Berita
FBI: China Ancaman Terbesar Ekonomi dan Demokrasi AS
Biro Investigasi Federal (FBI) menganggap China merupakan ancaman terbesar Amerika Serikat saat ini sampai-sampai mereka membuka penyelidikan baru terhadap Negeri Tirai Bambu tiap 10 jam sekali. Begitu besar ancaman China tersebut, hingga kini FBI mengaku sudah membuka lebih dari 2.000 penyelidikan. Direktur FBI, Christopher Wray, menganggap tidak ada negara lain selain China yang memberikan ancaman […]
Biro Investigasi Federal (FBI) menganggap China merupakan ancaman terbesar Amerika Serikat saat ini sampai-sampai mereka membuka penyelidikan baru terhadap Negeri Tirai Bambu tiap 10 jam sekali.
Begitu besar ancaman China tersebut, hingga kini FBI mengaku sudah membuka lebih dari 2.000 penyelidikan.
Direktur FBI, Christopher Wray, menganggap tidak ada negara lain selain China yang memberikan ancaman begitu besar bagi keamanan ekonomi AS dan demokrasi. Ia bahkan menilai kemampuan Beijing untuk mempengaruhi Amerika “dalam, luas, dan gigih.”
Wray mengutarakan hal itu dalam sidang dengar pendapat di Kongres pada Rabu (14/4). Dalam sidang tersebut, Wray mengatakan FBI mengidentifikasi penegakan hukum yang dilakukan pemerintah China secara ilegal di tanah AS. Mereka menyebutnya Operasi Foxhunt.
Wray menuding China melakukan operasi itu sebagai sarana “mengancam, mengintimidasi, melecehkan, dan memeras” diaspora beretnis Tionghoa.
“Ini merupakan indikasi dan ilustrasi betapa menantang dan beragamnya ancaman khusus ini,” kata Wray seperti dikutip CNN.
Dalam sidang itu, turut hadir Direktur Badan Intelijen Nasional AS,AvrilHaines, dan Direktur Badan Pusat Intelijen AS (CIA), William Burns.
Senada dengan Wray, Haines mengatakan bahwa pemerintah China memang “memiliki kemampuan dunia maya” substansial yang jika diterapkan setidaknya dapat menyebabkan gangguan pada infrastruktur penting AS.
Sementara itu, pemerintah China memandang Operasi Foxhunt sebagai kampanye anti-korupsi internasional yang menargetkan buronan Negeri Tirai Bambu.
Buronan China tersebut sering kali merupakan mantan pejabat atau orang kaya yang dicurigai melakukan kejahatan ekonomi.
Kementerian Luar Negeri China membela tindakan intelijennya di luar negeri dengan mencatat bahwa “otoritas penegakan hukum China secara ketat mematuhi hukum internasional.”
Beijing menuduh kritik AS itu memiliki “motif tersembunyi.”
Pernyataan direktur FBI dan CIA ini muncul di tengah ketegangan AS dan China yang terus meningkat di berbagai bidang, seperti isu dugaan pelanggaran HAM terhadap etnis Uighur di Xinjiang, masalah Taiwan, Hong Kong, sengketa Laut China Selatan, hingga perang dagang.
Sidang itu juga berlangsung kurang dari seminggu setelah komunitas intelijen AS merilis dokumen terkait ancaman-ancaman yang saat ini menjadi fokus Negeri Paman Sam. China dan Rusia menjadi prioritas ancaman terbesar AS saat ini.
-
NASIONAL03/04/2026 17:00 WIBEddy Soeparno: Indonesia Harus Lepas Ketergantungan Energi Fosil
-
PAPUA TENGAH03/04/2026 15:15 WIBDisperindag Mimika Pastikan Stok Elpiji Aman, Penjualan Langsung di Gudang untuk Cegah Penimbunan
-
RAGAM03/04/2026 15:30 WIBPenumpang Kereta dari Jakarta Capai 30 Ribu Orang pada Libur Paskah
-
JABODETABEK03/04/2026 16:00 WIBLebaran Betawi 2026 Akan Berlangsung 10-12 April 2026
-
JABODETABEK03/04/2026 18:30 WIBTak Berkutik! Sopir Cabul Ditangkap di Depok
-
NUSANTARA03/04/2026 16:30 WIBSiaga! Semeru Keluarkan Kolom Abu Raksasa
-
DUNIA03/04/2026 19:00 WIBDua Jet Tempur Canggih AS Ditembak Jatuh Iran di Teluk Persia
-
NASIONAL03/04/2026 20:00 WIBJaksa Tak Berkutik! Komisi III DPR Larang Keras Kejari Banding Vonis Bebas Amsal Sitepu