NASIONAL
Jejak Sunyi Gerakan Anarkis di Tanah Air
AKTUALITAS.ID – Jika mendengar kata anarki di Indonesia, bayangan yang muncul seringkali adalah kerusuhan, vandalisme, atau kekacauan yang memicu ketakutan. Dari pendukung fanatik klub sepak bola hingga kelompok fundamentalis, istilah ini digunakan negara untuk menyematkan cap ‘berbahaya’ bagi siapa pun yang dianggap mengganggu stabilitas. Bahkan sejak tahun 2010, aparat keamanan sudah memiliki pedoman resmi bertajuk “Protap Anti-Anarki” dan wacana pembentukan satuan khusus anti-anarki yang pada awalnya diarahkan pada massa keagamaan, namun kemudian melebar hingga menyentuh ranah ideologi.
Namun, di balik label negatif tersebut tersembunyi sejarah panjang dan kompleks dari sebuah gerakan ideologis bernama anarkisme. Gerakan ini bukan baru muncul kemarin sore, melainkan telah berakar sejak zaman kolonial, tumbuh bersamaan dengan nasionalisme dan komunisme, dan terus bertahan—meski sering kali dibungkam dan disingkirkan.
Warisan dari Masa Kolonial
Jejak awal anarkisme di Indonesia dapat ditelusuri kembali ke abad ke-19, melalui pemikiran anti-kolonial yang menginspirasi tokoh-tokoh perjuangan. Novel legendaris Max Havelaar karya Multatuli pada 1860, yang mengkritik keras pemerintah kolonial Belanda, menjadi salah satu karya sastra yang memberi pengaruh kuat terhadap wacana perlawanan. Bahkan cucunya, E.F.E. Douwes Dekker, dikenal menjalin hubungan dengan kaum radikal dan menyebarkan gagasan kebebasan melalui tulisannya.
Pada masa Hindia Belanda, semangat anarkisme menyebar tak hanya melalui tokoh Eropa, tapi juga melalui komunitas Tionghoa dan jaringan regional dengan Filipina, Malaya, dan Cina. Rumah baca, surat kabar, dan organisasi rakyat menjadi media penyebaran gagasan—yang tak jarang berujung pada represi. Tahun 1927, beberapa anggota Sarekat Ra’jat ditangkap dan dibuang ke Papua Barat atas tuduhan ‘anarkisme’.
Tak hanya orang-orang dari kalangan bawah yang terlibat. Sutan Sjahrir, yang kelak menjadi Perdana Menteri pertama Indonesia, sempat bersentuhan dengan gagasan anarkisme selama studinya di Belanda. Bahkan PKI yang Marxis-Leninis, pada awalnya juga memuat pemikiran anarkis seperti Mikhail Bakunin dalam publikasi mereka—sebelum diseragamkan secara ideologis.
Ketika Anarkisme Dijegal Nasionalisme
Namun masa keemasan anarkisme tak bertahan lama. Sukarno, meski sesekali mengutip Bakunin, menyatakan secara tegas penolakannya terhadap anarkisme dalam tulisannya tahun 1932. Ia menilai anarkisme sebagai ancaman terhadap semangat kenegaraan dan patriotisme. Bagi Sukarno, membangun negara adalah tujuan utama—dan itu berarti menerima struktur kekuasaan, sesuatu yang ditolak mentah-mentah oleh kaum anarkis.
Setelah kemerdekaan, hegemoni PKI menjadi arus utama gerakan kiri, hingga tragedi 1965 menghapus seluruh lanskap politik kiri Indonesia. Ratusan ribu orang dibunuh, jutaan lainnya ditahan atau dimarginalkan. Sejak saat itu, gagasan kiri, termasuk anarkisme, menjadi momok. Dilarang, dibungkam, dan diawasi.
