Connect with us

RAGAM

Muhammadiyah dan Pemerintah Berbeda dalam Menetapkan Awal Ramadan

Aktualitas.id -

Ilustrasi, Dok: aktualits.id

AKTUALITAS.ID – Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Keputusan tersebut diumumkan oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah berdasarkan hisab hakiki Majelis Tarjih dan Tajdid yang berpedoman pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Penetapan itu tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 dan telah diumumkan sejak Oktober 2025 melalui situs resmi Muhammadiyah.

Secara astronomis, ijtimak menjelang Ramadan diperkirakan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12:01:09 UTC. Saat matahari terbenam di hari tersebut, kriteria visibilitas hilal disebut belum terpenuhi di wilayah Indonesia, Makkah, maupun Turki.

Namun, berdasarkan perhitungan KHGT, setelah tengah malam UTC terdapat wilayah di daratan Amerika yang telah memenuhi syarat munculnya hilal. Karena KHGT menganut prinsip kesatuan matla’ secara global, keterpenuhan parameter di satu wilayah dunia berlaku untuk seluruh bumi.

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo, menjelaskan bahwa dengan metode KHGT, terlihat atau tidaknya hilal di Indonesia bukan menjadi penentu.

“Kalau masih memakai wujudul hilal lokal, Indonesia memang akan memulai Ramadan pada 19 Februari. Tetapi karena kita sudah menggunakan KHGT, maka keterpenuhan parameter di Alaska itu ditransfer secara global,” ujarnya.

Pemerintah Gelar Sidang Isbat 17 Februari

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia akan menetapkan awal Ramadan melalui sidang isbat pada Selasa, 17 Februari 2026, bertepatan dengan 29 Syaban 1447 H.

Sidang akan dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, mulai pukul 16.00 WIB.

Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, mengatakan pemerintah menggunakan pendekatan integrasi hisab dan rukyatulhilal dalam menentukan awal bulan Hijriah.

“Kementerian Agama menggunakan pendekatan integrasi hisab dan rukyat. Ini penting untuk merangkul seluruh pendekatan yang berkembang di masyarakat, sekaligus menjaga persatuan umat,” ujarnya.

Sidang isbat akan melalui tiga tahapan, yakni pemaparan data posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi, verifikasi hasil rukyatul hilal dari 37 titik pemantauan di Indonesia, serta musyawarah dan pengambilan keputusan.

Prediksi Awal Ramadan 19 Februari

Di sisi lain, Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Aceh memperkirakan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, karena posisi hilal pada 17 Februari masih berada di bawah ufuk.

Prediksi serupa disampaikan Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin. Ia menilai kemungkinan awal Ramadan terbagi menjadi dua tanggal, yakni 18 dan 19 Februari 2026, akibat perbedaan kriteria hilal.

Menurut Thomas, posisi hilal saat magrib 17 Februari belum memenuhi kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) yang mensyaratkan tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Masyarakat pun diimbau menunggu hasil sidang isbat pemerintah untuk kepastian awal Ramadan 1447 Hijriah, sesuai ketentuan dan fatwa yang berlaku. (Kusuma/Mun)

TRENDING

Exit mobile version