika, sembari tetap menekan Teheran melalui perang darat.

Di sisi lain, ketegangan kian nyata setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mulai melakukan pengeboman di wilayah perbatasan yang dihuni Suku Kurdi sebagai langkah antisipasi terhadap rencana infiltrasi tersebut.

Bagi tokoh-tokoh Kurdi, pesan mereka sudah jelas: masa depan mereka tidak lagi ditentukan oleh janji manis negara adidaya, melainkan oleh ketenangan dan kedaulatan di tanah mereka sendiri. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version