OASE
Surat Al-Humazah: Peringatan bagi Mereka yang Suka Mengumpat dan Mengumpulkan Harta
AKTUALITAS.ID – Dalam kehidupan sosial, menjaga lisan dan perilaku adalah kewajiban setiap Muslim. Islam melarang keras perbuatan mencela, mengumpat, hingga menimbun harta tanpa menunaikan haknya. Peringatan keras ini terangkum jelas dalam Al-Qur’an Surat Al-Humazah ayat 1-9.
Surat ke-104 dalam Al-Qur’an ini tergolong surah Makkiyah. Nama “Al-Humazah” sendiri diambil dari ayat pertama yang berarti pengumpat. Pokok utama surat ini adalah ancaman Allah SWT terhadap perilaku tercela dan kecintaan berlebihan terhadap dunia yang melalaikan akhirat.
Lantas, bagaimana tafsir mendalam mengenai surat ini dan siapakah yang dimaksud dengan pengumpat yang diancam Neraka Huthamah? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Asbabun Nuzul: Latar Belakang Turunnya Surat
Setiap ayat Al-Qur’an memiliki konteks sejarah atau Asbabun Nuzul. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Utsman dan Ibnu Umar, surat ini turun berkaitan dengan perilaku Ubay bin Khalaf.
Sementara itu, dalam riwayat Ibnu Mundzir dari Ibnu Ishak, disebutkan bahwa surat ini turun merespons sikap Umayyah bin Khalaf. Dikisahkan, setiap kali Umayyah bertemu dengan Rasulullah SAW, ia selalu mengumpat dan mengejek beliau. Allah SWT kemudian menurunkan surat ini sebagai peringatan keras atas perilaku tersebut.
Bacaan dan Arti Surat Al-Humazah
Sebelum membedah tafsirnya, berikut adalah bacaan Surat Al-Humazah ayat 1-9 beserta artinya:
Wailul likulli humazatil lumazah. Alladzii jama’a maalaaw wa’addadah. Yahsabu anna maalahuu akhladah. Kallaa layumbadzanna fil huthomah. Wamaa adrooka mal huthomah. Naarulloohil muuqodah. Allatii taththoli’u ‘alal af’idah. Innahaa ‘alaihim mu’shodah. Fii ‘amadim mumaddadah.
Artinya:
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.”
Tafsir Mendalam: Siapakah Humazah dan Lumazah?
Dalam tafsir ayat pertama, terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai makna spesifik Humazah dan Lumazah, namun intinya merujuk pada perilaku menyakiti orang lain.
Ibnu Abbas menafsirkan humazah lumazah sebagai orang yang menjatuhkan orang lain dengan celaan.
Ar-Rabi’ ibnu Anas menjelaskan bahwa al-humazah adalah mengejek di hadapan orangnya (secara langsung), sedangkan lumazah berarti mengejek dari belakang (ghibah).
Qatadah berpendapat humazah lumazah adalah orang yang mencela dengan lisan dan matanya, serta gemar mengumpat.
Mujahid memberikan detail fisik: Humazah berarti mengumpat dengan isyarat tangan dan mata, sedangkan Lumazah dengan lisan.
Bahaya Harta yang Melalaikan (Ayat 2-4)
Ayat kedua menyoroti profil manusia yang hubbuddunya (cinta dunia). Mereka terus menerus mengumpulkan harta dan menghitungnya tanpa henti, namun enggan menginfakkannya di jalan Allah.
Muhammad Ibnu Ka’ab menjelaskan bahwa orang seperti ini terlena dengan hartanya. Pada siang hari ia sibuk menghitung kekayaan, namun di malam hari ia tidur bagaikan bangkai yang membusuk (tidak beribadah).
Manusia sering kali terjebak delusi bahwa hartanya akan membuatnya kekal (ayat 3). Namun, Allah membantah keras prasangka tersebut pada ayat ke-4 dengan kata “Kalla” (sekali-kali tidak). Harta tidak akan menyelamatkan mereka dari kematian, justru perilaku tamak tersebut akan mengantarkan mereka dilempar ke dalam Huthamah.
Mengerikannya Neraka Huthamah (Ayat 5-9)
Apa itu Huthamah? Al-Qur’an menggambarkannya sebagai api Allah yang dinyalakan dan membakar hingga ke hati (af’idah).
Sabit Al-Bannani dalam tafsirnya menyebutkan bahwa api ini membakar penghuninya dalam keadaan hidup-hidup hingga mencapai jantung. Muhammad Ibnu Ka’ab Al-Qurazi menambahkan, api Huthamah melahap seluruh tubuh hingga batas tenggorokan, kemudian kembali lagi membakar dari awal secara berulang-ulang.
Penderitaan tersebut diperparah dengan kondisi neraka yang tertutup rapat (ayat 8). Ibnu Murdawaih meriwayatkan bahwa pintu neraka dikunci mati sehingga tidak ada celah bagi para pengumpat dan penimbun harta untuk melarikan diri.
Pada ayat terakhir disebutkan “diikat pada tiang-tiang yang panjang”. Menurut Attiyah Al-Aufi, tiang tersebut terbuat dari besi. Para penghuni neraka ini dipasung, leher dibelenggu, dan pintu ditutup rapat, meninggalkan mereka dalam azab yang kekal akibat lisan dan ketamakan mereka selama di dunia.
Semoga kita semua terhindar dari sifat-sifat tercela tersebut dan senantiasa menggunakan lisan serta harta di jalan yang diridhai Allah SWT. (Mun)
-
JABODETABEK31/01/2026 07:30 WIBDaftar 29 RT yang Masih Terendam di Jakarta per 31 Januari 2026
-
JABODETABEK31/01/2026 05:30 WIBBMKG Peringatkan Potensi Hujan Petir di Jakarta Sabtu 31 Januari
-
DUNIA31/01/2026 08:00 WIBAncam Gempur Habis-habisan, Trump Beri 2 Ultimatum Keras ke Iran
-
NUSANTARA31/01/2026 06:30 WIBPolres Boyolali Tangkap Perampok Sadis yang Tewaskan Bocah 6 Tahun dalam Kurang dari 24 Jam
-
POLITIK31/01/2026 07:00 WIBJokowi: Prabowo-Gibran Akan Terus Mendukung Dua Periode
-
EKBIS31/01/2026 10:30 WIBPertamina Turunkan Harga BBM Nonsubsidi, Ini Daftar Harga Terbaru
-
POLITIK31/01/2026 14:47 WIBPartai Gema Bangsa: Ambang Batas Tinggi Hilangkan Keterwakilan Suara Pemilih
-
OASE31/01/2026 05:00 WIBBagaimana Manusia Diciptakan? Simak Tafsir Lengkap Surat Al Insan Ayat 1-4

















