Connect with us

NUSANTARA

Tak Punya Uang Beli Buku, Bocah SD di Ngada Berpulang Tinggalkan Pesan Terakhir untuk Ibu

Aktualitas.id -

Ilustrasi, Dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Sebuah peristiwa memilukan terjadi di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang bocah laki-laki berinisial YBS (10), siswa kelas IV Sekolah Dasar, ditemukan tewas gantung diri di dahan pohon cengkih pada Kamis siang (29/1/2026).

Korban ditemukan pertama kali oleh seorang saksi bernama Kornelis Dopo (59) sekitar pukul 11.00 WITA saat hendak mengikat kerbau di sekitar pondok tempat korban tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun.

Di lokasi kejadian, pihak kepolisian menemukan sepucuk surat tulisan tangan korban yang ditujukan untuk ibunya. Surat tersebut ditulis dalam bahasa daerah Ngada yang berisi pesan perpisahan menyayat hati.

“Mama, saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi, jangan menangis ya Mama. Tidak perlu Mama mencari atau merindukan saya. Selamat tinggal Mama,” demikian arti dari pesan tersebut yang diakhiri dengan gambar emoji menangis.

Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus E. Pissort, mengonfirmasi keaslian surat tersebut setelah tim penyidik mencocokkan tulisan korban dengan buku tulis sekolahnya.

Kematian bocah YBS mengungkap sisi kelam kondisi ekonomi keluarga korban. Diketahui, ayah korban telah meninggal dunia sejak korban masih dalam kandungan. Sang ibu berjuang sendirian menafkahi lima orang anak di tengah keterbatasan ekonomi.

Sebelum kejadian nahas tersebut, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pulpen. Namun, karena kondisi keuangan yang tidak memungkinkan, permintaan tersebut tidak dapat dikabulkan.

“Ibu korban sempat memberikan nasihat agar rajin sekolah meskipun kondisi ekonomi keluarga serba kekurangan,” jelas Ipda Benediktus berdasarkan keterangan saksi.

Beberapa jam sebelum ditemukan tewas, saksi Gregorius Kodo dan Rofina Bera sempat melihat korban duduk di bale-bale bambu depan pondok neneknya. Saat ditanya mengapa tidak berangkat ke sekolah, korban hanya menunduk dengan raut wajah sedih tanpa memberikan jawaban.

Saksi mata menyebut korban selama ini memilih tinggal bersama neneknya di pondok kecil karena keterbatasan ruang dan ekonomi di rumah ibunya. Kepergian YBS meninggalkan duka mendalam bagi warga Desa Naruwolo, sekaligus menjadi pengingat tentang pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental anak di tengah himpitan ekonomi.

Pihak kepolisian telah memeriksa sejumlah saksi dan memastikan kejadian ini murni merupakan tindakan mengakhiri hidup sendiri berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP). (Kusuma/Mun)

TRENDING