Berita
Pemerintah Dituding Manipulasi Data Corona, Yuri: Tak Ada Untungnya
AKTUALITAS.ID – Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto angkat bicara soal tudingan manipulasi data kasus virus corona di Indonesia. Dengan tegas, Yurianto menyebut basis data kasus Corona yang selama ini dipaparkan berdasarkan pemeriksaan antigen dengan real time PCR. “Basis data yang sudah dikonfirmasi dari hasil pemeriksaan laboratorium melalui pemeriksaan antigen dengan real-time PCR. […]
AKTUALITAS.ID – Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto angkat bicara soal tudingan manipulasi data kasus virus corona di Indonesia. Dengan tegas, Yurianto menyebut basis data kasus Corona yang selama ini dipaparkan berdasarkan pemeriksaan antigen dengan real time PCR.
“Basis data yang sudah dikonfirmasi dari hasil pemeriksaan laboratorium melalui pemeriksaan antigen dengan real-time PCR. Inilah yang digunakan untuk menyusun untuk melaporkan data kasus sembuh, dan kasus meninggal karena Covid-19. Data inilah yang kami laporkan setiap hari,” kata Yuri dalam konferensi pers melalui akun YouTube BNPB, Kamis, (23/4/2020).
Ia juga menjelaskan, pencatatan jumlah orang dalam pantauan (ODP) dan pasien dalam pantauan (PDP) dihimpun dari tiap-tiap provinsi untuk mengukur kinerja pemerintah dalam rangka menentukan langkah-langkah penanganan pandemi Corona. Itu dilakukan sebagai acuan, seperti distribusi APD, distribusi reagen, dan untuk menentukan jumlah kebutuhan relawan.
“Namun bukan bagian dari data pelaporan ke WHO untuk menggambarkan keadaan pandemi ini di tingkat nasional maupun global,” ujarnya.
Soal kasus-kasus kematian ODP atau PDP yang terkonfirmasi positif dari hasil tes antigen PCR yang sampelnya diambil sebelum yang bersangkutan meninggal, maka kematian itu akan dicatat sebagai kematian kasus terkonfirmasi positif. Namun akan berbeda halnya bila yang bersangkutan belum ditest, maka pihaknya tidak pernah mencatatnya sebagai kasus meninggal karena Covid-19.
“Pada PDP yang meninggal dan belum terkonfirmasi karena belum diambil sampelnya atau pemeriksaan belum selesai maka tata laksana pemulasaraan jenazah dan pemakaman hendaknya sudah mengantisipasi kemungkinan positif COVID-19. Ini penting untuk melindungi petugas pemulasaraan, melindungi keluarga dan petugas pemakaman,” ujar Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Kementerian Kesehatan itu.
Yurianto meminta semua pihak memahami ilustrasi yang ia jelaskan ini. Menurutnya, itu penting demi transparansi data. Ia juga menegaskan pemerintah tak mendapatkan keuntungan dengan manipulasi data terkait kasus virus corona di Tanah Air. “Justru sebaliknya akan merugikan, mengacaukan kerja keras yang selama ini kita bangun bersama,” ujarnya.
-
FOTO06/04/2026 15:53 WIBFOTO: Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir untuk Tiga Prajurit TNI, Pahlawan Perdamaian Dunia Gugur di Misi UNIFIL Lebanon
-
FOTO07/04/2026 12:03 WIBFOTO: Mimika Tampilkan Wajah Toleransi Melalui Parade Paskah Lintas Agama
-
RIAU06/04/2026 21:00 WIBPelaku yang Jambret Anak Yatim di Pekanbaru Diringkus Polisi
-
PAPUA TENGAH06/04/2026 16:00 WIBWarga Bergulat Antre LPG Saat Pasokan Tercekat
-
JABODETABEK06/04/2026 17:00 WIBFokus Ekonomi Kreatif dan Digital, Depok Siap Bangun BLK
-
EKBIS06/04/2026 17:30 WIBJaga Stabilitas Harga, Bulog Sumut Tambah Kuota Penyaluran Beras SPHP
-
NASIONAL06/04/2026 20:30 WIBPeredaran Narkoba di THM Bali, Berhasil Diungkap Bareskrim Polri
-
DUNIA06/04/2026 19:30 WIBIran: Tuntutan Gencatan Senjata AS Disampaikan Lewat Perantara

















