DUNIA
Drone Murah Iran Bikin AS dan Israel Kewalahan
AKTUALITAS.ID – Memasuki hari ke-13 konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada Kamis (12/3/2026), belum ada tanda-tanda perang akan mereda. Salah satu faktor yang membuat konflik semakin kompleks adalah penggunaan drone murah oleh Iran yang dinilai efektif mengganggu sistem pertahanan lawannya.
Iran dilaporkan telah mengerahkan lebih dari 2.000 drone jenis Shahed-136. Drone kamikaze ini digunakan untuk menyerang berbagai target strategis, mulai dari sistem radar, bandara, hingga fasilitas yang terkait dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Strategi penggunaan drone murah tersebut membuat militer Amerika Serikat harus mengaktifkan sistem pertahanan udara yang sangat mahal untuk menangkis serangan tersebut.
Ketua Kepala Staf Gabungan militer AS, Dan Caine, menyebut kendaraan nirawak Iran telah menjadi ancaman nyata bagi Washington.
Meski sistem pertahanan udara Amerika Serikat mampu menembak jatuh sejumlah drone tersebut, para pengamat menilai situasi ini tetap merugikan AS karena harus menggunakan rudal mahal untuk menghancurkan drone yang jauh lebih murah.
Beberapa laporan menyebut harga satu rudal jelajah Tomahawk missile bisa mencapai 2 hingga 3 juta dolar AS. Sementara drone Shahed-136 diperkirakan hanya bernilai sekitar 20.000 hingga 50.000 dolar AS.
Sejumlah media Amerika melaporkan perang melawan Iran menguras biaya yang sangat besar. Menurut laporan Politico, Pentagon dapat menghabiskan hingga 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp33 triliun per hari untuk operasi militer.
Sementara laporan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan biaya amunisi saja mencapai sekitar 758 juta dolar AS per hari.
Di sisi lain, Iran dinilai mampu mempertahankan tekanan terhadap lawannya dengan biaya yang jauh lebih kecil berkat penggunaan drone murah dan taktik asimetris.
Para analis militer menilai Iran kemungkinan menerapkan strategi perang atrisi, yaitu taktik yang bertujuan menguras sumber daya ekonomi dan militer lawan dalam jangka panjang.
Strategi ini tidak berfokus pada kemenangan cepat di medan perang, melainkan menciptakan tekanan ekonomi dan psikologis melalui konflik yang berlangsung lama.
Dengan pendekatan tersebut, Iran dinilai berusaha membuat lawannya mengeluarkan biaya perang yang sangat besar tanpa harus terlibat langsung dalam pertempuran konvensional berskala besar. (Mun)
-
JABODETABEK14/03/2026 10:30 WIBDishub DKI Hentikan CFD Jakarta saat Libur Lebaran
-
NASIONAL14/03/2026 13:00 WIBAhmad Sahroni: Polisi Harus Transparan soal Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
-
DUNIA14/03/2026 12:00 WIBCENTCOM Pastikan 6 Awak KC-135 Tewas dalam Kecelakaan
-
NASIONAL14/03/2026 14:00 WIBMenag: Umat Islam Dua Kali Rugi Jika Boikot Produk Pro-Israel
-
FOTO15/03/2026 02:42 WIBFOTO: Nurani Astra Serahkan 20 Unit Ambulans untuk Penanganan Bencana Aceh dan Sumatra
-
DUNIA14/03/2026 15:00 WIBIran: Perang Tak Bisa Dimenangkan dengan Cuitan
-
OTOTEK14/03/2026 12:30 WIBPolisi Ungkap Modus Smishing yang Bisa Curi Data Pribadi
-
NUSANTARA14/03/2026 14:30 WIBKebakaran Lahan Gambut di Kampar Masih Sulit Dikendalikan

