Reinkarnasi di Bawah Tanah: Dari Punk ke Perlawanan
Baru pada dekade 1990-an, benih anarkisme mulai tumbuh kembali. Tapi kali ini melalui jalur yang tidak biasa: komunitas punk. Lewat lirik lagu, zine, dan jaringan musik bawah tanah, semangat anti-otoritarian menyebar dari Bandung ke Yogyakarta, lalu ke kota-kota lain.
Komunitas seperti Front Anti-Fasis (FAF) dan Jaringan Anti-Fasis Nusantara (JAFNUS) mulai mengambil bentuk. Aksi-aksi jalanan, solidaritas untuk buruh dan petani, hingga demonstrasi besar May Day menjadi panggung baru anarkisme Indonesia. Organisasi seperti Persaudaraan Pekerja Anarko-Sindikalis (PPAS) bahkan ikut serta dalam gerakan buruh nasional dan protes terhadap Omnibus Law pada 2020.
Meski terus tumbuh, gerakan ini tak lepas dari represi. Polisi menuding mereka sebagai pemicu kerusuhan. Media menampilkan mereka sebagai kelompok misterius dan berbahaya. Spanduk-spanduk pemerintah daerah mengecam anarko-sindikalis secara terang-terangan di ruang publik.
Menyatu dengan Tradisi, Melawan dengan Budaya
Yang sering dilupakan adalah bahwa praktik-praktik anarkis justru memiliki akar dalam budaya lokal Indonesia: gotong royong, solidaritas, dan otonomi komunitas. Masyarakat adat seperti Samin, Kajang, Dayak, dan Kanekes menjalankan kehidupan tanpa hierarki negara dan sering menolak intervensi otoritas formal.
Bagi kaum anarkis Indonesia, agama bukanlah musuh. Di negara yang menolak ateisme, banyak dari mereka justru tetap menjalankan ibadah dan mendukung kelompok agama minoritas seperti Syiah dan Ahmadiyah. Anarkisme mereka lebih cair, lebih kontekstual – tidak sekaku anarkisme ala Eropa.
Gerakan perpustakaan jalanan, dapur umum Food Not Bombs, penerbitan zine dan buku, serta situs seperti Anarkis.org menjadi bagian dari upaya pendidikan alternatif dan penyadaran politik.
Suara Kecil di Tengah Oligarki Besar
Di tengah dominasi partai-partai politik yang dekat dengan oligarki dan konsorsium bisnis, serta semakin menguatnya militerisme, anarkisme tampil sebagai satu dari sedikit suara progresif yang tersisa. Bukan tanpa cacat, bukan tanpa konflik internal. Namun gerakan ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap ketimpangan bisa datang dari bawah, dari jalanan, dari komunitas terkecil sekalipun.
Selama masih ada ketidakadilan, suara anarkis akan terus menggema. Meski lirih, ia tak pernah benar-benar hilang. (Mun)
-
NUSANTARA19/03/2026 21:00 WIBKecelakaan di Tol Batang-Semarang, Dua Orang Tewas
-
EKBIS19/03/2026 22:00 WIBAntisipasi Kemacetan di Jalur Mudik, 95 SPBU Modular Disiagakan
-
NASIONAL19/03/2026 20:30 WIBResmi Pemerintah Tetapkan Idul Fitri pada Sabtu 21 Maret 2026
-
DUNIA19/03/2026 21:30 WIB16 Jet Tempur KF-21 Dari Korea Selatan Siap Dikirim ke Indonesia
-
NUSANTARA20/03/2026 13:30 WIBPuncak Arus Mudik di Jalur Nagreg Sudah Terlewati
-
JABODETABEK19/03/2026 22:30 WIBJasamarga Tambah Jalur Contraflow di Tol Japek
-
RAGAM20/03/2026 14:00 WIBWijaya 80 dan Sal Priadi Rilis Single “Bulan Bintang-Garis Menyilang”
-
NUSANTARA19/03/2026 23:00 WIBSelama Nyepi Berlangsung, Ratusan Pecalang Desa Adat Tuban Berpatroli