Connect with us

EKBIS

Agresi AS-Israel ke Iran Ancam Selat Hormuz dan Bab el Mandeb, Ekonomi Dunia di Ujung Risiko

Aktualitas.id -

Ilustrasi Konflik Iran vs AS-Israel, pacu ekonomi global.
Ilustrasi Konflik Iran vs AS-Israel, pacu ekonomi global. AI

AKTUALITAS.ID – Konflik Iran Israel memasuki fase baru pada awal Maret 2026 setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap target strategis di Iran memicu eskalasi regional dan respons keras dari Teheran. Konflik Iran Israel kini tidak lagi dipandang sebagai ketegangan bilateral, melainkan ancaman geopolitik yang berpotensi mengguncang stabilitas energi global, terutama di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Dampak konflik Iran Israel langsung terasa pada jalur perdagangan internasional, khususnya Selat Hormuz dan Bab el Mandeb yang menjadi simpul utama distribusi minyak, gas, dan perdagangan kontainer dunia. Jika konflik Iran Israel meluas dan mengganggu dua jalur laut tersebut secara bersamaan, lonjakan harga energi dan tekanan inflasi global hampir tak terhindarkan.

Dua jalur laut sempit di Timur Tengah menyimpan potensi guncangan ekonomi global jauh lebih besar dibanding ukuran geografisnya. Selat Hormuz menjadi lintasan utama ekspor minyak dari negara produsen di kawasan Teluk. Bab el Mandeb menghubungkan Laut Arab dengan Laut Merah dan menjadi akses menuju Terusan Suez yang vital bagi perdagangan Asia dan Eropa. Gangguan bersamaan di dua titik ini berisiko memicu perlambatan ekonomi lintas kawasan.

Menurut data dari U.S. Energy Information Administration, sekitar 20 juta barel minyak per hari melintas di Selat Hormuz, setara hampir seperlima konsumsi minyak dunia. Selain minyak mentah, sebagian besar ekspor gas alam cair dari Qatar menuju Asia dan Eropa juga melewati jalur tersebut. Di sisi lain, seperempat hingga sepertiga perdagangan kontainer global melintasi koridor Bab el Mandeb menuju Terusan Suez.

Pasar energi sangat sensitif terhadap risiko pasokan. Gangguan satu hingga dua minggu yang mengurangi 1 hingga 2 juta barel per hari dari pasar global berpotensi mendorong harga minyak naik 5 hingga 10 persen. Premi asuransi pelayaran dapat melonjak 20 hingga 30 persen, sementara inflasi global terdorong tambahan 0,1 hingga 0,3 persen. Volatilitas meningkat, namun tekanan relatif terkendali jika jalur distribusi segera pulih.

Risiko membesar jika gangguan berlangsung satu hingga tiga bulan dengan penurunan pasokan 3 hingga 5 juta barel per hari. Harga minyak berpotensi menembus kisaran USD 100 hingga USD 120 per barel. Biaya logistik global dapat meningkat 15 hingga 25 persen akibat kapal memutar rute lebih jauh termasuk mengelilingi Afrika. Tambahan tekanan inflasi energi global dapat mencapai 0,5 hingga 1 persen dan mempersempit ruang gerak bank sentral dalam menjaga stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi. Risiko stagflasi kembali menjadi perhatian di sejumlah negara importir energi besar di Asia.

Dalam skenario ekstrem ketika dua chokepoint terganggu secara simultan dan berkepanjangan, lebih dari 15 persen perdagangan dunia terdampak langsung. Harga minyak berpotensi melampaui USD 130 per barel, tarif pengiriman kontainer bisa melonjak dua kali lipat, dan pertumbuhan ekonomi global berisiko terpangkas 0,5 hingga 1 persen. Dalam ekonomi dunia bernilai puluhan triliun dolar, penurunan setengah persen berarti ratusan miliar dolar output hilang.

Secara geografis Iran memiliki posisi strategis di sekitar Selat Hormuz. Tanpa penutupan total yang hampir pasti memicu respons militer internasional, gangguan terbatas saja sudah cukup menciptakan ketidakpastian pasar. Serangan terhadap kapal komersial dapat langsung diterjemahkan pasar sebagai ancaman pasokan dan mendorong harga naik bahkan sebelum terjadi kekurangan fisik.

Dampaknya menjalar hingga ke negara seperti Indonesia yang masih menjadi importir minyak bersih. Setiap kenaikan USD 10 per barel harga minyak mentah dapat memperbesar beban subsidi energi, menekan neraca perdagangan migas, serta memberi tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah. Inflasi impor berpotensi meningkat melalui kenaikan biaya logistik dan distribusi pangan. Jika harga bertahan di atas USD 110 per barel dalam periode panjang, ruang fiskal pemerintah dapat menyempit signifikan.

Ketergantungan global pada sejumlah jalur laut sempit menunjukkan sistem ekonomi dunia masih bertumpu pada efisiensi, bukan ketahanan. Selat Hormuz dan Bab el Mandeb kini menjadi indikator kerentanan tersebut. Gangguan bersamaan di dua titik ini bukan sekadar isu regional, melainkan potensi guncangan lintas benua yang menjalar dari harga energi hingga stabilitas pasar keuangan global. (red)

TRENDING

Exit mobile version