EKBIS
Wamen ESDM Jajaki Impor Minyak di Luar Timur Tengah
AKTUALITAS.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia melalui Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menjajaki pengalihan impor minyak dari luar kawasan Timur Tengah.
Langkah ini dilakukan sebagai strategi menjaga ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah.
Menurut Yuliot, salah satu negara yang sedang dijajaki adalah Amerika Serikat melalui kerangka kerja sama Agreement on Reciprocal Trade (ART). Sejumlah perusahaan energi global seperti ExxonMobil dan Chevron diharapkan dapat menjadi pemasok minyak mentah maupun bahan bakar minyak (BBM) jadi untuk Indonesia.
Namun demikian, Yuliot menegaskan bahwa rencana tersebut masih dalam tahap negosiasi dan belum menghasilkan kesepakatan final dengan negara mana pun.
Kebijakan diversifikasi ini muncul seiring terganggunya pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan sekutunya, serta berdampak pada jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz.
Saat ini, sekitar 20 persen kebutuhan BBM Indonesia masih dipasok dari Arab Saudi melalui jalur tersebut. Kondisi ini dinilai berisiko terhadap stabilitas pasokan jika konflik berkepanjangan.
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa Indonesia membuka peluang impor energi dari berbagai negara, tanpa membatasi sumber tertentu.
Selain Amerika Serikat, pemerintah juga mempertimbangkan opsi impor dari Rusia, menyusul potensi pelonggaran akses perdagangan energi global. Negara lain seperti Brunei Darussalam juga masuk dalam radar kerja sama, terutama dalam pengembangan gas C3 dan C4 sebagai bahan baku LPG.
Menurut Bahlil, prioritas utama pemerintah adalah memastikan ketersediaan energi dengan harga yang kompetitif di tengah ketidakpastian global.
Selain diversifikasi impor, pemerintah juga terus memperkuat cadangan energi nasional serta mendorong optimalisasi sumber daya dalam negeri guna mengurangi ketergantungan pada impor.
Langkah ini diharapkan dapat menjaga stabilitas pasokan energi sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang terus berkembang. (Bowo/Mun)
-
OTOTEK18/03/2026 18:30 WIBSatu Lagi Produksi Mobil Listrik “Tumbang”
-
NASIONAL18/03/2026 21:00 WIBDPR Minta Kasus Andrie Yunus Diusut Tuntas hingga Aktor Intelektual
-
RIAU18/03/2026 16:00 WIBKunjungi TNTN, Kapolri Bersama Rombongan Menteri Bahas Penyelamatan Gajah Sumatera
-
EKBIS18/03/2026 16:30 WIB32,3 Juta KPM, Peroleh Bantuan Beras dan Minyak Goreng dari Bulog
-
DUNIA18/03/2026 22:30 WIBKedubes AS di Baghdad Diserang Tiga Drone
-
PAPUA TENGAH18/03/2026 18:00 WIBPendulang Perempuan Ditemukan Tewas di Sungai Mile 30 Freeport
-
PAPUA TENGAH18/03/2026 17:00 WIBSidak SPBU, Pertamina dan Disperindag Pastikan BBM Subsidi Benar-benar Dinikmati Masyarakat
-
EKBIS18/03/2026 23:00 WIBWarga Diingatkan Tak “Panic Buying” Saat Beli BBM

















