Connect with us

RAGAM

Dibalik Dukungan Gabung Board of Peace: Menilik Sejarah Pertemuan Menag dan Ketum PBNU dengan AJC

Aktualitas.id -

American Jewish Committee (AJC)

AKTUALITAS.ID – Dukungan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Menteri Agama Nasaruddin Umar terhadap rencana Indonesia bergabung dengan Board of Peace menuai sorotan publik. Perbincangan tersebut mencuat seiring rekam jejak keduanya dalam forum-forum dialog lintas agama yang melibatkan organisasi Yahudi internasional, termasuk American Jewish Committee (AJC) yang dikenal sebagai lembaga pro-Israel.

Isu ini kembali mengemuka setelah rencana seminar AJC di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Juli 2024 menuai kontroversi dan akhirnya dibatalkan. AJC sebelumnya dijadwalkan menghadirkan Direktur Hubungan Muslim–Yahudi AJC, Ari Gordon, sebagai pembicara. Penolakan datang dari berbagai kalangan masyarakat yang menilai agenda tersebut kurang etis di tengah situasi global terkait konflik Palestina–Israel.

Jejak Program AJC di Istiqlal

Berdasarkan penelusuran dari laman resmi ajc.org, Masjid Istiqlal di bawah kepemimpinan Imam Besar Nasaruddin Umar pernah menyelenggarakan sejumlah program peningkatan literasi lintas agama pada 2022 dan 2023. Kegiatan itu meliputi pelatihan virtual bagi pendidik Indonesia tentang pengenalan Yudaisme, kelas lintas agama, serta panel diskusi bertema Pendidikan Lintas Agama dan Antisemitisme dan Islamofobia di Dunia Saat Ini.

Sejumlah materi seminar tersebut sempat dimuat di laman lklb.org, namun artikel berjudul “Islamofobia dan Antisemitisme Punya Kesamaan Ciri, Perlu Ditepis dengan Seperangkat Kompetensi” tidak lagi dapat diakses sejak 21 Juli 2024.

Selain itu, Nasaruddin Umar tercatat pernah mengikuti program fellowship enam minggu yang diselenggarakan AJC bersama Jewish Theological Seminary (JTS) di Amerika Serikat. Program tersebut mencakup studi akademis, pertemuan dengan pejabat pemerintah, serta dialog antaragama dengan berbagai komunitas Yahudi dan lintas iman.

Dalam pernyataannya di situs resmi AJC, Nasaruddin Umar menyebut pentingnya membangun jembatan pemahaman antaragama melalui pendidikan dan dialog. CEO AJC Ted Deutch pun memuji komitmen Nasaruddin Umar terhadap dialog Muslim–Yahudi.

Bantahan dan Klarifikasi

Menanggapi berbagai tudingan, Nasaruddin Umar membantah klaim bahwa dirinya pro-Israel. Ia menegaskan pertemuan dengan tokoh-tokoh Yahudi dilakukan dalam konteks dialog lintas agama dan isu global, termasuk lingkungan dan kemanusiaan.

“Tidak ada urusan Israel di situ. Dialog itu untuk kepentingan umat dan kemanusiaan,” ujar Nasaruddin Umar dalam sebuah acara di Cicalengka, Jawa Barat, Agustus 2024.

Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf juga menanggapi isu kedekatannya dengan Israel. Ia mengakui pernah berkunjung ke Yerusalem pada 2018 dan bertemu sejumlah pejabat Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, namun menegaskan kunjungan tersebut dilakukan dalam kerangka diplomasi kemanusiaan dan advokasi perdamaian.

“Apa yang saya lakukan adalah untuk Palestina, bukan membela Israel,” kata Gus Yahya dalam pernyataannya di Surabaya, November 2025.

Gus Yahya menambahkan, kunjungannya ke Israel bukan hal baru di lingkungan NU dan telah diketahui oleh jajaran PBNU sebelum dirinya terpilih sebagai ketua umum pada Muktamar NU 2021. Ia juga menegaskan tetap berkomitmen menjaga persatuan internal NU dan mencari solusi terbaik bagi organisasi dan bangsa.

AJC dan Isu Global

Dikutip dari situs resminya, American Jewish Committee (AJC) merupakan organisasi global berbasis di Amerika Serikat yang aktif membela Israel dari isu antisemitisme dan mempromosikan hubungan diplomatik Israel dengan negara-negara lain melalui dialog lintas agama. AJC kerap dikritik karena posisinya yang menolak penyebutan tindakan Israel di Palestina sebagai genosida dan menyalahkan Hamas atas eskalasi konflik.

Hingga kini, dukungan terhadap Board of Peace masih menjadi perdebatan di ruang publik. Pemerintah dan tokoh-tokoh terkait menegaskan pendekatan dialog sebagai jalan diplomasi, sementara sebagian masyarakat menuntut kehati-hatian agar kebijakan luar negeri Indonesia tetap sejalan dengan konstitusi dan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version