Connect with us

RAGAM

Studi Thomsen dan Temuan Wabar Menghidupkan Misteri Hajar Aswad

Aktualitas.id -

Ilustrasi, Dok: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Hajar Aswad, batu suci yang dikenal umat Muslim sejak zaman Nabi Ibrahim, kembali memicu rasa ingin tahu para peneliti asing. Sejumlah studi dan pengamatan sejarah menyingkap kemungkinan asal-usul batu ini, mulai dari hipotesis meteorit hingga penafsiran religius yang meyakini asalnya dari surga.

Sejumlah ahli menyorot bukti geologis dan catatan sejarah yang menunjukkan adanya jejak meteorit di sekitar Ka’bah. Dalam studi klasiknya, E. Thomsen mengutip penemuan kawah tumbukan meteor Wabar oleh peneliti Philby pada 1932, yang menunjukkan fragmen batuan bercampur silika dan nikel di gurun sekitar Al-Hadidah. Ciri-ciri fragmen tersebut – lapisan putih di bagian dalam yang tertutup cangkang hitam – dinilai mirip dengan deskripsi Hajar Aswad dalam beberapa catatan sejarah.

Thomsen berpendapat bahwa warna hitam pada batu kemungkinan berasal dari kandungan nikel dan ferum yang terbentuk akibat ledakan di luar angkasa. Sementara itu, bintik-bintik putih yang terlihat pada Hajar Aswad disebut sebagai sisa kaca dan pasir yang melebur saat tumbukan meteor. Menurut teori ini, lapisan putih yang awalnya ada kemudian terkikis sehingga menyisakan permukaan hitam yang kita kenal sekarang.

Namun, hipotesis meteorit tidak lepas dari kritik. Para penentang menunjukkan beberapa kelemahan, seperti sifat meteorit yang tidak mudah pecah menjadi fragmen kecil dan kerentanan terhadap erosi, sehingga sulit menjelaskan beberapa karakter fisik Hajar Aswad. Selain itu, ada pula tradisi keagamaan yang menegaskan bahwa Hajar Aswad memiliki asal usul ilahi, sebuah keyakinan yang tetap dihormati oleh jutaan jamaah.

Penelitian lain mencoba menelusuri usia batu tersebut dan jalur pergerakannya. Beberapa peneliti menyebut kemungkinan batu dibawa ke Makkah melalui rute perdagangan dari wilayah Oman, sesuai rentang pengamatan Arab kuno. Meski demikian, hingga kini belum ada konsensus ilmiah yang mampu membuktikan asal-usul Hajar Aswad secara definitif.

Para ilmuwan menekankan perlunya studi lanjutan yang menggabungkan metode geokimia modern, analisis isotop, dan kajian sejarah material untuk mendekati jawaban yang lebih akurat. Sementara itu, Hajar Aswad tetap menjadi simbol religius yang sarat makna bagi umat Muslim di seluruh dunia, sekaligus objek penelitian yang memancing dialog antara ilmu pengetahuan dan tradisi.

Asal-usul Hajar Aswad masih menyisakan misteri. Bukti-bukti geologis membuka kemungkinan meteorit, namun keterbatasan data dan dimensi religius membuat pertanyaan ini tetap terbuka. Perkembangan penelitian berikutnya diharapkan dapat memberi pencerahan tanpa mengurangi nilai spiritual batu suci tersebut. (Yan Kusuma/Mun)

TRENDING