Connect with us

EKBIS

Bahlil Buka Pintu Impor Minyak dari Negara Mana Saja

Aktualitas.id -

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia,

AKTUALITAS.ID – Langkah mengejutkan Arab Saudi yang mendadak mengobral harga minyak mentahnya untuk pasar Asia langsung memicu reaksi cepat dari Pemerintah Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan Indonesia siap menampung minyak mentah dari negara mana pun, asalkan harganya murah dan menguntungkan kas negara.

Sikap tegas ini disampaikan Bahlil merespons manuver Saudi Aramco yang baru saja memangkas Harga Jual Resmi (OSP) minyak mentah mereka untuk pengiriman November 2026.

“Bagi kita adalah dari manapun sumber minyaknya, selama itu efisien untuk kebaikan negara, dan tidak melanggar aturan, maka itu akan menjadi prioritas negara,” tegas Bahlil usai Rakernas III Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) di Jakarta, Senin (12/10).

Pemangkasan harga yang dilakukan Arab Saudi ini menjadi sorotan dunia karena sukses membalikkan ekspektasi pasar. Sebelumnya, para analis memprediksi harga minyak Arab Light untuk Asia justru akan melonjak hingga US$5 per barel pada November. Namun faktanya, Saudi Aramco malah membanting harga hingga US$3 per barel di bawah rata-rata harga Oman dan Dubai.

Tidak tanggung-tanggung, diskon ini tercatat sebagai pemangkasan terbesar sejak Juni 2020. Bahkan, untuk jenis Arab Medium dan Arab Heavy, harganya disunat hingga US$5 per barel.

Tiga sumber dari sektor kilang Asia membocorkan bahwa aksi ‘bakar harga’ ini terpaksa dilakukan Arab Saudi untuk mengompensasi melonjaknya biaya pengiriman. Diskon tersebut menjadi pelipur lara bagi pembeli di Asia yang harus menanggung waktu tunggu dan perjalanan pengiriman yang lebih panjang melalui Pelabuhan Sidi Kerir di Mesir.

Bagi Indonesia, momentum ini menjadi peluang emas untuk mengamankan pasokan energi tanpa membuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) jebol.

Prinsip pemerintah saat ini jelas: siapa yang berani memberi harga paling kompetitif, dia yang akan dipilih. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, Indonesia tercatat rajin menyedot pasokan minyak mentah dari berbagai negara, mulai dari Nigeria, Amerika Serikat, hingga Rusia. Kini, dengan diskon besar-besaran dari Timur Tengah, peta impor minyak energi domestik berpotensi kembali bergeser mencari titik yang paling menyelamatkan dompet negara. (Firman/Mun)

TRENDING

Exit mobile version