POLITIK
Golkar Nilai Pilkada Tidak Langsung Ujian bagi Kedewasaan Demokrasi Indonesia
AKTUALITAS.ID – Wacana pengembalian mekanisme Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kembali menghangat di ruang publik. Perdebatan ini dinilai tidak boleh hanya berhenti pada persoalan efisiensi prosedur, melainkan harus menyentuh substansi demokrasi itu sendiri.
Wakil Bendahara Badan Saksi Nasional Partai Golkar (BSNPG), Irma Mayang Sari, mengingatkan bahwa diskursus ini merupakan ujian bagi kedewasaan politik Indonesia. Menurutnya, poin krusial bukan sekadar memilih antara pemilihan langsung atau tidak langsung, tetapi bagaimana sistem politik mampu mencegah penyalahgunaan kekuasaan.
“Wacana pilkada melalui DPRD dinilai sebagai ujian bagi kedewasaan demokrasi Indonesia. Pertanyaan kuncinya bukan hanya mekanisme apa yang dipilih, melainkan sejauh mana sistem politik mampu mencegah penyalahgunaan kekuasaan dan memastikan kepentingan rakyat tetap menjadi orientasi utama,” ujar Irma dalam keterangan pers yang diterima, Sabtu (3/1/2026).
Isu ini membelah opini publik menjadi dua kutub. Di satu sisi, pendukung Pilkada lewat DPRD berargumen bahwa mekanisme ini menawarkan efisiensi anggaran negara yang signifikan, menjaga stabilitas politik, serta mengurangi polarisasi horizontal di akar rumput.
Namun di sisi lain, kritik tajam juga menguat. Pilkada langsung dianggap sebagai “mahkota” reformasi yang memberikan legitimasi politik kuat karena kepala daerah mendapat mandat langsung dari rakyat. Pengembalian ke DPRD dikhawatirkan akan mereduksi partisipasi publik dan memindahkan demokrasi ke ruang negosiasi elite yang tertutup.
Mengutip pemikiran ilmuwan politik Miriam Budiardjo, Irma menegaskan bahwa demokrasi tidak sekadar prosedur, tetapi juga soal kontrol publik.
“Dalam kerangka tersebut, pengurangan ruang partisipasi dikhawatirkan dapat melemahkan kepercayaan publik terhadap sistem politik,” tambahnya.
Menyikapi dinamika tersebut, Partai Golkar melalui Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) 2025 yang dipimpin Ketua Umum Bahlil Lahadalia, mengambil sikap yang mengedepankan kehati-hatian. Partai berlambang pohon beringin ini menilai perlunya kajian konstitusional dan rasional yang mendalam.
Irma menjelaskan bahwa Golkar tidak menutup mata terhadap kelemahan Pilkada langsung (biaya tinggi) maupun risiko politik transaksional pada Pilkada via DPRD.
“Golkar menegaskan setiap perubahan sistem harus ditempuh melalui mekanisme resmi partai dan kerangka konstitusi,” tegas Irma.
Dalam konteks pengawalan demokrasi ini, BSNPG memegang peran strategis. Tidak hanya sebagai instrumen teknis kepemiluan, BSNPG difungsikan sebagai sistem pengawasan internal untuk memastikan integritas proses politik terjaga, terlepas dari mekanisme apa yang kelak diterapkan.
“Demokrasi, menurut pandangan partai, tidak dijalankan melalui kegaduhan opini, melainkan melalui proses institusional yang matang dan berorientasi pada percepatan pembangunan,” pungkasnya. (Firmansyah/Mun)
-
POLITIK28/01/2026 11:00 WIBDPP Prima: Ambang Batas 0 Persen Wujud Nyata Demokrasi Pancasila
-
OTOTEK28/01/2026 10:57 WIBBengkel AC Mobil Tangerang Jadi Rujukan Service AC Mobil Innova di Tangerang, Ahli Tangani Sistem Double Blower
-
NASIONAL28/01/2026 14:00 WIBPNS Wajib Tahu, KPK Terbitkan Perkom No 1 Tahun 2026 Tentang Perubahan Nilai Gratifikasi
-
EKBIS28/01/2026 11:30 WIBHarga Emas Antam Menggila! Naik Rp52.000 Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah
-
NASIONAL28/01/2026 17:11 WIBDua Tahun Bergulir, APH-RI Desak Kejagung Tegaskan Status Hukum Eks Bupati Purwakarta
-
DUNIA28/01/2026 12:00 WIBUEA Tegaskan Tidak Akan Membantu Serangan AS terhadap Iran
-
JABODETABEK28/01/2026 12:30 WIBNasihati Murid Agar Punya Empati, Guru SD di Tangsel Malah Dipolisikan Wali Murid
-
NASIONAL28/01/2026 18:00 WIBDilantik Presiden, Bahlil Jabat Ketua Harian DEN