OTOTEK
HP Buatan Indonesia Ternyata Dijual di AS dan Eropa
AKTUALITAS.ID – Tidak banyak yang mengetahui bahwa salah satu smartphone yang dijual di pasar global ternyata diproduksi di Indonesia. Ponsel tersebut adalah UP Phone yang dikembangkan oleh startup teknologi asal Siprus, Unplugged.
Perangkat ini dikenal sebagai smartphone yang mengutamakan keamanan dan privasi pengguna. Meski berasal dari perusahaan luar negeri, proses manufakturnya selama ini dilakukan di Indonesia sebelum perusahaan berencana memperluas produksi ke Amerika Serikat.
UP Phone dirancang untuk memberikan perlindungan privasi lebih tinggi dibandingkan smartphone populer di pasaran. Menurut klaim perusahaan, ponsel ini memiliki sistem yang meminimalkan permintaan DNS dari pihak ketiga.
Dalam perbandingan yang dipublikasikan perusahaan, perangkat ini disebut lebih aman dibanding iPhone 16 Pro dari Apple maupun Galaxy S25 milik Samsung.
Dari sisi desain, tampilannya sekilas mirip iPhone dengan modul kamera belakang bergaya “boba”. Layarnya memiliki bezel tipis dengan sisi melengkung, namun tidak dilengkapi fitur Dynamic Island seperti pada perangkat Apple terbaru.
Dari segi performa, ponsel ini ditenagai chipset MediaTek Dimensity 1200 yang dipadukan dengan RAM 8GB dan penyimpanan internal 256GB. Kapasitas memori ini masih dapat diperluas hingga 1TB.
Layarnya berukuran 6,67 inci dengan panel AMOLED. Sementara sektor kamera dibekali sensor utama 108MP, kamera makro 5MP, kamera wide 8MP, serta kamera depan 32MP untuk kebutuhan selfie dan video call.
Untuk daya tahan, perangkat ini menggunakan baterai 4.300 mAh dengan dukungan pengisian cepat 33W melalui kabel dan 15W secara nirkabel.
Selain itu, fitur lainnya meliputi konektivitas Wi-Fi 6, NFC, eSIM, jaringan 5G, sertifikasi IP53, USB Type-C, serta speaker ganda.
Informasi bahwa perangkat ini diproduksi di Indonesia sebelumnya diungkap dalam laporan Reuters pada Agustus 2025 berdasarkan keterangan CEO Unplugged, Joe Well.
Perusahaan menyebutkan selama ini perangkat tersebut diproduksi di Indonesia sebelum memiliki rencana memperluas perakitan di Nevada, Amerika Serikat.
Meski biaya tenaga kerja di AS lebih tinggi, perusahaan tetap mempertimbangkan perakitan di sana dengan tujuan mempertahankan harga jual di bawah US$1.000. Saat ini, perangkat hasil produksi Indonesia dijual sekitar US$989 atau setara Rp16,8 juta.
Menurut perusahaan, produksi smartphone di AS menghadapi sejumlah tantangan, terutama karena rantai pasok komponen masih didominasi oleh negara-negara Asia serta tingginya biaya tenaga kerja domestik.
Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan berencana memproduksi perangkat dalam jumlah lebih kecil namun stabil, serta tidak merilis model baru setiap tahun seperti produsen smartphone pada umumnya.
Langkah ini menjadi bukti bahwa manufaktur teknologi di Indonesia telah mampu berkontribusi pada produksi perangkat yang dipasarkan secara global. (Firmansyah/Mun)
-
JABODETABEK09/05/2026 09:30 WIBRatusan Siswa SD di Cakung Tumbang Usai Santap MBG
-
RAGAM09/05/2026 14:00 WIBAli Shariati dan Api Perlawanan Iran
-
JABODETABEK09/05/2026 06:30 WIBCatat! SIM Keliling Buka di Jakarta Sabtu Ini
-
JABODETABEK09/05/2026 05:30 WIBJakarta Diprediksi Cerah Berawan di Semua Wilayah
-
NASIONAL09/05/2026 06:00 WIBWaka MPR: Jangan Salah Paham Soal Kenaikan BBM
-
POLITIK09/05/2026 07:00 WIBDPR Setuju Hukuman Berat untuk Politik Uang
-
DUNIA09/05/2026 15:00 WIBSaudi Tolak AS Gunakan Wilayah Udara untuk Serang Iran
-
PAPUA TENGAH09/05/2026 11:00 WIBTiti Anggraini: Polisi Lebih Efektif Sikat Politik Uang